Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Menyusuri Ranah Tan Malaka

Adriyanto Syafril • Rabu, 24 Juni 2026 | 07:25 WIB
Rizky Ramadhan Yusra
Rizky Ramadhan Yusra

Penulis : Rizky Ramadhan Yusra - Siswa UPTD SMP N 1 Kecamatan Guguak.

Siang ini Ayah mengajakku pergi ke museum bersejarah yaitu Museum PDRI (Pemerintahan Darurat Republik Indonesia).

“Nak, ayo kita berangkat menyusuri hari ini,” ajak Ayah.

“Ke mana arah perjalanan kita, Yah?” tanyaku.

“Kita pergi ke museum bersejarah, Nak,” jawab Ayah.

Kami pun bergegas berangkat menuju museum mengendarai sepeda motor tua milik kakek. Sepanjang perjalanan, mata kami dimanjakan sawah hijau dan air sungai yang jernih. Saya dibuat terkagum-kagum saat Ayah memberhentikan motornya di sebuah rumah.

“Rumah siapa ini, Yah?” tanyaku.

“Ini rumah masa kecil Bapak Republik Indonesia, Nak, yaitu Tan Malaka,” jawab Ayah.

Kami pun izin masuk kepada penjaga rumah, yaitu cicit dari Bapak Tan Malaka.

Sebelum memasuki rumah, kami ke makam Bapak Tan Malaka serta orang tuanya. Informasi yang kami dapat, di sana hanya tanah saja, sedangkan jenazah Bapak Tan Malaka dimakamkan di Kediri, Jawa Timur.

Setelah kami masuk, tidak banyak peninggalan di dalamnya, hanya foto, tempat tidur, serta lemari-lemari. Informasi yang saya dapat, Bapak Tan Malaka adalah guru dari presiden pertama kita, Soekarno.

Keluar dari rumah Bapak Tan Malaka, kami izin pamit melanjutkan perjalanan. Kami melewati sungai yang dinamakan “Ikan Banyak” karena sungai itu memiliki populasi ikan yang banyak dan jinak yang dinamakan ikan larangan.

Setelah melewati sungai, perjalanan kami lurus sampai tiba di Rumah Seribu Gonjong yang sangat indah. Kawasan Seribu Rumah Gonjong terletak di Jorong Sungai Dodok, Nagari Koto Tinggi, Kecamatan Gunung Omeh, Kabupaten Lima Puluh Kota.

Setiap rumah terdapat lima gonjong yang mencerminkan lima rukun Islam. Di dalam rumah gonjong ini tidak ada pembatas. Desa ini terkurung bukit. Oleh sebab itu, akses menuju kampung ini sangat sulit, berkelok-kelok, dan curam. Desa Wisata Seribu Gonjong ini sudah diresmikan sebagai salah satu dari 50 desa wisata terbaik oleh Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, yaitu Bapak Sandiaga Sa­la­huddin Uno pada tahun 2021.

Setelah puas menikmati pemandangan, tidak lama kemudian kami melanjutkan perjalanan. Kurang lebih 30 menit perjalanan, kami pun tiba di Museum PDRI yang tepatnya terletak di Nagari Koto Tinggi.

Pada saat memasuki museum, tertulis sebuah kutipan:

“Menghentikan perjuangan berarti pengkhianatan terhadap cita-cita semula dan terhadap korban-korban yang telah jatuh mati atau cacat di medan perjuangan.”

Gedung ini terdapat 5 lantai galeri yang masing-masing lantainya memiliki alur cerita (storyline) yang berbeda-beda. Mulai dari Proklamasi Kemerdekaan, Agresi Militer Belanda ke Yogyakarta dan Bukittinggi, pelucutan senjata Jepang, Perundingan Roem-Royen, dan pemulihan pemerintahan Republik Indonesia.

Museum ini memiliki arsitektur yang megah nan kokoh. Di sini, kita membuka kembali cerita bersejarah, se­perti respons proklamasi di luar Jawa, tulisan tangan teks proklamasi, serta benda-benda bersejarah peninggalan pahlawan kita.

Sebagai informasi, museum ini dibuka setiap hari Selasa sampai Minggu, dimulai dari pukul 10.00 sampai 16.00 WIB.

Sore pun perlahan menyapa, menggantikan siang yang cerah. Kami bergegas pulang. Di perjalanan, kami kembali disuguhkan dengan pemandangan yang indah nan rancak. Kami pun sampai di rumah dan berakhirlah cerita perjalananku pada hari ini.

Semoga cerita ini dapat menambah wawasan kita dan memperkaya pengetahuan tentang pahlawan-pahlawan yang telah gugur pada masa merebut kemerdekaan Indonesia. (*)

Editor : Adriyanto Syafril
#Museum PDRI Koto Tinggi #Wisata Sejarah Lima Puluh Kota #Seribu Rumah Gonjong #Laman Guru Limapuluh Kota #Rumah Tan Malaka