Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

SD Negeri 21 Payakumbuh, Menguatkan Karakter siswa melalui Ekspresi Religius

Novitri Selvia • Kamis, 5 Maret 2026 | 12:07 WIB

Rahmi Indri Yasya, S.Pd, Guru SDN 21 Payakumbuh
Rahmi Indri Yasya, S.Pd, Guru SDN 21 Payakumbuh

PADEK.JAWAPOS.COM-Di antara riuh dunia yang kian bising, ada suara-suara kecil yang memilih berbicara tentang kebaikan. Suara itu tidak keras, tidak pula menggebu-gebu.

Ia mengalun lembut, menyentuh, dan sarat makna. Suara itu lahir dari hati anak-anak yang sedang belajar memahami hidup melalui ayat-ayat suci dan bait-bait puisi.

Siswa-siswi SDN 21 Payakumbuh berkesempatan menampilkan Musabaqah Syarhil Qur’an (MSQ) dan puisi religi dalam program Safasindo Ceria di Safasindo FM.

Namun kegiatan ini sejatinya bukan sekadar tentang tampil di ruang siar. Ia adalah perjalanan panjang pembinaan karakter tentang bagaimana anak-anak belajar menata hati, menguatkan mental, dan memaknai pesan-pesan Ilahi.

Musabaqah Syarhil Qur’an bukan hanya seni berbicara. Ia adalah seni memahami dan menyampaikan kebenaran dengan santun.

Dalam proses latihan, anak-anak tidak hanya diajarkan teknik vokal dan artikulasi. Mereka diajak menyelami makna ayat, merenungi kandungan pesan, lalu mengemasnya dalam bahasa yang indah dan mudah dipahami.

Dari sana tumbuh kesadaran bahwa Al Quran bukan sekadar untuk dihafal, tetapi untuk dihidupkan dalam sikap dan perbuatan.

Setiap latihan mengajarkan disiplin. Datang tepat waktu, mengulang materi dengan tekun, menerima koreksi dengan lapang dada.

Anak-anak belajar bahwa keberhasilan tidak datang secara instan. Ia lahir dari kesungguhan dan kerja sama.

Dalam MSQ, mereka berdiri bukan sebagai individu yang ingin menonjolkan diri, melainkan sebagai tim yang saling melengkapi. Di sana tertanam nilai tanggung jawab, kebersamaan, dan saling menghargai.

Sementara itu, puisi religi yang mereka lantunkan menjadi ruang untuk menumbuhkan kepekaan rasa. Di balik setiap bait, ada penghayatan.

Di balik setiap jeda, ada renungan. Anak-anak belajar bahwa kata-kata memiliki kekuatan. Bahwa suara yang diucapkan dengan hati mampu mengetuk hati yang lain.

Melalui puisi, mereka belajar tentang empati merasakan harapan, kerinduan, dan cinta kepada Sang Pencipta.

Rasa gugup tentu hadir. Tangan yang sedikit bergetar, napas yang terasa lebih cepat, dan jantung yang berdegup tak biasa.

Namun justru di situlah karakter ditempa. Mereka belajar mengelola rasa takut, mengubahnya menjadi keberanian.

Mereka memahami bahwa percaya diri bukan berarti tanpa rasa cemas, tetapi mampu berdiri teguh meski ada kegamangan. Guru-guru yang membimbing pun menyadari bahwa proses inilah inti dari pendidikan.

Pendidikan bukan hanya tentang angka dan nilai akademik. Ia adalah tentang membentuk jiwa yang kuat, akhlak yang mulia, serta keberanian untuk menyuarakan kebaikan.

Penampilan di radio hanyalah satu titik kecil dalam perjalanan panjang itu. Yang lebih besar adalah perubahan yang tumbuh perlahan dalam diri anak-anak.

Kegiatan ini menjadi bagian dari komitmen sekolah dalam menanamkan pendidikan karakter berbasis nilai-nilai keagamaan.

Anak-anak dibiasakan untuk mencintai Al Quran, menghormati proses, serta menjunjung adab dalam setiap kesempatan. Mereka diajak memahami bahwa setiap kata yang terucap adalah cerminan diri. Bahwa setiap penampilan adalah amanah.

Di tengah tantangan zaman yang begitu cepat berubah, upaya menanamkan nilai religius, disiplin, tanggung jawab, dan percaya diri menjadi semakin penting.

Anak-anak perlu ruang untuk belajar berbicara tentang kebaikan. Mereka perlu pengalaman untuk merasakan bahwa menyampaikan pesan moral adalah sesuatu yang membanggakan.

Suara-suara kecil itu mungkin hanya terdengar sesaat di udara. Namun makna yang dibawanya tidak akan hilang begitu saja.

Ia akan menetap dalam diri mereka menjadi kenangan, menjadi pelajaran, menjadi pijakan untuk langkah-langkah berikutnya.

Dari ruang latihan yang sederhana hingga momen penampilan yang penuh harap, anak-anak SDN 21 Payakumbuh telah belajar satu hal penting bahwa kebaikan harus disuarakan.

Bahwa ayat-ayat suci dan bait-bait puisi bukan sekadar rangkaian kata, melainkan cahaya yang membimbing hati.

Dan dari sana, perlahan namun pasti, tumbuh generasi yang tidak hanya cerdas dalam berpikir, tetapi juga lembut dalam bersikap dan kokoh dalam memegang nilai.

Sebuah harapan yang disemai melalui suara-suara yang lahir dari hati, dan kembali mengetuk langit.(Rahmi Indri Yasya, S.Pd, Guru SDN 21 Payakumbuh)


Editor : Novitri Selvia
#SD Negeri 21 Payakumbuh #Rahmi Indri Yasya #Ekspresi Religius