Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Randai Sanggar Anyega Semarakkan Rayo Anam

Adriyanto Syafril • Jumat, 10 April 2026 | 10:13 WIB
UPT SMPN 2 Pariangan saat memainkan atraksi randai yang dibawakan sanggar Anyega, Senin (2/4). (TIM LAMAN GURU)
UPT SMPN 2 Pariangan saat memainkan atraksi randai yang dibawakan sanggar Anyega, Senin (2/4). (TIM LAMAN GURU)

PADEK.JAWAPOS.COM - Sanggar Anyega UPT SMPN 2 Pariangan kembali menunjukkan kiprah aktifnya dalam pelestarian budaya daerah dengan turut memeriahkan tradisi tahunan Rayo Anam yang digelar di Jorong Sikaladi, Nagari Tuo Pariangan. Penampilan randai yang dibawakan  para siswa menjadi salah satu magnet utama dalam rangkaian acara yang sarat nilai adat dan religius tersebut.

Tradisi “Rayo Anam Mandoa Katampaik” merupakan salah satu kearifan lokal yang hingga kini masih dijaga oleh masyarakat Jorong Sikaladi. Tradisi ini dilaksanakan setelah umat Muslim menyelesaikan puasa enam hari di bulan Syawal, yang dimulai satu hari setelah Hari Raya Idulfitri. Keunikan tradisi ini terletak pada pelaksanaannya yang hanya dilakukan pada hari Kamis. Hal ini didasari oleh kepercayaan para tokoh agama dan ninik mamak setempat yang meyakini bahwa hari Kamis merupakan waktu yang baik dan penuh berkah untuk melaksanakan ziarah kubur.

Rangkaian kegiatan Rayo Anam dimulai sejak pagi hari pukul 08.00 WIB dan berlangsung hingga sore hari sekitar pukul 18.00 WIB. Masyarakat dari berbagai kalangan, termasuk perantau yang pulang kampung, turut hadir untuk mengikuti tradisi ini. Puncak kegiatan dipusatkan di wilayah Kapalo Koto, tepatnya di pandam pekuburan Sipuan Raya, yang menjadi lokasi utama pelaksanaan doa bersama dan berbagai kegiatan adat lainnya.

Baca Juga: Pertamina Apresiasi Polda Sumbar Ungkap Kasus Oplosan LPG Subsidi di Padang

Menjelang puncak acara, suasana semakin semarak dengan digelarnya lomba panjat pinang yang diikuti oleh para pemuda setempat. Kegiatan ini tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga simbol kebersamaan dan semangat gotong royong di tengah masyarakat. Setelah itu, sekitar pukul 16.00 WIB atau setelah pelaksanaan salat Ashar, masyarakat mulai membawa tudung saji berisi nasi lengkap dengan lauk-pauk untuk dibagikan dalam tradisi sarabuik nasi.

Tradisi sarabuik nasi menjadi salah satu momen yang paling dinantikan, terutama oleh anak-anak. Mereka berkumpul dengan penuh antusias untuk mendapatkan makanan yang telah disiapkan oleh warga. Kegiatan ini mencerminkan nilai kebersamaan, berbagi, serta kegembiraan yang menjadi ciri khas budaya Minangkabau.

Namun sebelum prosesi tersebut berlangsung, para pemuda Jorong Sikaladi terlebih dahulu melaksanakan tradisi ratik tagak. Tradisi ini memiliki makna mendalam sebagai sarana mempererat hubungan silaturahmi antara pemuda yang merantau dengan mereka yang tetap tinggal di kampung. Ratik tagak menjadi simbol persatuan, kekompakan, serta rasa memiliki terhadap kampung halaman yang terus dijaga dari generasi ke generasi.

Baca Juga: Pemko Padang–Pemprov Sumbar Teken Kerja Sama Pengolahan Sampah Jadi Listrik

Dalam kemeriahan tersebut, penampilan randai dari Sanggar Anyega SMPN 2 Pariangan menjadi salah satu sorotan utama. Dengan mengangkat cerita yang sarat nilai moral dan adat, para siswa tampil penuh percaya diri dan berhasil memukau penonton. Gerak tari yang dinamis, dialog yang kuat, serta iringan musik tradisional yang khas menjadikan pertunjukan randai ini tidak hanya sebagai hiburan, tetapi juga media edukasi budaya bagi masyarakat.

Humas UPT SMPN 2 Pariangan menyampaikan bahwa keterlibatan siswa dalam kegiatan ini merupakan bagian dari komitmen sekolah dalam membentuk karakter generasi muda yang berakar pada nilai-nilai budaya lokal. “Kami sangat bangga dapat berpartisipasi dalam tradisi Rayo Anam ini. Melalui randai Sanggar Anyega, siswa tidak hanya belajar seni pertunjukan, tetapi juga memahami nilai adat, kebersamaan, dan identitas budaya Minangkabau,” ujarnya.

Lebih lanjut, pihak sekolah menilai bahwa kegiatan seperti ini menjadi ruang pembelajaran nyata di luar kelas yang sangat berharga bagi siswa. Interaksi langsung dengan masyarakat serta keterlibatan dalam tradisi adat memberikan pengalaman yang tidak tergantikan dalam membentuk kepribadian dan rasa cinta terhadap budaya sendiri.

Baca Juga: Dirut PLN Raih Green Leadership PROPER 2025, Tegaskan Komitmen Transformasi Hijau

Partisipasi Sanggar Anyega juga mendapat apresiasi dari masyarakat setempat yang merasa bangga melihat generasi muda masih aktif melestarikan budaya randai di tengah perkembangan zaman. Hal ini menjadi bukti bahwa kolaborasi antara lembaga pendidikan dan masyarakat dapat menjadi kekuatan dalam menjaga keberlangsungan tradisi lokal.


Melalui keikutsertaan dalam Rayo Anam, UPT SMPN 2 Pariangan menegaskan perannya tidak hanya sebagai institusi pendidikan formal, tetapi juga sebagai agen pelestari budaya. Diharapkan ke depan, semakin banyak generasi muda yang terlibat aktif dalam kegiatan adat dan budaya, sehingga warisan leluhur tetap hidup dan berkembang di tengah masyarakat modern. (Laila Hanum, S,Pd - Guru SMPN 2 Pariangan)

Editor : Adriyanto Syafril
#Laman Guru #randai