Penulis : Alvin Gumelar Hanevi, M.Pd. - Guru SMK Negeri 6 Padang
Kemajuan teknologi membawa perubahan besar bagi kehidupan manusia. Bidang-bidang kehidupan manusia mengalami pergeseran yang cukup signifikan. Mulai dari bidang budaya, sosial, ekonomi, komunikasi dan pendidikan semuanya mengalami dampak yang sama.
Bidang pendidikan mengalami transformasi akibat dari berkembangnya teknologi saat ini. Dahulu, proses belajar mengajar hanya bisa dilakukan di ruang kelas namun saat ini proses belajar mengajar bisa dilakukan dimana dan kapan saja melalui berbagai platform canggih teknologi.
Namun, kemajuan teknologi saat ini memberikan satu dampak negatif yang cukup mengkhawatirkan. Di sekolah, hampir semua murid memiliki gadget di genggaman mereka. Perhatian dan fokus mereka hanya tertuju kepada gawai masing-masing.
Sehingga proses interaksi dan bersosialisasi dengan teman sebaya dan gurunya mengalami distraksi. Kondisi ini menjadi sangat miris karena semua murid akan abai terhadap kondisi lingkungan sekitarnya.
Di saat gempuran teknologi membuat setiap orang menjadi makhluk yang individualis, semangat kegotong royongan perlu diperkuat. Dengan semangat gotong royong perilaku yang menjurus kearah individualis bisa diminimalisir. Dalam implementasinya semangat kegotong royongan bisa diterapkan dimana saja. Di sekolah semangat ini bisa dituangkan dalam wujud kerjasama yang baik seperti kegiatan kerja bakti, diskusi, belajar kelompok, dan aktif dalam keorganisasian sekolah.
Kerja bakti di sekolah merupakan satu dari serangkaian cara melestarikan semangat kegotong royongan. Kerja bakti membersihkan lingkungan sekolah dengan melibatkan seluruh warga sekolah tanpa terkecuali baik guru, staf sekolah, penjaga sekolah dan juga para murid. Semua bersama membentuk ikatan emosional yang baik dalam satu frame kerja bakti.
Melestarikan semangat gotong royong bisa diwujudkan dalam bentuk kegiatan diskusi. Baik guru maupun murid bisa melakukannya secara bersama-sama.
Setiap persoalan pasti ada solusinya jika diselesaikan melalui kegiatan diskusi. Semakin banyak yang terlibat dalam kegiatan diskusi semakin banyak alternatif pemikiran yang muncul, oleh karena itu keputusan yang dihasilkan merupakan keputusan yang terbaik.
Wujud nyata gotong royong berikutnya adalah belajar kelompok. Murid yang senantiasa aktif dan terlibat dalam proses belajar kelompok cenderung memiliki kemampuan komunikasi dan interpersonal yang baik. Dengan belajar kelompok tiap-tiap murid diberikan keleluasaan untuk memecahkan masalah secara bersama yang tentunya akan menjaga semangat kegotong royongan tetap hidup di diri mereka masing-masing.
Berikutnya dengan cara aktif dalam keorganisasian sekolah. Di sekolah ada banyak organisasi sekolah seperti OSIS, MPK, PMR, seni, olahraga, dan yang lainnya.
Murid yang terbiasa aktif dalam keorganisasian akan cenderung terampil dan selalu menghidupkan semangat kegotong royongan. Karena organisasi yang dibentuk menuntut para pengurusnya untuk aktif dan sukarela menyelesaikan program dan kegiatan yang ada di dalamnya. Program dan kegiatan yang ada didalamnya tidak bisa diselesaikan secara sendiri tapi harus d selesaikan secara kolektif.
Perlu disadari untuk melestarikan semangat kegotong royongan ini perlu kerjasama semua pihak. Guru sebagai pendidik dan motivator terus mendorong semangat kegotong royongan ini tetap terjaga melalui aksi nyata dan kegiatan-kegiatan pembiasaan yang mendukung tercapainya harapan dan keinginan tersebut. (*)
Editor : Adriyanto Syafril