Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Lima Menit yang Mengubah Karakter

Adriyanto Syafril • Jumat, 19 Juni 2026 | 07:35 WIB
Murid SD Negeri 04 Ampalu sedang mengisi jurnal kebaikan harian pada akhir pembelajaran beberapa waktu lalu. (TIM LAMAN GURU)
Murid SD Negeri 04 Ampalu sedang mengisi jurnal kebaikan harian pada akhir pembelajaran beberapa waktu lalu. (TIM LAMAN GURU)

Penulis : Dina Mitra, S.Pd. - UPTD SD Negeri 04 Ampalu

PENDIDIKAN tidak hanya berfokus pada pencapaian akademik. Pendidikan juga memiliki peran penting dalam membentuk karakter peserta didik.

Karakter positif tidak tumbuh secara instan. Karakter terbentuk melalui pembiasaan yang dilakukan secara konsisten dan dekat dengan kehidupan sehari-hari siswa.

Berangkat dari pemikiran tersebut, saya menerapkan Jurnal Kebaikan Harian di kelas VI UPTD SD Negeri 04 Ampalu. Kegiatan sederhana ini menjadi salah satu upaya untuk menumbuhkan budaya positif di lingkungan sekolah.

Pelaksanaan jurnal dilakukan pada akhir pembelajaran setiap hari. Sebelum pulang, siswa diberi waktu sekitar lima menit untuk menuliskan satu kebaikan yang mereka lakukan pada hari itu.

Mereka juga diminta menuliskan perasaan yang muncul setelah melakukan kebaikan tersebut. Dengan cara ini, siswa belajar mengenali sekaligus menghargai tindakan positif yang mereka lakukan.

Kebaikan yang dicatat tidak harus berupa hal besar. Membantu teman yang kesulitan belajar, membuang sampah pada tempatnya, meminjamkan alat tulis, atau jujur mengakui kesalahan merupakan contoh sederhana yang dapat mereka tuliskan.

Pada awal pelaksanaan, banyak siswa mengalami kesulitan. Mereka beranggapan bahwa kebaikan harus berupa tindakan luar biasa agar layak dicatat dalam jurnal.

Melalui pendampingan yang dilakukan secara berkelanjutan, pemahaman siswa mulai berubah. Mereka menyadari bahwa setiap tindakan positif, sekecil apa pun, memiliki nilai yang berarti.

Kesadaran tersebut membuat siswa lebih peka terhadap perilaku baik yang mereka lakukan maupun yang mereka temui dalam kehidupan sehari-hari. Perlahan, mereka mulai melihat banyak kesempatan untuk berbuat baik.

Seiring berjalannya waktu, jurnal kebaikan tidak hanya menjadi tempat mencatat pengalaman. Jurnal tersebut berkembang menjadi sarana refleksi diri bagi para siswa.

Mereka mulai terbiasa mengevaluasi tindakan yang telah dilakukan setiap hari. Kebiasaan ini membantu siswa memahami dampak dari perilaku mereka terhadap lingkungan sekitar.

Bahkan, beberapa siswa mengaku terdorong untuk melakukan lebih banyak kebaikan. Mereka ingin memiliki pengalaman positif yang dapat dituliskan dalam jurnal harian.

Dari kebiasaan sederhana inilah karakter positif mulai tumbuh. Nilai-nilai seperti kejujuran, kepedulian, tanggung jawab, dan empati berkembang secara alami dalam diri siswa.

Selain membentuk karakter, jurnal kebaikan juga menjadi sarana untuk melatih kemampuan literasi. Kegiatan menulis yang dilakukan secara rutin membantu siswa menyusun gagasan dengan lebih runtut.

Siswa juga belajar memilih kata yang tepat untuk mengungkapkan pikiran dan perasaan mereka. Kemampuan tersebut menjadi bagian penting dalam pengembangan keterampilan berbahasa.

Pembiasaan menulis setiap hari turut memperkuat budaya literasi di kelas. Siswa menjadi lebih terbiasa mengekspresikan pengalaman mereka melalui tulisan.

Dengan demikian, Jurnal Kebaikan Harian tidak hanya membantu membangun karakter positif. Kegiatan ini juga mendukung peningkatan kemampuan literasi siswa secara berkelanjutan.

Melalui langkah sederhana yang dilakukan secara konsisten, sekolah dapat menghadirkan pembelajaran yang lebih bermakna. Pendidikan tidak hanya menghasilkan siswa yang cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki karakter yang baik dalam kehidupan sehari-hari.(*)

Editor : Adriyanto Syafril
#Jurnal Kebaikan Harian #SD Negeri 04 Ampalu #Literasi Siswa #pendidikan karakter