Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Menyusuri Hulu Rereiket, Perdalaman Siberut Selatan, Mentawai: Temukan Pendidikan Tetap Tumbuh dalam Keterbatasan

Adriyanto Syafril • Jumat, 19 Juni 2026 | 11:16 WIB
TK Margaretha Matotonan di bawah naungan Yayasan Margaretha yang berada di pedalaman Kecamatan Siberut Selatan sedang berbaris sebelum masuk lokal beberapa waktu yang lalu. (TIM LAMAN GURU)
TK Margaretha Matotonan di bawah naungan Yayasan Margaretha yang berada di pedalaman Kecamatan Siberut Selatan sedang berbaris sebelum masuk lokal beberapa waktu yang lalu. (TIM LAMAN GURU)

Penulis : Elvis Betrizon - Asesor BAN PDM Sumbar

PADEK.JAWAPOS.COM-Pompong kecil itu perlahan membelah Sungai Rereiket. Arus yang deras, batang-batang kayu yang hanyut, serta tikungan sungai yang sempit menjadi bagian dari perjalanan menuju Matotonan, desa adat di pedalaman Siberut Selatan. Namun perjalanan ini bukan sekadar soal jarak dan medan yang harus ditaklukkan. Di hulu sungai itulah pendidikan bertumbuh dalam kesederhanaan, menyatu dengan kehidupan masyarakat Mentawai yang masih menjaga adat, bahasa ibu, dan kearifan leluhur mereka.

Sepertinya memang demikian adanya. “Kalau sudah sampai ke Siberut Selatan tetapi belum pernah ke Matotonan, berarti baru melihat Mentawai dari pinggirnya saja.” Sebab ketika mulai masuk ke pedalaman, barulah terasa bagaimana alam membentuk cara hidup masyarakat, ba­gaimana budaya tetap dijaga, dan bagaimana pendidikan bertumbuh di tengah keterbatasan. Di sanalah Mentawai tidak hanya terlihat sebagai destinasi, tetapi sebagai ruang kehidupan yang penuh ke­tegu­han dan pelajaran tentang kesederhanaan

Karenanya perjalanan m­e­nuju Desa Matotonan di pedalaman Siberut Selatan  bukan sekadar perjalanan biasa. Ia adalah perjalanan panjang yang mengajarkan kesabaran, keteguhan, dan penghormatan kepada alam serta budaya masyarakat Mentawai. Sudah tiga kali saya mengunjungi desa adat yang dijuluki sebagai Negeri Peramu Obat Tradisio­nal. Nama desa ini sendiri berasal dari tumbuhan “totonan” yang dahulu tumbuh subur dan banyak ditemukan di kawasan tersebut.

Saya mendapat penugasan untuk melaksanakan visitasi akreditasi pada sebagian besar satuan pendidikan PAUD di bawah naungan Yayasan Margaretha yang berada di pedalaman Kecamatan Siberut Selatan dan Kecamatan Siberut Barat Daya. Satuan pendidikan yang saya visitasi antara lain di  Madobag, Ugai, Matotonan Kinigdog, Puro,  Pei Pei, Tiop Katurai, dan  Pasakiat Taileleu.

Perjalanan tersebut kemudian kembali membawa saya ke Matotonan untuk melaksanakan visitasi di RA Islam Bakti 70, sekaligus memenuhi undangan dari masyarakat desa setempat. Dari perjalanan-perjalanan itulah saya semakin memahami wajah pendidikan di pedalaman Mentawai—tentang perjuangan guru, keterbatasan akses, serta keteguhan masyarakat dalam menjaga pendidikan anak-anak mereka di tengah tantangan alam dan budaya.

Matotonan adalah  satu-satunya desa atau dusun di Kabupaten Kepulauan Mentawai yang secara administratif dirayakan hari jadinya. Me­reka menggelar  punen atau pesta adat besar ‘Liat Eeruk’ yang diramaikan puluhan Sikerei hingga wisatawan dari mancanegara.  Namun setiap perjalanan selalu me­ngha­dir­kan cerita baru yang sulit dilupakan.

Perjalanan menuju Kecamatan Siberut Selatan bisa  ditempuh menggunakan kapal cepat yang berlayar tiga kali dalam seminggu. Setelah berjam-jam menembus laut, kapal akhirnya mendarat di Dermaga Maileppet, gerbang awal yang mempertemukan para pendatang dengan kehidupan di Pulau Siberut. Dari dermaga inilah perjalanan menuju berbagai wilayah pedalaman kembali dilanjutkan melalui jalur darat maupun sungai.

Jarak dari Muara Siberut menuju Desa Matotonan di­perkirakan sekitar 44,4 kilometer. Namun perjalanan tersebut tidak bisa disamakan dengan perjalanan darat biasa karena Matotonan berada di pedalaman dan di bagian hulu Sungai Rereiket.  Dari  Muara  kita bisa menuju wilayah Ugai/Madobag/Rogdok dengan me­nggunakan sepeda motor atau mobil dengan waktu tempuh sekitar 1,5 jam. Kondisi jalan sebagian masih tanah yang licin, berbatu, dan kubangan lumpur menjadi tantangan tersendiri, terutama saat hujan turun.   Setelah itu perjalanan dilanjutkan menggunakan pompong menyusuri Sungai Rereiket menuju Matotonan selama sekitar 2–3 jam, tergantung kondisi air sungai dan arus. Karena posisi Matotonan berada di hulu, perjalanan dilakukan dengan melawan arus sungai, sehingga terasa lebih lama dan menantang. Saat air surut, pompong sering kandas. Karena itu perjalanan terasa lebih panjang dan membutuhkan keterampilan tinggi dari operator pompong.

Pompong yang digunakan bukanlah perahu besar. Bentuknya panjang dan sempit, hanya cukup untuk empat orang. Dua orang penumpang duduk di tengah, satu operator mesin di belakang, dan satu navigator di depan yang bertugas membaca arah arus, batang kayu, serta jalur sungai. Kami diminta duduk tenang selama perjalanan. Sedikit saja terlalu banyak bergerak, pompong bisa oleng karena arus sungai cukup kuat dan badan perahu sangat ringan. Kadang-kadang pompong  terasa seperti tertahan ketika arus semakin kuat di tikungan sungai tertentu. Operator harus piawai memainkan gas dan menjaga keseimbangan agar pompong tetap stabil.  Operator  juga harus selalu waspada agar tidak terjadi tabrakan dengan pompong lain yang datang dari arah berlawanan, terutama saat melewati persimpangan aliran sungai. Di jalur tran­sportasi sungai tersebut tentu tidak ada lampu pengatur lalu lintas, sehingga kewaspadaan, pengalaman, dan saling memahami kode perjalanan men­jadi hal yang sangat penti­ng demi keselamatan penumpang

Di sepanjang perjalanan, tampak pepohonan besar menjulang tinggi di kiri dan kanan sungai, diselingi hamparan sagu dan pohon pisang yang tumbuh subur. Sebagian tepian sungai terlihat mengalami longsor, bahkan ada pohon-pohon besar yang tumbang hingga melintang di aliran air. Akar-akar kayu yang menggantung di bibir sungai menambah kesan liar dan alami khas pedalaman Mentawai.

Suara alam terdengar begitu hidup, berpadu dengan gemericik air dan deru mesin pompong yang membelah su­n­gai. Sesekali terlihat mas­yarakat menggunakan sampan kecil untuk bepergian, anak-anak mandi dan bermain di sungai, serta ibu-ibu yang mencuci pakaian di tepian. Pemandangan sederhana itu menghadirkan kesan hangat tentang kehidupan masyara­kat yang sangat dekat dengan alam.

Ketika tiba di Matotonan, suasana desa adat langsung terasa kuat. Rumah-rumah tradisional uma masih berdiri kokoh menjadi pusat kehidupan masyarakat. Desa ini menjadi salah satu wilayah yang sering dikunjungi tamu lokal maupun mancanegara karena keaslian budaya Mentawainya yang masih terjaga.

 “Aloita?” sapaan khas Mentawai yang berarti “apa kabar?” Sapaan kecil itu menghadirkan kedekatan yang tulus. Di desa inilah saya melihat pendidikan memiliki makna yang lebih luas daripada sekadar membaca dan berhitung. Saya datang untuk visitasi TK Margaretha dan RA  Islam Bakti 70, lembaga PAUD yang menjadi tempat awal anak-anak mengenal dunia belajar.  Yang satu kental dengan pendidikan Kristen/ Katholiknya, sedangkan yang satu lagi khas dengan nuansa Islamnya. Selain PA­UD, terdapat pula SD Negeri 02 Matotonan yang yang menjadi harapan masyarakat agar anak-anak mereka tetap memperoleh pendidikan meskipun hidup jauh di pedalaman.

Namun ada pengalaman unik yang sangat membekas ketika saya melakukan visitasi di PAUD tersebut. Bahasa sehari-hari yang digunakan mas­yarakat adalah bahasa lokal Mentawai. Guru dan anak-anak lebih terbiasa menggu­nakan bahasa ibu mereka dalam komunikasi sehari-hari. Ketika saya mencoba berkomunikasi menggunakan bahasa Indonesia, ternyata tidak semua dapat memahami dengan lancar. Bahkan dalam beberapa percakapan, saya memerlukan bantuan  Kepala SD menterjemahkannya  agar komunikasi berjalan baik.

Hal yang menarik dan cukup mengejutkan bagi saya adalah anak-anak dan sebagian guru justru lebih cepat me­nangkap percakapan menggunakan bahasa Minang di­bandingkan bahasa Indonesia formal. Barangkali karena interaksi masyarakat dengan pedagang atau pendatang dari Sumatera Barat membuat bahasa Minang terasa lebih akrab di telinga mereka. Momen itu membuat saya sadar bahwa pendidikan di daerah adat memiliki tantangan tersendiri, terutama dalam menjembatani bahasa lokal dengan bahasa pengantar nasional.

Namun di balik tantangan tersebut, saya melihat kekuatan besar dalam pendidikan berbasis budaya lokal. Anak-anak tumbuh tanpa kehilangan identitas mereka. Mereka tetap fasih berbahasa Mentawai, mengenal adat, dan memahami lingkungan tempat mereka hidup. Pendidikan di Matotonan tidak berdiri sendiri sebagai pendidikan formal semata. Ia tumbuh bersama adat, budaya, dan kearifan lokal masyarakat Mentawai.

Anak-anak tidak hanya belajar huruf dan angka di se­kolah, tetapi juga belajar mengenal hutan, sungai, dan kehidupan adat dari keluarga serta lingkungan mereka. Mereka diajarkan bagaimana menghormati alam karena alam dianggap sebagai bagian dari kehidupan yang harus dijaga keseimbangannya. Anak-anak mengenal tanaman obat, memahami aturan adat, serta belajar hidup bergotong royong sejak kecil. Pendidikan karakter di sana tumbuh secara alami melalui kehidupan sehari-hari.

Kentongan  adalah bagian penting dari kehidupan sosial masyarakat. Ia bukan sekadar alat bunyi tradisional, juga  sebagai alat komunikasi jarak jauh antarpermukiman atau antaruma (rumah adat). Bunyinya menjadi penanda yang mudah dikenali masyarakat. Di tengah suasana hutan dan sungai pedalaman Mentawai, suara kentongan yang me­nggema sering menjadi simbol kebersamaan dan kedekatan masyarakat dengan tradisi leluhur mereka.

Sosok sikerei memiliki peranan penting dalam pendidikan kearifan lokal tersebut. Sikerei bukan sekadar tabib tradisional, tetapi juga penjaga pengetahuan leluhur Mentawai.

Mereka memahami ritual adat, pengobatan alami, hu­bungan manusia dengan alam, serta nilai kehidupan yang diwariskan turun-temurun. Anak-anak tumbuh dengan melihat bagaimana sikerei dihormati karena kebijaksanaan dan pengetahuan mereka.

Di tengah perkembangan zaman, masyarakat Matotonan tetap berusaha menjaga identitas budaya mereka tanpa menolak pendidikan modern. Inilah yang membuat saya kagum. Pendidikan formal dan pendidikan adat berjalan berdampingan. Guru mengajarkan pelajaran sekolah, sementara lingkungan adat mengajarkan nilai kehidupan. Budaya lokal yang sangat menonjol adalah tradisi lisan dari para Sikerei, yang mulai terancam pu­nah akibat tidak adanya regenerasi penerus oleh generasi muda bumi Mentawai

Hal lain yang sangat saya kagumi adalah toleransi mas­yarakatnya. Mayoritas masya­rakat Matotonan beragama Kristen dan Katolik, namun kepala desanya seorang Muslim. Perbedaan keyakinan ti­dak menjadi sekat dalam kehidupan sehari-hari.

Mereka saling membantu dalam kegiatan adat, acara desa, maupun perayaan keagamaan. Keharmonisan itu terasa begitu tulus.

Saat menghadiri HUT De­sa Matotonan, saya melihat anak-anak menampilkan tarian tradisional dengan penuh percaya diri. Lagu-lagu daerah dinyanyikan, masyarakat memasak bersama, dan suasana kekeluargaan terasa sangat hangat. Saya melihat bagaimana budaya menjadi bagian penting dalam membangun rasa percaya diri anak-anak terhadap identitas mereka sendiri.

Perjalanan ke Matotonan membuat saya memahami bahwa pendidikan sejati bukan hanya tentang gedung sekolah atau teknologi mo­dern­. Pendidikan juga tentang menjaga akar budaya, menghormati alam, dan membentuk manusia yang mengenal identitasnya.  (*)

Editor : Adriyanto Syafril
#Desa Adat Matotonan #Sikerei Mentawai #Pendidikan Pedalaman #Siberut Selatan #Laman Guru Sumatera Barat