Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

SMP Negeri 30 Padang, Akhir Hayat Praktik Penyelenggaraan Jenazah di Musala Sakinah

Novitri Selvia • Senin, 9 Maret 2026 | 09:05 WIB

PRAKTIK: Siswa SMPN 30 Padang saat melakukan praktik penyelenggaraan jenazah di Musala Sakinah.(Tim laman guru)
PRAKTIK: Siswa SMPN 30 Padang saat melakukan praktik penyelenggaraan jenazah di Musala Sakinah.(Tim laman guru)

PADEK.JAWAPOS.COM-Di tengah hiruk-pikuk modernitas dan dunia digital yang serba cepat, ada satu realitas yang pasti akan dihadapi oleh setiap manusia: kematian.

Namun, seberapa siapkah generasi muda kita menghadapi realitas tersebut, terutama dalam menjalankan kewajiban terakhir terhadap sesama Muslim?

Di Musala Sakinah, pertanyaan ini tidak dijawab dengan ceramah panjang lebar di atas mimbar, melainkan melalui sebuah praktik nyata yang menyentuh hati dan pikiran para siswa.

Minggu ini, suasana Pesantren Ramadhan di Musala Sakinah terasa lebih khidmat sekaligus mendebarkan.

Kami menghadirkan materi yang sangat krusial namun sering kali dihindari karena dianggap tabu atau menakutkan, yaitu Penyelenggaraan Jenazah.

Dengan sub-tema memandikan dan mengafani jenazah, materi ini menjadi magnet bagi para santri karena disajikan dengan metode yang sangat otentik: menggunakan alat dan bahan asli, serta praktik langsung di depan mata.

Ustadz Syafrianto: Menghidupkan Materi di Atas Kain Kafan Hadir sebagai pemateri, Ustadz Syafrianto, S.Th.I, membawa suasana belajar yang sangat interaktif.

Beliau tidak hanya membawa teori dari buku, tetapi langsung membentangkan kain kafan putih yang masih baru di tengah ruangan.

Bau harum kapur barus mulai memenuhi udara Musala Sakinah, memberikan sensasi nyata tentang prosesi pemulasaraan jenazah yang sesungguhnya.

Momen paling menarik adalah ketika Ustadz Syafrianto meminta salah seorang santri untuk menjadi sukarelawan, berpura-pura menjadi jenazah.

Keberanian santri ini menjadi kunci pembuka rasa ingin tahu teman-temannya.

Dengan penuh ketelitian, Ustadz Syafrianto mendemonstrasikan bagaimana cara memotong kain kafan dengan ukuran yang tepat, membuat macam-macam lapisan kain yang disyariatkan, hingga cara membuat tali pengikat yang benar.

Para santri tidak hanya menonton. Mereka diajak untuk ikut memegang kain, belajar memotong, dan membantu proses pembungkusan "jenazah" tersebut.

Mereka diajarkan bagaimana cara meletakkan kapas di titik-titik tertentu, menyusun lapisan demi lapisan, hingga teknik membungkus yang rapi sampai "mayat" tersebut siap untuk dishalatkan dan dikuburkan.

Sebagai pembimbing, saya melihat ada perubahan ekspresi yang luar biasa pada wajah para siswa. Awalnya, mungkin ada rasa canggung atau sedikit takut.

Namun, karena mereka terlibat langsung dalam memegang bahan asli dan melakukan gerakannya sendiri, rasa takut itu berubah menjadi pemahaman yang mendalam.

Mereka menjadi mengerti bahwa menyelenggarakan jenazah adalah bentuk penghormatan terakhir yang penuh kasih sayang dan adab.

Inilah esensi dari pendidikan yang bermakna. Selama ini, banyak siswa yang mungkin hanya tahu secara teori bahwa mengurus jenazah adalah Fardhu Kifayah.

Namun, melalui praktik di Musala Sakinah ini, mereka benar-benar paham "bagaimana" melakukannya. Mereka belajar tentang ketelitian, kehati-hatian, dan doa-doa yang harus dipanjatkan dalam setiap langkahnya.

Penggunaan kain kafan asli memberikan pengalaman sensorik yang tidak bisa digantikan oleh video atau gambar di slide presentasi.

Lebih dari sekadar keterampilan teknis, materi yang dibimbing oleh Ustadz Syafrianto ini menanamkan rasa empati yang mendalam.

Para santri belajar bahwa suatu saat nanti, mereka mungkin akan berada dalam posisi sebagai orang yang harus mengurus jenazah orang tua, saudara, atau tetangga mereka. Keterampilan ini adalah warisan karakter yang sangat berharga.

Anak-anak didik kita menjadi sadar bahwa hidup ini ada batasnya, dan mempersiapkan bekal terbaik adalah sebuah keharusan.

Di sela-sela praktik, Ustadz Syafrianto juga menyelipkan pesan-pesan moral tentang pentingnya mengingat kematian sebagai pengontrol perilaku sehari-hari.

Pelajaran ini menjadi sangat relevan di bulan Ramadhan, bulan di mana kita diajak untuk lebih banyak bermuhasabah atau melakukan evaluasi diri.

Kegiatan hari ini di Musala Sakinah membuktikan bahwa materi agama yang dianggap "berat" bisa menjadi sangat menarik dan menyenangkan jika dikemas dengan metode yang tepat.

Santri-santri kami pulang dengan wajah puas karena mereka merasa telah menguasai satu ilmu penting yang selama ini mungkin hanya mereka dengar lamat-lamat.

Kami berharap, pengalaman memandikan dan mengafani jenazah ini akan terus membekas di ingatan mereka.

Kami ingin mereka menjadi generasi yang tidak hanya cerdas secara akademis, tetapi juga cekatan dan berani dalam menjalankan tugas-tugas keagamaan di tengah masyarakat kelak.

Terima kasih kepada Ustadz Syafrianto, S.Th.I yang telah memberikan pencerahan, dan apresiasi luar biasa untuk para santri yang telah belajar dengan penuh kesungguhan.

Dari Musala Sakinah, kita belajar bahwa persiapan untuk akhir hayat adalah bagian dari cara kita menghargai kehidupan itu sendiri.(Zahratil Husna, Guru SMPN 30 Padang)

Editor : Novitri Selvia
#SMP Negeri 30 Padang #sholat jenazah #Zahratil Husna