Pemandangan ini bukanlah jam kosong. Ini adalah wajah dari program unggulan kami: Guru Wali.
Perlu ditegaskan, Guru Wali di sini memiliki “nyawa” yang berbeda dengan wali kelas. Jika wali kelas lebih banyak berkutat pada urusan administrasi kelas, maka Guru Wali adalah guru mata pelajaran (termasuk guru BK) yang bertugas sebagai pendamping holistik. Mereka adalah “kakak”, “orang tua”, sekaligus “sahabat” yang mendampingi murid secara berkelanjutan dari hari pertama mereka terdaftar hingga kelak mereka lulus.
Langkah inovatif ini tidak lahir begitu saja. SMP Negeri 30 Padang bergerak cepat merespons Permendikdasmen No. 11 Tahun 2025 tentang Pemenuhan Beban Kerja Guru. Didukung oleh Keputusan Kepala Sekolah Nomor 422/SMAN2/226/07/25, kami membangun sistem di mana setiap murid memiliki pendamping setia yang memantau perkembangan mereka dari aspek akademik, kompetensi, keterampilan, hingga karakter.
Baca Juga: 185 Tahun Limapuluh Kota: Padang Siontah yang Terlupa
Kepala SMPN 30 Padang, Bapak Agusrial, S.Pd., adalah sosok di balik layar yang memastikan program ini bukan sekadar tumpukan dokumen SK di atas meja. Beliau memahami bahwa di era sekarang, murid butuh lebih dari sekadar pengajar; mereka butuh pendamping. Melalui visi beliau, sekolah merancang pendampingan yang sistematis guna mendukung pertumbuhan murid, baik di dalam maupun di luar kelas.
Membangun program Guru Wali ini membutuhkan energi yang besar. Dimulai dengan sosialisasi bersama pengawas, kami kemudian melakukan identifikasi profil murid melalui asesmen non-kognitif di awal tahun ajaran. Kami ingin mengenal mereka bukan hanya dari nilai angka, tapi dari siapa mereka sebenarnya.
Setelah SK ditetapkan, Bapak Agusrial memastikan seluruh guru membekali diri melalui workshop intensif. Kami menyusun program kerja, melakukan pemetaan, hingga merancang instrumen administrasi yang rapi. Semuanya terekam secara digital melalui Google form yang disediakan sekolah. Di sana, jurnal, absensi, hingga rincian kegiatan setiap Jumat terdokumentasi dengan apik sebagai bahan evaluasi bulanan bersama pimpinan.
Kegiatan yang paling dinanti tentu saja pendampingan kelompok setiap hari Jumat setelah kegiatan belajar mengajar selesai. Di sinilah letak keunikannya. Sekolah kami seolah berubah menjadi “kampus terbuka”. Bapak Agusrial memberikan kebebasan bagi Guru Wali dan murid untuk menentukan tempat berkumpul.
Baca Juga: Bank Nagari Gelar Turnamen Billiard “Event Break & Celebrate 64”, Diikuti 64 Karyawan Se-Sumbar
Maka, jangan heran jika melihat murid asyik berdiskusi dengan Guru Walinya di kantin, perpustakaan, laboratorium, hingga di bawah pohon yang sejuk. Lokasi yang fleksibel ini dirancang agar komunikasi mengalir lebih cair. Murid tidak merasa sedang “diuji”, melainkan sedang berbagi cerita tentang hambatan akademik, pengembangan bakat, hingga penguatan karakter.
Pendampingan ini mencakup empat pilar utama: akademik, keterampilan, karakter, dan kompetensi. Jika seorang murid mengalami kendala tertentu, Guru Wali akan melakukan pendampingan individu secara khusus atau berkolaborasi dengan guru BK dan wali kelas. Inilah sinergi yang luar biasa, sebuah sistem pendukung yang memastikan tidak ada satu pun murid yang merasa berjalan sendirian.
Selama kegiatan berlangsung, suasana sekolah tetap terkontrol. Para wakil kepala sekolah, terutama Wakil Kurikulum, berkeliling melakukan monitoring. Bukan untuk mengawasi dengan kaku, melainkan untuk melihat dinamika yang terjadi di setiap sudut sekolah. Kehadiran pimpinan di lapangan memberikan pesan kuat bahwa setiap proses pendampingan ini sangatlah berharga.
Bagi Bapak Agusrial, Guru Wali adalah investasi jangka panjang untuk kualitas murid. Beliau sering menekankan bahwa keberhasilan pendidikan bukan hanya soal kelulusan 100 persen, tapi soal bagaimana murid-murid kita tumbuh menjadi pribadi yang kompeten dan bermartabat. Evaluasi rutin sebulan sekali menjadi ruang bagi kami, para Guru Wali, untuk melaporkan perkembangan dan mencari solusi bersama atas tantangan yang ditemukan di lapangan.
Menjadi Guru Wali adalah tugas mulia untuk menenun masa depan murid secara utuh. Melalui program ini, SMP Negeri 30 Padang sedang membuktikan bahwa sekolah bisa menjadi tempat yang sangat nyaman untuk tumbuh.
Terima kasih kepada Bapak Agusrial, S.Pd. yang telah mengawal mimpi ini menjadi nyata, serta seluruh tim Waka dan guru-guru hebat yang rela meluangkan waktu dan hatinya setiap Jumat, untuk murid-murid kita, kita harus bangga memiliki para pendamping yang tulus. Mari kita jadikan setiap sudut sekolah ini sebagai saksi lahirnya generasi yang tidak hanya cerdas otaknya, tapi juga luhur adabnya. (Zahratil Husna, SMP Negeri 30 Padang)
Editor : Adriyanto Syafril