Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Hardiknas, Nyalakan Cahaya di Setiap Jiwa

Adriyanto Syafril • Senin, 11 Mei 2026 | 08:44 WIB
Edrawati, M.Pd
Edrawati, M.Pd

Penulis : Edrawati, M.Pd - Guru SMPN 13 Padang

1. Makna Hari Pendidikan Nasional: Lebih dari  Sekadar Peringatan

Setiap tanggal 2 Mei, bangsa Indonesia memperingati Hari Pendidikan Nasional, tidak hanya seremonial. Ia adalah panggilan batin untuk menengok kembali arah pendidikan kita, apakah sudah benar-benar memerdekakan manusia, atau justru masih membelenggu potensi?

Pendidikan sejatinya bukan hanya tentang angka, nilai, dan ijazah. Ia adalah proses panjang membentuk karakter, menumbuhkan keberanian berpikir, dan menyalakan kesadaran akan jati diri. Hari Pendidikan Nasional menjadi cermin: sejauh mana kita telah menjadikan ilmu sebagai jalan pembebasan, bukan sekadar kewajiban administratif.

2. Ki Hajar Dewantara: Pelopor yang Menanamkan Kemerdekaan dalam Pendidikan

Nama Ki Hajar Dewantara tidak bisa dipisahkan dari sejarah pendidikan Indonesia. Lahir sebagai Raden Mas Soewardi Soerjaningrat, beliau memilih menanggalkan gelar kebangsawanan demi mendekatkan diri kepada rakyat. Itu bukan sekadar simbol, itu adalah sikap: pendidikan harus inklusif, merangkul semua lapisan.

Beliau percaya bahwa setiap anak memiliki kodratnya sendiri. Pendidikan tidak boleh memaksa, melainkan membimbing. Dalam pemikirannya, guru bukan penguasa kelas, melainkan penuntun arah kehidupan. Dari sinilah

lahir filosofi yang hingga kini tetap relevan: pendidikan adalah jalan menuju kemerdekaan berpikir.

3. Filosofi Pendidikan: Menuntun, Bukan Menekan

Salah satu warisan paling kuat dari Ki Hajar Dewantara adalah semboyannya: Ing ngarso sung tulodo, ing madyo mangun karso, tut wuri handayani. Maknanya begitu dalam, di depan memberi teladan, di tengah membangun semangat, dan di belakang memberikan dorongan.

Filosofi ini menegaskan bahwa pendidikan bukanlah proses satu arah. Ia adalah interaksi hidup yang menumbuhkan. Seorang pendidik tidak hanya mengajar, tetapi juga menjadi inspirasi. Ia hadir bukan untuk menekan, melainkan untuk menuntun potensi agar berkembang secara alami.

Di tengah era modern yang serba cepat, prinsip ini menjadi pengingat: pendidikan tidak boleh kehilangan nilai kemanusiaannya. Teknologi boleh maju, tetapi sentuhan hati tetap menjadi inti.

4. Tantangan Pendidikan Masa Kini: Antara Sistem dan Nilai

Hari ini, pendidikan dihadapkan pada berbagai tantangan, ketimpangan akses, tekanan akademik, hingga krisis karakter. Tidak sedikit peserta didik yang cerdas secara intelektual, tetapi rapuh secara emosional.

Di sinilah kita perlu kembali pada akar pemikiran Ki Hajar Dewantara. Pendidikan harus menyeimbangkan antara kecerdasan intelektual, emosional, dan moral.

Sekolah tidak boleh hanya menjadi pabrik nilai, tetapi harus menjadi ruang tumbuh yang utuh.

Guru, orang tua, dan masyarakat memiliki peran penting. Pendidikan bukan tanggung jawab satu pihak, melainkan gerakan bersama untuk membentuk generasi yang tidak hanya pintar, tetapi juga bijaksana.

5. Menyalakan Semangat: Pendidikan sebagai Jalan Perubahan

Hari Pendidikan Nasional seharusnya menjadi momentum untuk bergerak, bukan hanya mengenang. Setiap individu memiliki peran dalam dunia pendidikan baik sebagai pendidik, peserta didik, maupun bagian dari masyarakat.

Mari kita ubah cara pandang: belajar bukan kewajiban, tetapi kebutuhan. Mengajar bukan pekerjaan, tetapi panggilan jiwa. Dan pendidikan bukan beban, melainkan jalan menuju perubahan.

Warisan Ki Hajar Dewantara tidak hanya sejarah. Ia adalah api yang harus terus dijaga. Jika pendidikan mampu menyalakan kesadaran, maka bangsa ini tidak hanya akan maju, tetapi juga bermartabat.

Pendidikan bukan tentang menjadi yang terbaik, tetapi tentang menjadi lebih baik setiap hari, setiap langkah, dan setiap jiwa yang terus belajar. (*)

Editor : Adriyanto Syafril
#Laman Guru Padang