Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Ketika Jam Gadang Membuka Pintu untuk Guru

Adriyanto Syafril • Selasa, 23 Juni 2026 | 07:50 WIB
Para guru foto bersama dengan Koordinator Lapangan Jam Gadang, Indra Jaya , Selasa (17/6). (TIM LAMAN GURU)
Para guru foto bersama dengan Koordinator Lapangan Jam Gadang, Indra Jaya , Selasa (17/6). (TIM LAMAN GURU)

Penulis : Dilla, S.Pd. - Guru SMPN 2 Bukittinggi

Pagi di Bukittinggi selalu punya cara sendiri untuk me­nghadirkan kejutan. Di tengah hiruk-pikuk Pasar Atas yang perlahan bangun, sebuah pertemuan sederhana mengubah arah pagi itu menjadi perjalanan menembus waktu. Lebih dari empat dekade berdiri ko­koh sebagai ikon kota, Jam Gadang akhirnya membuka pintunya, mengizinkan empat guru dari sekolah berbeda di Bukittinggi menapaki bagian dalam yang selama ini hanya bisa dibayangkan dari jauh.

Peristiwa itu terjadi pada Selasa (17/6), beberapa hari sebelum puncak perayaan ulang tahun ke-100 Jam Gadang yang digelar 20-21 Juni 2026. Usai mengikuti peringatan 1 Muharram di Masjid Jamiak Tigo­baleh, empat guruWidyawati dari SDN 04 Birugo, Enny Revita dari SMPN 5 Bukittinggi, Tuti Khairina dari SMPN 2 Bukittinggi, dan Dilla, S.Pd., rekan sejawat dari SMPN 2 Bukittinggi yang juga mencatat perjalanan ini, mengarah ke Pasar Atas sekadar untuk sarapan. Tak ada rencana besar. Semua mengalir biasa, sampai mereka berjumpa dengan Indra Jaya, Koordinator Lapangan Jam Gadang.

Dengan santai namun penuh kehangatan, pria yang telah mengabdi satu dekade di Dinas Pariwisata itu melontarkan tawaran yang tak pernah mereka duga: kesempatan naik ke atas Jam Gadang dan melihat langsung ruang informasi yang suaranya membahana ke seluruh kawasan Pasar Atas.

“Kalau ibu-ibu ingin naik ke atas Jam Gadang, silakan. Bisa sekalian meliput atau membuat konten. Mumpung bulan ini genap 100 tahun,” ujarnya saat itu.

Menapaki Tangga Waktu

Ajakan itu datang seperti pintu yang tiba-tiba terbuka menuju ruang yang selama ini hanya menjadi latar foto dan simbol kebanggaan kota. Bagi Widyawati, Enny, Tuti, dan Dilla, ini adalah kesempatan langka. Lebih dari 40 tahun hidup di Bukittinggi, inilah kali pertama mereka mendapat izin menapaki bagian dalam bangunan yang menyimpan usia satu abad.

Di pelataran Jam Gadang, aktivitas sudah tampak sibuk. Panggung melingkar sedang dibangun sebagai persiapan puncak perayaan seabad. Menurut Indra Jaya, rangkaian acara telah disiapkan dengan meriah. Selain pementasan seni budaya, masyarakat disuguhi 20 ribu porsi makanan khas Minangkabau secara gratis pada Minggu (21/6). Kawasan Jam Gadang juga menjadi ruang terbuka bagi pemutaran film layar lebar dari berbagai negara selama sepekan.

“Ini momen besar untuk Bukittinggi. Kami ingin masyarakat ikut merasakan kemeriahan dan sejarahnya,” kata Indra Jaya di sela kesibukannya memantau persiapan.

Ketika menaiki tangga sempit di dalam bangunan, aroma kayu tua dan dinding yang menyimpan usia satu abad seolah berbicara. Saat sampai di ketinggian, pemandangan Kota Bukittinggi tersaji utuh: atap-atap rumah, jalur Pasar Atas, hingga lekuk hijau Ngarai Sianok membentang seperti lukisan hidup. Keempat guru itu terdiam sejenak, membiarkan mata mereka menyerap keindahan yang selama ini hanya bisa dipandang dari kejauhan.

Suara yang Membahana

Salah satu ruang yang paling menarik perhatian adalah ruang informasi, tempat pengeras suara besar dipasang. Dari ruangan inilah, informasi dan pengumuman dapat disiarkan hingga membahana ke seluruh kawasan Pasar Atas. Widyawati mendapat kesempatan langka mencoba menyampaikan himbauan melalui pengeras suara itu. Suaranya menggema, mengajak warga Bukittinggi datang meramaikan perayaan 100 tahun Jam Gadang dan menikmati berbagai agenda, termasuk pemutaran film layar lebar.Pak Jaya menjelaskan, penyampaian himbauan seperti itu memang dilakukan setiap satu jam sekali selama rangkaian kegiatan berlangsung.

Menjaga Jantung Waktu Bukittinggi

Di sela kunjungan, Indra Jaya berbagi cerita tentang bagaimana Jam Gadang dirawat. Bersama lima petugas lain, ia bekerja dalam dua shift untuk menjaga kebersihan dan ketahanan bangunan. Setiap pagi pukul 07.00 WIB, pintu Jam Gadang dibuka agar sinar matahari dan sirkulasi udara masuk, mengurangi kelembapan yang bisa merusak struktur bangunan. Pintu baru ditutup kembali pada pukul 22.00 WIB.

“Perawatan harus berkoordinasi dengan Balai Cagar Budaya di Batusangkar. Bahkan pengecatan jam hanya boleh sekali setahun dengan warna yang sama, supaya keasliannya tetap terjaga,” jelasnya.

Untuk mesin jam, proses pengengkolan dilakukan secara manual setiap tiga hari sekali agar dentang tetap hidup. “Jam ini akan berdentang sesuai waktu yang ditunjukkan. Tidak pernah meleset,” tambahnya.

Meski begitu, Indra Jaya menegaskan bahwa akses ke dalam Jam Gadang tidak dibuka untuk umum. Biasanya hanya peneliti, budayawan, akademisi, atau mahasiswa yang diberi izin untuk kepentingan riset sejarah dan arsitektur.

Pulang Membawa Cerita

Menjelang pukul 11.00 WIB, langit Bukittinggi mulai berubah kelabu. Gerimis tipis turun perlahan, menyelimuti Jam Gadang dalam nuansa yang syahdu. Widyawati, Enny, Tuti, dan Dilla pun turun, meninggalkan ruang-ruang tua yang baru saja memberi mereka kesempatan mendengar sejarah berbicara.

Pagi itu, mereka pulang dengan satu kesadaran baru: Jam Gadang bukan hanya penunjuk waktu. Ia adalah saksi zaman, penjaga ingatan, dan denyut sejarah yang tak pernah berhenti berdentangkini genap berusia seabad, berdiri tegak mengundang seluruh Nusantara untuk datang dan meraya­kannya. (*)

 

Editor : Adriyanto Syafril
#Laman Guru Sumatera Barat