Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Bukan Sekadar Panen, tapi Belajar Kehidupan

Adriyanto Syafril • Jumat, 8 Mei 2026 | 08:20 WIB
Murid SMPN 1 Tanjungemas sedang memilah daun jeruk untuk dijual beberapa waktu lalu. (TIM LAMAN GURU)
Murid SMPN 1 Tanjungemas sedang memilah daun jeruk untuk dijual beberapa waktu lalu. (TIM LAMAN GURU)

Penulis: Dewi Eva Lina Masra, S.Pd., Guru Bahasa Inggris UPT SMPN 1 Tanjungemas

Sabtu, 18 April 2026, UPT SMPN 1 Tanjungemas memberdayakan seluruh siswa, tenaga pendidik, serta tenaga kependidikan, termasuk kepala sekolah sebagai pengambil kebijakan, untuk memanen daun jeruk purut.

Panen raya ini pertama kali dilakukan di SMPN 1 Tanjungemas di bawah pimpinan Bestaliko, S.Pd. Jeruk purut ditanam pada masa kepemimpinan Genta Arni, S.Pd., yaitu pada tahun ajaran 2022/2023. Siswa kelas VII dan kelas IX melaksanakan Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) dengan tema Gaya Hidup Berkelanjutan.

Projek P5 bertujuan membentuk siswa pembelajar sepanjang hayat yang berkarakter, beriman, bernalar kritis, mandiri, kreatif, gotong royong, dan berkebinekaan global. Alur kegiatan Projek P5 meliputi tahap pengenalan (eksplorasi masalah).

Guru memancing siswa untuk mengenal kebutuhan lingkungan mereka, di mana kondisi wilayah SMPN 1 Tanjungemas yang luasnya kurang lebih 19.883 meter persegi memungkinkan ditanami palawija dan tanaman produktif lainnya.

Tahap kedua adalah kontekstualisasi (riset/analisis), di mana siswa bersama guru melakukan penelitian kecil-kecilan berdasarkan tekstur tanah dan tanaman yang paling banyak ditemukan di daerah sekitar.

Siswa dan guru sepakat menanam sebagian besar lahan dengan pohon jeruk purut karena Tanjungemas memang merupakan daerah penghasil daun jeruk purut, dan sebagian kecil lahan untuk tanaman cabai dan terong.

Cabai dan terong telah dipanen dan dinikmati langsung oleh siswa dengan cara diolah menjadi makanan untuk tema projek kewirausahaan.

Tahap ketiga adalah aksi nyata, di mana semua siswa kelas VII dan kelas IX yang memiliki tema Projek P5 Gaya Hidup Berkelanjutan mendapatkan tugas “satu siswa satu pohon jeruk purut”, mulai dari penggalian lubang, pemberian pupuk kandang, hingga penanaman.

Tahap keempat adalah refleksi, di mana siswa menilai sendiri apakah tanaman mereka berhasil atau gagal. Siswa dapat memahami keberhasilan atau kegagalan mereka, tetapi hanya satu atau dua tanaman yang gagal tumbuh karena sejak awal siswa sudah dibekali ilmu dan pengetahuan tentang tanaman tersebut.

Setelah siswa yang menanam pohon jeruk purut lulus, tugas pemeliharaan diserahkan kepada dua penjaga sekolah, yaitu Benny Satria dan Jum Haji Patri. Mereka juga bertugas memanen sekaligus menjual hasil panen dengan sistem bagi hasil bersama sekolah.

Uang hasil penjualan masuk ke kas tersendiri yang digunakan untuk kegiatan sekolah yang tidak ditanggung Dana BOS, baik untuk kegiatan lomba antarkelas maupun untuk memperindah sekolah.

Penanaman lahan kosong dengan pohon jeruk purut dan tanaman palawija berdampak pada diraihnya predikat Sekolah Adiwiyata Tingkat Provinsi tahun 2023.

Adapun proses pemanenan dan pemisahan daun jeruk purut dari batangnya hanya berlangsung sekitar 2,5 jam. Diawali pukul 09.30 WIB, masing-masing kelas diwakili satu atau dua siswa yang memiliki kemampuan memangkas pohon jeruk purut bersama guru yang tidak mengajar, kepala sekolah, dan Jum Haji Patri selaku penanggung jawab lahan jeruk purut yang akan dipanen. Sementara itu, siswa lainnya tetap belajar di dalam kelas.

Selanjutnya, siswa dari setiap kelas secara bergantian berkumpul di sepanjang koridor ruang majelis guru, perpustakaan, dan ruang BK untuk mendapatkan giliran memisahkan daun jeruk purut dari batangnya dengan dibantu wali kelas, guru pendamping, serta pegawai tata usaha.

Pukul 11.00 WIB, sebanyak 218 kilogram daun jeruk purut selesai dimasukkan ke dalam karung dan diantar kepada pengumpul dengan nilai penjualan Rp2.574.000. Terjadi penyusutan sekitar 20 kilogram dalam proses penimbangan oleh dua orang pengumpul akibat faktor cuaca yang menyebabkan daun mengering.

Setelah dikurangi biaya operasional seperti pembelian 20 pasang sarung tangan, air minum kemasan, sirup, dan kebutuhan lainnya, hasil penjualan dibagi dua, yakni separuh untuk sekolah dan separuh lagi untuk penjaga sekolah.

Namun, nilai kebersamaan dan semangat gotong royong yang ditunjukkan warga sekolah, terutama para siswa, dinilai jauh lebih berharga daripada hasil penjualan tersebut.

Karakter yang ingin ditumbuhkan dalam diri siswa diharapkan dapat melekat hingga masa depan mereka nanti.

Ucapan terima kasih kepada seluruh warga sekolah yang telah berpartisipasi dalam kegiatan panen raya ini disampaikan kepala sekolah dalam laporan singkat hasil penjualan di sela-sela rapat pada Senin, 20 April 2026.

Ucapan terima kasih juga disampaikan kepada para alumni yang telah memberikan sumbangan untuk pembibitan pohon jeruk purut serta para orang tua siswa yang ikut membantu proses pembibitan. “Jayalah SMPN 1 Tanjungemas!” (*)

Editor : Adriyanto Syafril
#pendidikan Tanahdatar #panen raya jeruk purut #Projek P5 #gaya hidup berkelanjutan #SMPN 1 Tanjungemas