Penulis : Yuhermita, S.Si - Guru SMK Negeri 6 Padang
PADEK.JAWAPOS.COM -- “Viralnya video yang diunggah di medsos dimana beberapa siswa didepan kamera dengan bangganya merendahkan guru dengan beramai-ramai mengacungkan jari tengahnya (melakukan perbuatan yang tidak sopan terhadap seorang guru senior).
Peristiwa ini telah membuka mata betapa rusaknya akhlak generasi muda sekarang sekaligus menyadarkan pentingnya membangun akhlak (agama) dari pada membangun jembatan dunia (ilmu).
Di tengah pesatnya perkembangan teknologi dan arus globalisasi, generasi muda menghadapi tantangan besar yang tidak hanya berkaitan dengan ilmu pengetahuan, tetapi juga akhlak.
Fenomena yang sering terlihat saat ini menunjukkan adanya penurunan nilai-nilai moral di kalangan remaja.
Hal ini memunculkan kekhawatiran banyak pihak dan memunculkan istilah “darurat akhlak”.
Hal ini telah dibuktikan dengan viralnya kasus beberapa siswa SMA Purwakarta melakukan tindakan yang tidak sopan dengan mengacungkan jari tengahnya kepada guru senior, sangat miris.
Salah satu tanda darurat akhlak adalah berkurangnya rasa hormat kepada orang tua dan guru. Dalam budaya timur yang menjunjung tinggi sopan santun, sikap ini menjadi nilai utama.
Namun, kini tidak sedikit remaja yang berbicara kasar, melawan, bahkan mengabaikan nasihat orang yang lebih tua. Hal ini menunjukkan adanya pergeseran nilai yang cukup signifikan.
Itulah gunanya peran orang tua dirumah yang memberikan Pendidikan akhlak dan moral kepada anak. Urusan pendidikan jangan sepenuhnya diserahkan kepada sekolah, orang tua juga berperan dirumah.
Selain itu, pengaruh media sosial juga menjadi faktor besar. Platform digital seringkali menampilkan konten yang tidak mendidik, bahkan cenderung merusak moral.
Tanpa pengawasan dan filter yang baik, generasi muda mudah meniru perilaku negatif seperti perundungan, pamer berlebihan, hingga gaya hidup hedonis.
Kebebasan berekspresi yang tidak diimbangi dengan tanggung jawab memperparah kondisi ini.
Lingkungan pergaulan juga turut berperan. Teman sebaya memiliki pengaruh besar dalam membentuk karakter seseorang.
Jika seseorang berada dalam lingkungan yang kurang baik, maka kemungkinan besar ia akan terpengaruh.
Oleh karena itu, penting bagi generasi muda untuk selektif dalam memilih teman dan lingkungan.
Pendidikan karakter menjadi solusi utama dalam menghadapi darurat akhlak ini. Tidak cukup hanya mengandalkan pendidikan formal di sekolah, tetapi juga perlu dukungan dari keluarga dan masyarakat.
Orang tua harus menjadi teladan yang baik, sementara sekolah harus menanamkan nilai-nilai moral secara konsisten dalam proses pembelajaran.
Dulu guru adalah orang tua kedua selain yang dirumah. Jadi kalau ada siswa yang nakal atau membandel, guru tidak ragu menggunakan mistar atau penggaris, cubitan di perut atau lengan, tapi sekarang guru takut melakukannya karena merupakan perbuatan yang melanggar HAM, dibungkus dengan UU perlindungan anak, allhasil anak tidak sopan kepada guru.
Karena guru takut menegur anak dan ortu marah kepada guru, malahan ada yang melaporkan perbuatan guru kepada pihak yang berwenang. Siswa sekarang tidak diajarkan akhlak tapi fokus kepada ilmu yang mengagungkan ilmu dengan kiblat barat.
Selain itu, penguatan nilai agama juga sangat penting. Nilai-nilai spiritual dapat menjadi pondasi yang kuat dalam membentuk akhlak mulia.
Generasi muda yang memiliki pemahaman agama yang baik cenderung lebih mampu membedakan mana yang benar dan mana yang salah.
Kesimpulannya, darurat akhlak generasi muda adalah masalah serius yang memerlukan perhatian bersama. Peran keluarga, sekolah, dan masyarakat sangat penting dalam membentuk karakter generasi penerus bangsa. Dengan upaya yang sinergis, diharapkan generasi muda tidak hanya cerdas secara. (*)
Editor : Adriyanto Syafril