Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Menembus Pedalaman Mentawai demi Akreditasi PAUD: Rua Monga, Sikakap dan Hujan Pembawa Harapan

Adriyanto Syafril • Jumat, 5 Juni 2026 | 08:40 WIB
TK Anak Nusantara Rua Monga, Dusun Rua Monga Desa Taikako Kecamatan Sikakap Kabupaten Kepulauan Mentawai belajar di ruangan sederhana beberapa waktu lalu. (TIM LAMAN GURU)
TK Anak Nusantara Rua Monga, Dusun Rua Monga Desa Taikako Kecamatan Sikakap Kabupaten Kepulauan Mentawai belajar di ruangan sederhana beberapa waktu lalu. (TIM LAMAN GURU)

Penulis : Elvis Betrizon - Asesor BAN PDM Provinsi Sumatera Barat

Perjalanan saya menuju Kepulauan Mentawai untuk melaksanakan visitasi akreditasi pendidikan anak usia dini sesungguhnya adalah sebuah perjalanan tugas. Namun, sepulang dari sana, yang saya bawa bukan sekadar catatan hasil visitasi atau lembar penilaian. 

Saya membawa pengalaman hidup yang mengubah cara pandang saya tentang pendidikan, pengabdian, dan makna kebahagiaan yang sederhana.

Kali ini saya berkesempatan mengunjungi tiga satuan PAUD yang berada di Kecamatan Sikakap, Kabupaten Kepulauan Mentawai, yaitu TK Anak Nusantara Dusun Cempungan dan TK Anak Nusantara Dusun Polaga. Keduanya di Desa Matobe, serta TK Anak Nusantara Dusun Rua Monga Desa Taikako. Di antara ketiga lokasi tersebut, Rua Monga meninggalkan kesan yang sangat mendalam.

Rua Monga merupakan satu dari 19 dusun yang berada di Desa Taikako. Desa Taikako memiliki luas wilayah sekitar 166 km² dengan jumlah penduduk lebih dari 3.100 jiwa.   Jarak Desa Taikako ke pusat Kecamatan Sikakap sekitar 11 kilometer.  Namun, angka itu tidak menggambarkan perjuangan yang sesungguhnya.

dengan kondisi akses yang masih didominasi jalan tanah dan sebagian wilayah yang cukup sulit dijangkau,  tanjakan dan turunan yang curam, serta kondisi medan yang masih sangat bergantung pada cuaca menjadikan perjalanan terasa jauh dan menantang. Saya mulai membayangkan bagaimana perjuangan para guru, murid, dan orang tua yang setiap hari harus melalui jalur tersebut demi pendidikan.

Sesampainya di Rua Monga, saya menemukan sebuah dusun yang masih sangat dekat dengan alam. Pepohonan menjulang tinggi, udara bersih, dan kehidupan masyarakat yang berjalan sederhana namun penuh kehangatan. Sebagian besar masyarakat menggantungkan hidup pada hasil kebun, hutan, dan laut. Nilai gotong royong masih sangat terasa dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam bidang pendidikan, Rua Monga menghadapi tantangan yang tidak ringan. Sarana pendidikan masih terbatas,  bangunan belajar sederhana, akses air bersih belum optimal, alat permainan edukatif masih minim, dan transportasi menjadi kendala tersendiri ketika cuaca buruk. Pendidikan di Rua Monga mencerminkan karakteristik pendidikan daerah kepulauan dan terpencil. Keterbatasan infrastruktur, akses transportasi, dan sarana pembelajaran masih menjadi tantangan utama.

Namun di balik keterbatasan itu, saya melihat semangat yang luar biasa. TK Anak Nusantara Rua Monga menjadi salah satu pusat pembelajaran yang penting bagi masyarakat. Di tempat ini, pendidikan tidak hanya menyentuh anak-anak, tetapi juga keluarga mereka. Sebuah rumah papan sederhana dipenuhi anak-anak dan para ibu yang mendampingi mereka belajar. Ruangan yang sempit itu terasa hangat oleh tawa dan semangat belajar.

Saya melihat para guru tidak hanya mengajarkan huruf, angka, warna, dan lagu-lagu anak. Mereka juga mendampingi para ibu dalam memahami pola pengasuhan, kesehatan keluarga, kebersihan lingkungan, hingga pentingnya pendidikan bagi masa depan anak.

Banyak ibu yang hadir setiap hari karena sebagian besar suami mereka bekerja atau merantau dalam waktu yang cukup lama. Juga tak sedikit ditinggal pergi, dan tiada kabar berita. Dalam kondisi seperti itu, guru bukan hanya menjadi pendidik, tetapi juga sahabat dan pendamping keluarga. Di Rua Monga, saya menyaksikan bahwa sekolah bukan sekadar tempat belajar anak, melainkan pusat pemberdayaan masyarakat.

 

Ada pengalaman menarik lainnya yang hingga kini masih menjadi bahan cerita. Saat saya berada di Mentawai, masyarakat sedang menghadapi musim kemarau yang cukup panjang. Menurut warga, hujan sudah  empat bulan  tidak turun. Sumber air mulai berkurang dan tanah terlihat kering. Namun, selama saya melakukan visitasi, awan mulai berkumpul di langit Taikako.

Tak lama kemudian hujan turun dengan deras. Anak-anak bersorak kegirangan. Para ibu tersenyum lega. Warga menyambut hujan itu dengan penuh syukur.

Beberapa warga kemudian  mempercayai  saya sebagai “pembawa hujan”. Saya hanya tertawa mendengarnya. Namun saya memahami bahwa bagi masyarakat yang hidup sangat dekat dengan alam, hujan bukan sekadar cuaca. Hujan adalah kehidupan.

Ironisnya, hujan yang disambut dengan sukacita itu justru menjadi tantangan bagi perjalanan pulang saya. Jalan tanah yang sebelumnya kering berubah menjadi lumpur yang licin. Sepeda motor  beberapa kali harus berjalan sangat perlahan agar tidak terperosok.  

Di tengah suasana visitasi itu, saya juga menemukan kekayaan budaya yang luar biasa. Suatu Ketika saya sedang berdiskusi dengan para guru tentang proses pembelajaran dan perkembangan anak, tiba-tiba suasana sekolah menjadi sangat sepi. Anak-anak yang sebelumnya bermain di halaman mendadak menghilang.

Saya pun bertanya kepada guru, “Ke mana anak-anak?”

Guru hanya tersenyum dan mengajak saya mengikuti mereka.

Rupanya di belakang  sekolah ada  sebuah lereng bukit, saya menemukan seluruh anak sedang bermain permainan tradisional khas masyarakat setempat.

 Mereka memanfaatkan pelepah pinang yang jatuh dari ke lereng bukit sebagai alat permainan. Pelepah pinang itu dijadikan papan luncur sederhana.

Dengan penuh kegembiraan, anak-anak turun naik bukit yang kemiringannya hampir 45 derajat, lalu meluncur ke bawah pada lintasan sekitar 25 meter, yang ditumbuhi pepohonan, dan beresiko besar  bagi keselamatan mereka. Tawa mereka memenuhi udara. Tidak ada telepon genggam. Tidak ada permainan elektronik. Tidak ada wahana modern. Yang ada hanyalah alam, kreativitas, dan kebahagiaan yang lahir dari kearifan lokal. Saya terpukau melihatnya.

Permainan sederhana itu ternyata mengajarkan banyak hal: keberanian, keseimbangan, kerja sama, ketahanan fisik, serta kecintaan terhadap lingkungan. Ketika beberapa anak berteriak, “Pak, ikutlah!” Saya tidak mampu menolak.

Saat meluncur menuruni bukit yang basah oleh hujan, saya ikut tertawa bersama anak-anak. Untuk beberapa saat saya lupa bahwa saya sedang menjalankan tugas sebagai asesor. Saya kembali menjadi seorang anak yang menikmati permainan alam dengan penuh kebahagiaan.

Pada momen itulah saya menyadari bahwa pendidikan tidak selalu berlangsung di dalam ruang kelas. Pendidikan hidup dalam permainan tradisional. Pendidikan hidup dalam kebersamaan masyarakat. Pendidikan hidup dalam budaya lokal yang diwariskan dari generasi ke generasi. Dan pendidikan hidup dalam ketulusan para guru yang tetap mengajar meski dengan segala keterbatasan.

Ketika saya meninggalkan Rua Monga, Polaga, dan Cempungan, saya membawa keyakinan baru bahwa masa depan pendidikan Indonesia tidak hanya dibangun di kota-kota besar dengan gedung megah dan teknologi canggih. Masa depan itu juga sedang dibangun di rumah-rumah papan sederhana di Taikako. Sedang dibangun oleh guru-guru yang mengajar dengan hati. Oleh para ibu yang setia mendampingi anak-anaknya belajar. Dan oleh anak-anak Mentawai yang meluncur di atas pelepah pinang sambil tertawa riang di bawah langit yang baru saja menurunkan hujan.

Mungkin  boleh saja benar saya dianggap sebagai pembawa hujan. Namun sesungguhnya, Mentawai-lah yang membawa pulang hujan pengetahuan, ketulusan, dan harapan ke dalam hati saya. Sebuah pengingat bahwa pendidikan terbaik sering kali tumbuh jauh dari keramaian, tetapi sangat dekat dengan nilai-nilai kehidupan yang sesungguhnya.

Pembelajaran juga sangat dekat dengan lingkungan dan budaya lokal. Anak-anak tumbuh dengan memanfaatkan alam sebagai sumber belajar. Permainan tradisional, eksplorasi lingkungan sekitar, dan aktivitas berbasis alam masih menjadi bagian dari keseharian mereka. Model pembelajaran seperti ini memperkuat karakter, kemandirian, keberanian, serta kecintaan terhadap budaya lokal.

Rua Monga menunjukkan bahwa kualitas pendidikan tidak hanya ditentukan oleh kelengkapan fasilitas. Di tengah keterbatasan geografis dan infrastruktur, pendidikan tetap hidup melalui semangat guru, keterlibatan orang tua, dan kegembiraan anak-anak dalam belajar. Rua Monga menjadi contoh bagaimana pendidikan berbasis komunitas dapat tumbuh dan berkembang di daerah terpencil, sekaligus menjadi harapan bagi masa depan generasi muda Mentawai. (*)

Editor : Adriyanto Syafril
#Rua Monga #PAUD Mentawai #Laman Guru Sumatera Barat #PENDIDIKAN MENTAWAI #pendidikan daerah terpencil