Penulis : Rikotmi Hasindi - Guru UPTD SMPN 1 Kec. Luak
Mengapa menulis adalah Rantai intelektual antar generasi? Pertanyaan ini bisa kita lihat dari realitas yang ada. Sebagai contoh Karya imam Bukhari, imam muslim, dan yang lainnya di bidang hadits. Imam Al-Ghazali dengan karya ihya Ulumuddin dan masih banyak Tokoh atau ilmuan lainnya.
Seperti Ibnu Sina di bidang kedokteran , Al-Khwarizmi di matematika tentang aljabar, Jabir bin Hayyan di bidang kimia tentang distilasi, Ibnu Al-Haitham tentang optik, dan Al-Jazari di robotika (awal), yang karya-karyanya masih menjadi rujukan global hingga kini.
Andai mereka tidak menulis, masihkah kita menikmati jerih payahnya ( penemuannya) saat sekarang ini? Tentu saja tidak. Maka dengan menulis, mereka mampu memberikan kontribusi bagi keilmuan sampai saat ini. Bahkan menjadi rujukan dari penemuan mereka.
Menulis merupakan cara paling efektif untuk menjaga mata rantai ilmu pengetahuan agar tidak terputus atau hilang dimakan zaman. Dengan mendokumentasikan pengetahuan, pengalaman, dan gagasan, ilmu dapat diwariskan ke generasi berikutnya dan terus menyala.
Mengikat Ilmu (Qayyidul ‘Ilmi) itu penting. Menuliskannya, dengan tujuan tidak lengkang karena panas, tidak lapuk dimakan tanah atau agar semua yang terjadi, disaat orang lain membutuhkan menjadi penerang bagi mereka, pedoman bagi generasi selanjutnya.
Ada sebuah hadits yang menyatakan, “Jagalah ilmu dengan menulis” (Shahih Al-Jami’, no. 4434), yang berarti mengikat atau mendokumentasikan ilmu agar tidak mudah hilang dimakan waktu atau zaman. Maka dengan menuliskannya, ilmu pengetahuan, ide dan gagasan bisa menjadi berkembang menjadi sebuah perbaikan, atau perbandingan bagi yang memerlukan. Alangkah indahnya, kalau ilmu yang kita dapatkan bermanfaat bagi orang lain.
“Jika seorang manusia meninggal, terputuslah amalnya, kecuali dari tiga hal: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau anak shaleh yang berdoa untuknya.” (HR. Muslim).
Dari hadist ini dapat kita pahami bahwa mengapa tidak kita manfaatkan keterampilan menulis sebagai ladang amal bagi kita selanjutnya. Disamping, sebagai mata rantai intelektual bagi kita dengan generasi selanjutnya.
Dalam puisi Chairil Anwar, yang berjudul AKU. Pada bait terakhir “Aku mau hidup seribu tahun lagi”. Ini adalah sebuah kalimat yang bukan tentang keabadian fisik, melainkan metafora untuk semangat juang, tekad yang tak kenal lelah, serta dampak karya yang ingin terus hidup menembus zaman.
Mengapa kita tidak memanfaatkan atau menjadi penyemangat agar kita bisa hadir sebagai penulis, menembus waktu yang lebih lama? Seperti Ibnu Sina dalam bidang Kedokteran dan Farmasi Ibnu, ia Menulis Al-Qanun fi at-Tibb (The Canon of Medicine), ensiklopedia medis yang menjadi rujukan utama di Eropa selama berabad-abad. Ar-Razi yang Menulis Al-Hawi, ensiklopedia kedokteran komprehensif, dan karya tentang cacar. Az-Zahrawi (Albucasis) Bapak bedah modern yang menulis At-Tashrif, buku panduan alat-alat bedah. Mengapa kita tidak seperti itu? Mengapa kita berhenti menulis karena takut diremehkan? Padahal menulis itu begitu penting bagi kehidupan.
Andaikan mereka tidak menuliskannya dulu, mustahil kita bisa hari ini membaca dan memahaminya lebih dalam saat sekarang ini. Dengan menulislah mereka sampai pada generasi kita saat ini. Sudah sekian abad yang lampau, mereka masih memberikan kesempatan ilmu yang mereka pelajari itu dinikmati.
Mereka masih hidup. Mereka masih memberikan manfaat. Memberikan sumbangan ilmu, sebagai sedekah jariyah bagi mereka yang adalah ilmu yang bermanfaat. Ilmu yang berguna bagi generasi selanjutnya.
Atau mungkin kita bisa melihat karya-karya yang tulis yang masih kita nikmati saat ini di Indonesia. Seperti Hamka, baik tafsirnya yang terkenal Al-Azhar. Atau karya sastranya, tenggelamnya kapal Van der Wijck dan dibawah lindungan Ka’bah, dan lainnya. Hamka masih hidup saat ini. Ia masih bisa menemui generasi kita. Meskipun Hamka telah lama secara fisik meninggalkan kita. Ia masih memberikan warisan yang dituliskan lewat karya tulis yang telah diwariskan kepada generasi kita saat ini.
Melalui tulisan-tulisan karya mereka, mereka menjadi guru bagi kita saat ini. Mereka masih mengajar, masih memberikan ilmu, pengetahuan, gagasan dan ide bagi keberlangsungan kehidupan manusia. Tinggal bagaimana kita mengolah dan memahami sebaik-baiknya.
Dari uraian pendek di atas maka jelas dan terang benderanglah bahwa menulis adalah sebuah cara efektif untuk rantai intelektual antar generasi. Perlu kiranya, agar selalu semangat menulis dan membaca agar terhubung dengan ilmu pengetahuan yang luas. (*)
Editor : Adriyanto Syafril