Penulis : Nanik Pratiwi, S.Pd.,Gr - Guru SMPN 29 Padang
PADEK.JAWAPOS.COM -- Dedikasi guru-guru SMPN 29 Padang dalam menggerakkan Genpitas sebuah bukti bahwa kepedulian tidak membutuhkan label.
Di sebuah ruang sederhana di sudut SMPN 29 Padang, sebuah gerakan kecil tumbuh dengan tekad yang tidak kecil. Namanya Genpitas (Gerakan Peduli Disabilitas).
Gerakan ini dipelopori oleh Widia Agustin, M.Pd. dan Tim ( Nanik Pratiwi, S.Pd, Febrina Dewita, S.Pd.,Kons, Roza Delvina, S.Pd. dan Diah Faujimi S.Pd.) Ia lahir bukan dari kewajiban regulasi, bukan pula karena sekolah ini berstatus sekolah inklusi. Ia lahir dari nurani para guru yang memilih untuk tidak menutup mata.
SMPN 29 Padang di bawah pimpinan dari Nurhawilis, M.Pd. selaku Kepala sekolah, secara resmi memang bukan sekolah inklusi. Tidak ada label itu pada papan namanya.
Namun di balik dinding-dinding kelasnya, ada anak-anak berkebutuhan khusus yang datang setiap pagi dengan tas di punggung dan harapan di dada.
Dan di sana pula ada guru-guru yang memilih hadir sepenuhnya bukan sekadar mengajar, melainkan merangkul.
Genpitas dirancang sebagai sistem kepedulian yang menyeluruh. Para guru tidak hanya mendidik anak-anak disabilitas di dalam kelas, tetapi juga melatih sesama siswa untuk menjadi agen pendamping sebaya yang peka, tanggap, dan bertindak ketika kawan mereka membutuhkan.
Agen-agen muda ini diajarkan cara berkomunikasi dengan empati, cara mendampingi mobilitas, dan yang terpenting, cara melihat kawan disabilitas mereka bukan sebagai beban, melainkan sebagai bagian tak terpisahkan dari komunitas sekolah.
Tidak mudah menjalankan ini semua. Guru-guru SMPN 29 Padang melakukannya di sela jadwal mengajar yang padat, tanpa fasilitas sekolah inklusi resmi, tanpa anggaran khusus yang memadai.
Mereka menyiapkan materi sosialisasi sendiri, mengadakan pertemuan dengan orang tua, mendata nama-nama siswa berkebutuhan khusus agar setiap guru di sekolah mengenal mereka secara personal bukan sekadar sebagai angka dalam daftar absen.
Yang membuat Genpitas istimewa adalah cakupannya yang menyentuh semua lapisan. Sosialisasi digelar tidak hanya untuk siswa, tetapi juga untuk seluruh guru dan staf, serta orang tua.
Sebuah ekosistem kepedulian dibangun dengan sabar, lapis demi lapis. Ketika seorang anak disabilitas menghadapi intimidasi atau bullying, agen yang terlatih tahu harus berbuat apa: menghentikan, mendampingi, mencatat, dan melapor tanpa kepanikan, tanpa kekerasan balasan.
Ruang Genpitas pun diupayakan hadir sebagai pusat kegiatan inklusif meski sederhana, ia menjadi simbol bahwa sekolah ini sungguh-sungguh.
Di sana tersedia alat bantu belajar, sudut tenang bagi siswa yang mudah terstimulasi, papan informasi dan kartu disabilitas yang memberi kemudahan bagi untuk memberikan informasi terkait dirinya ketika ia tidak mau berkomunikasi secara langsung.
Dedikasi para guru SMPN 29 Padang mengajarkan kita sesuatu yang sederhana namun sering terlupakan: bahwa inklusi bukan soal status atau sertifikat. Inklusi adalah pilihan yang dibuat setiap hari pilihan untuk melihat, pilihan untuk peduli, dan pilihan untuk bertindak meski tidak ada yang mewajibkan.
Di sekolah yang tidak punya label inklusi itu, justru tumbuh jiwa-jiwa paling inklusif. Dan di sanalah harapan sesungguhnya hidup. (*)
Editor : Adriyanto Syafril