Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Menelik Pro Kontra Bahasa Asing Prancis di Sekolah

Redaksi • Selasa, 9 Juni 2026 | 06:56 WIB
Alvin Gumelar Hanevi, M.Pd.
Alvin Gumelar Hanevi, M.Pd.

Penulis : Alvin Gumelar Hanevi, M.Pd. - Guru SMK Negeri 6 Padang

Merujuk dari Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) bahasa asing merupakan bahasa milik bangsa lain yang dikuasai melalui pendidikan formal maupun pendidikan non formal dan tidak dianggap sebagai bahasa sendiri oleh masyarakat suatu negara.

Instruksi Presiden Prabowo mengenai pengajaran bahasa Prancis di sekolah merupakan topik yang menarik karena menyentuh ranah pendidikan, budaya, ekonomi, dan daya saing global. Secara sosiologis, bahasa Prancis layak dipertimbangkan sebagai salah satu pilihan bahasa asing di sekolah, tetapi tidak harus menjadi mata pelajaran wajib bagi semua murid.

Selama ini, bahasa asing yang paling sering diajarkan atau diwajibkan adalah bahasa Inggris karena fungsinya sebagai bahasa internasional dalam bisnis, ilmu pengetahuan, teknologi, dan komunikasi global. Namun, dunia tidak hanya menggunakan bahasa Inggris. Bahasa Prancis merupakan salah satu bahasa resmi di banyak organisasi internasional seperti United Nations, European Union, dan International Olympic Committee. Selain itu, bahasa ini digunakan oleh ratusan juta orang di berbagai negara di Eropa, Afrika, Amerika Utara, dan Karibia. Dengan mempelajari bahasa Prancis, murid memperoleh akses yang lebih luas terhadap budaya, pendidikan, dan peluang kerja internasional.

Dari sisi pendidikan, mempelajari bahasa asing kedua atau ketiga dapat membantu meningkatkan kemampuan berpikir kritis, daya ingat, dan pemahaman lintas budaya. Kemampuan berpikir ini sejalan dengan RPJPN 2025-2045.

Bahasa Prancis memiliki sejarah sastra, filsafat, seni, dan diplomasi yang sangat kaya. Melalui pembelajaran bahasa ini, murid tidak hanya menghafal kosakata dan tata bahasa, tetapi juga mengenal karya-karya tokoh seperti Victor Hugo, Voltaire, dan Albert Camus. Pengalaman tersebut dapat memperluas wawasan serta membentuk sikap yang lebih terbuka terhadap keberagaman budaya dunia.

Di bidang ekonomi dan karier, kemampuan berbahasa Prancis dapat menjadi nilai tambah. Banyak perusahaan multinasional dari Prancis dan negara-negara berbahasa Prancis beroperasi di berbagai belahan dunia. Selain itu, sejumlah universitas di negara-negara eropa menawarkan program pendidikan berkualitas dengan biaya yang relatif terjangkau dibandingkan beberapa negara lain. Murid yang menguasai bahasa Prancis memiliki peluang lebih besar untuk memperoleh beasiswa, mengikuti program pertukaran pelajar, atau bekerja di lingkungan internasional.

Meskipun demikian, ada beberapa tantangan yang perlu dipertimbangkan. Pertama, kurikulum sekolah sudah cukup padat. Saat ini fokus yang perlu ditingkatkan adalah kemampuan literasi dan numerasi murid, sehingga jika pengajaran bahasa asing seperti Prancis dijadikan mata pelajaran wajib maka akan menambah sesak kurikulum yang ada, hal ini akan secara langsung membebani murid dan sekolah. Kedua, ketersediaan guru yang kompeten masih terbatas dibandingkan guru bahasa Inggris. Ketiga, kebutuhan praktis murid di berbagai daerah berbeda-beda. Sebagian mungkin lebih membutuhkan keterampilan digital, bahasa Inggris, atau bahasa lain yang relevan dengan kondisi ekonomi setempat.

Karena itu, pendekatan yang paling realistis adalah menjadikan bahasa Prancis sebagai mata pelajaran pilihan atau program peminatan. Murid yang memiliki minat pada bahasa, hubungan internasional, pariwisata, sastra, atau studi luar negeri dapat memilihnya sesuai kebutuhan dan cita-cita mereka. Dengan cara ini, sekolah dapat memberikan kesempatan yang lebih luas tanpa mengorbankan fleksibilitas kurikulum.

Kesimpulannya, pengajaran bahasa Prancis di sekolah memiliki banyak manfaat, mulai dari pengembangan wawasan budaya hingga peningkatan peluang akademik dan profesional. Namun, penerapannya sebaiknya dilakukan secara proporsional sebagai pilihan yang dapat diakses oleh murid yang berminat, bukan sebagai kewajiban untuk semua. Pendekatan tersebut memungkinkan sistem pendidikan menghasilkan lulusan yang lebih beragam kompetensinya dan lebih siap menghadapi dunia yang semakin global. (*)

Editor : Adriyanto Syafril
#Laman Guru Sumatera Barat