Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Mengapa Harus Menulis?

Adriyanto Syafril • Rabu, 13 Mei 2026 | 10:05 WIB
Ilustrasi. (REZA FEBRINO/PADEK)
Ilustrasi. (REZA FEBRINO/PADEK)

Penulis : Rikotmi Hasindi - Guru UPTD SMPN 1 Kecamatan Luak 

Sebuah  pesan Pramoedya Ananta Toer “Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.”

Pesan ini mengingatkan kepada kita, menulis sesuatu yang tidak lengkang oleh waktu. Ia akan menembus sekian zaman. Meskipun kita telah tiada.

Melalui warisan yang dituliskan akan hidup sekian lama. Ia akan tumbuh dan berkembang, sebagai pedoman bagi generasi selanjutnya. Maka teruslah berkarya dan menulis. Jangan biarkan keraguan mematikan kreativitas.

Setiap kata yang kita goreskan adalah batu bata yang membangun rumah bagi pemikiran baru. Dunia mungkin tidak selalu memberikan tepuk tangan, tetapi kepuasan saat berhasil menyelesaikan satu buah tulisan adalah imbalan yang tak ternilai harganya.

Sumbangsih kita membangun Peradaban itu akan bisa berulang kali dibaca, dan pemikiran yang kita berikan akan menjadi bangunan dan pahala.

Meskipun saat ini, AI yang  bisa dipergunakan untuk keperluan apapun, seperti membuat tulisan dan juga bisa mengalahkan penulis, hanya dalam hitungan detik saja. Tetapi, perbedaan menulis AI dengan penulis, yang mengisahkan kehidupan atau pengalamannya.  Itu lebih berharga dibandingkan dengan AI yang membuat tulisan tersebut.

Penulis, biasanya akan mampu memberikan sentuhan emosi. Sedangkan AI tidak akan pernah mampu memberi apa yang terasa spesial disampaikan penulis.

Di era digital yang serba cepat ini, di mana konten datang dan pergi dalam hitungan detik, pertanyaan mendasar sering muncul di benak para kreator “Mengapa kita harus terus berkarya?

Apakah tulisan kita masih memiliki arti di tengah samudra informasi ini? Jawabannya sederhana namun mendalam. Jawaban itu pernah saya baca di sebuah status Muhammad Subhan di Facebook “ Menulis adalah cara kita mengawetkan eksistensi dan merawat kewarasan”

Bagi seorang penulis, berhenti berkarya bukan sekadar berhenti menyusun kata, melainkan membiarkan jendela jiwa tertutup rapat. Menulis bukan hanya soal hasil akhir atau seberapa banyak like  yang didapat, melainkan sebuah proses berkelanjutan untuk memahami diri sendiri dan dunia.

Dalam buku, kenapa saya harus menulis karangan Massaputro Delly, Halam 67. Untuk menjadi penulis, yang dibutuhkan hanyalah kemauan keras untuk menulis dan mempraktikkannya, orang yang hanya mempunyai kemauan menulis, namun tidak pernah melakukannya maka sama saja bermimpi memiliki mobil, tanpa ada usaha dan kerja keras memilikinya ( Stephen King)

Oleh karena itu, mengapa kita harus menulis dan mempraktikkannya inilah alasannya;

Pertama, menulis bisa mengikat ilmu dan ide. Ilmu itu seperti hewan buruan, liar dan harus dicari, dikejar dan terkadang punya tantangan untuk mendapatkannya. Maka dengan menulis atau menuliskannya adalah cara mengikat dan mendapatkan ilmu tersebut. Belum tentu, ilmu atau ide selalu teringat bagi kita. Maka melalui catatan atau tulisan, kita bisa kembali mengingatnya. Cara tersebut adalah agar ilmu atau ide tidak hilang.

Kedua, sebagai terapi diri. Menulis membantu mengatasi emosi yang tidak stabil. Melalui menuliskan yang terpendam dalam hati, baik sedih, marah atau senang akan menjadi hidup lebih tenang dan mengurangi stress yang terasa bagi kita.

Ketiga, mengorganisir pikiran. Melalui menuliskan kembali, ide yang berantakan akan menjadi tersusun rapi, sistematis, logis dan jelas. Sehingga, ketika membalikkan catatan akan terang benderanglah kembali.

Keempat, meninggalkan warisan. Tulisan yang kita buat adalah warisan yang akan hidup lama. Dibandingkan dengan secara lisan. Melalui lisan, terkadang kata-kata yang diucapkan sering lupa.

Kelima, membuat sejarah. Orang akan mudah lupa dengan kita, apabila kita sudah meninggal dunia. Tapi, kalau kita menulis orang akan atau mengingat kembali bahwa kita ada, di masa itu, zaman itu.

Itulah beberapa alasan mengapa harus menulis. Alasan ini, tentu tidak akan sama dengan penulis lainnya, mengapa mereka menulis atau berkarya. Paling tidak, alasan ini memicu untuk terus menulis dan berkarya. Sebab melalui tulisan tentu memberikan dampak positif bagi generasi selanjutnya.

Sebagai kesimpulan, mengapa harus menulis, seperti pesan Pramoedya Ananta Toer diatas “Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.” (*)

Editor : Adriyanto Syafril
#pesan menulis #warisan pemikiran #menulis untuk keabadian #pramoedya ananta toer #karya tulis