Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Wajah Baru Pengawas Sekolah Kurikulum Merdeka, Bukan Sekadar Periksa Berkas

Adriyanto Syafril • Jumat, 29 Mei 2026 | 08:35 WIB
Neneng Darlis, S. Pd. SD., M. Pd
Neneng Darlis, S.Pd.SD., M.Pd

Penulis : Neneng Darlis, S.Pd.SD., M.Pd. - Pengawas SD Kabupaten Lima Puluh Kota

Selama ini, citra pengawas sekolah sering kali identik dengan “sang pemeriksa berkas”. Datang berkala, memeriksa tumpukan administrasi guru, memberikan nilai, lalu pulang.

Namun, di era Kurikulum Merdeka dan semangat Pembelajaran Mendalam (Deep Learning), paradigma lama itu sudah usang.

Tugas utama pengawas sekolah hari ini bukan lagi sekadar mengawasi kepatuhan administratif. Pengawas dituntut bertransformasi menjadi pendamping aktif bagi guru dan kepala sekolah, memastikan bahwa esensi kurikulum baru ini benar-benar hidup di dalam ruang kelas, bukan hanya indah di atas kertas.

Kurikulum Merdeka memberikan otonomi dan fleksibilitas bagi sekolah untuk merancang pembelajaran yang relevan dengan konteks lokal. Sementara itu, Pembelajaran Mendalam menekankan pada proses belajar yang berkesadaran, bermakna, sekaligus menggembirakan bagi murid. Di sinilah peran krusial pengawas, yaitu menjadi jembatan hidup yang menerjemahkan kebijakan pusat menjadi praktik nyata yang dirasakan langsung oleh murid di daerah.

Dalam praktik sehari-hari, seorang pengawas harus mampu menanggalkan jubah birokratnya dan mengenakan topi sebagai fasilitator perubahan. Pengawas Sekolah bergerak membantu sekolah menyusun visi pembelajaran yang selaras dengan 8 Dimensi Profil Lulusan, mendorong inovasi, dan memastikan perangkat ajar benar-benar mendukung ketercapaian kompetensi murid.

Lebih dari itu, pengawas kini bertindak sebagai coach dan mentor bagi guru. Pendampingan dilakukan langsung berbasis kelas untuk memperkuat praktik pembelajaran melalui  olah pikir, olah hati, olah rasa, dan keterampilan fisik murid. Pengawas Sekolah juga bertugas menghubungkan kebijakan dengan data riil di lapangan, memanfaatkan hasil asesmen formatif untuk memberikan umpan balik yang konkret dan membangun, bukan menghakimi.

Untuk memastikan pendampingan berjalan efektif dan tidak sekadar menjadi formalitas, ada empat strategi praktis yang dapat diterapkan di sekolah-sekolah daerah diantaranya: (1) Observasi Kolaboratif: Pengawas masuk ke kelas bersama kepala sekolah, bukan untuk menilai guru, melainkan untuk berdiskusi bersama mengenai tujuan pembelajaran dan indikator keberhasilan murid, (2) Modeling dan Demo Lesson: Pengawas memberikan contoh langsung bagaimana mempraktikkan pembelajaran mendalam yang menggembirakan dan berbasis kearifan lokal, sehingga guru mendapatkan gambaran yang nyata, (3) Pelatihan Singkat Berbasis Kebutuhan (Micro-Training): Menggelar pelatihan ringkas yang fokus pada keterampilan spesifik yang benar-benar dibutuhkan guru, seperti desain penilaian autentik atau pemanfaatan teknologi sederhana, dan (4) Pendekatan Berbasis Data: Menggunakan hasil asesmen formatif murid sebagai kompas merancang tindak lanjut pembelajaran yang tepat sasaran. (*)

Editor : Adriyanto Syafril
#Laman Guru Sumatera Barat