Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Ayahku ada Untukku

Adriyanto Syafril • Kamis, 25 Juni 2026 | 08:50 WIB
Tatapan seorang anak seolah mengisyaratkan rasa bangga kepada ayahnya saat menerima rapor beberapa waktu lalu. (TIM LAMAN GURU)
Tatapan seorang anak seolah mengisyaratkan rasa bangga kepada ayahnya saat menerima rapor beberapa waktu lalu. (TIM LAMAN GURU)

Penulis : Wisma Diandra, M.Pd - Kepala SDN 28 Payakumbuh

Di lingkungan sekolah, hari pembagian rapor sering kali menjadi ajang pembuktian tersirat bagi anak-anak. Ketika melihat teman-temannya di­dampingi orang tua, seorang anak yang ayahnya hadir akan merasakan letupan rasa bangga yang luar biasa.

Di hadapan teman sebaya, kehadiran ayah memberikan rasa percaya diri yang lebih besar. Anak merasa bangga da­lam arti positif karena memiliki sosok ayah yang peduli dan terlibat dalam kehidupannya. Anak juga merasa diistimewakan karena menyadari bahwa ayahnya mungkin sibuk bekerja. Ketika sang ayah memilih meluangkan waktu untuk hadir ke sekolah, anak mena­ng­kap pesan yang sangat berarti, yakni, “Kamu lebih penting daripada pekerjaan Ayah hari ini.”

Kehadiran ayah yang me­nyediakan waktunya untuk datang ke sekolah memberikan dampak psikologis terhadap perkembangan anak. Sosok ayah, yang sering kali diidentikkan sebagai figur pelindung dan pencari nafkah yang sibuk, ternyata memiliki pengaruh yang signifikan dalam momen akademis anak.

Pertama, kehadiran ayah dapat meningkatkan self-esteem (harga diri) anak. Saat ayah hadir, anak merasa dirinya berharga dan dicintai. Pera­sa­an ini menjadi fondasi yang kuat bagi tumbuhnya harga diri. Anak berkembang dengan keyakinan bahwa kebera­daan dan usaha mereka di sekolah diapresiasi oleh figur yang mereka kagumi.

Kedua, kehadiran ayah memperkuat secure attachment (ikatan aman). Dalam psikologi, secure attachment terbentuk ketika anak merasa bahwa orang tuanya selalu hadir dan dapat diandalkan. Kehadiran ayah saat pembagian rapor meyakinkan anak bahwa ayah tidak hanya hadir secara finansial, tetapi juga secara emosional dan fisik.

Ketiga, kehadiran ayah dapat meningkatkan motivasi belajar. Mengetahui bahwa ayah memantau langsung per­kem­bangan belajarnya melalui guru membuat anak merasa bahwa usahanya tidak sia-sia. Hal ini memunculkan motivasi intrinsik dalam diri anak untuk memberikan yang terbaik pada semester berikutnya, bukan karena takut dihukum, melainkan karena ingin kembali membuat ayah bangga.

Selain itu, berbagai penelitian psikologi menunjukkan bahwa keterlibatan aktif seo­rang ayah (active fathering) ber­korelasi positif dengan kesehatan mental anak yang lebih stabil. Anak-anak yang ayahnya terlibat cenderung lebih mampu mengelola stres, lebih jarang mengalami kecemasan di sekolah, serta memiliki kontrol emosi yang lebih baik.

Untuk itu, wahai para ayah, yang dinanti anak dalam momen pembagian rapor bukanlah angka-angka di atas kertas, melainkan tepukan di bahu, se­nyuman bangga, atau pelukan hangat dari sang ayah saat berjalan bersama keluar dari ruang kelas. Momen selama tiga puluh menit di sekolah itu akan diingat anak seumur hidupnya.

Sekolah juga memiliki peran penting dalam memberikan pemahaman kepada para ayah agar dapat terlibat dalam berbagai kegiatan sekolah, khususnya saat pengambilan rapor.

Sekolah bukan sekadar tempat anak belajar secara akademis, melainkan sebuah ekosistem yang menjembatani hubungan antara anak, orang tua, dan guru. Mengingat besarnya dampak psikologis kehadiran seorang ayah bagi anak, sekolah perlu bergeser dari sekadar “mengundang” menjadi mengedukasi dan memfasilitasi para ayah agar mau dan mampu terlibat secara aktif.

Berikut beberapa strategi yang dapat dilakukan sekolah untuk mendorong partisipasi para ayah.

1. Mengubah Narasi Undangan (Restrukturisasi Komunikasi)

Sering kali, surat undangan sekolah bersifat formal dan ditujukan secara umum kepada “Orang Tua/Wali”. Untuk menyasar para ayah, sekolah perlu me­laku­kan pendekatan komunikasi ya­ng lebih personal dan persuasif.

Sekolah dapat menambahkan kalimat khusus dalam surat undangan, misalnya, “Kami sangat mengharapkan kehadiran para Ayah/Bapak untuk mendampingi putra-putri Anda dalam sesi evaluasi ini.”

Selain itu, sekolah dapat menyertakan lembar edukasi singkat dalam surat undangan atau melalui media digital, se­perti WhatsApp dan surat elektronik, mengenai pentingnya ke­hadiran ayah bagi per­kem­bangan psikologis anak.

2. Menyediakan Fleksibilitas Waktu

Hambatan terbesar bagi para ayah untuk hadir biasanya adalah benturan dengan jam kerja. Oleh karena itu, sekolah perlu berperan sebagai fasilitator yang solutif.

Sekolah dapat menerapkan sistem pemilihan slot waktu, misalnya setiap 20 menit, yang dapat dipilih oleh ayah sesuai ketersediaannya. Se­kolah juga dapat menyediakan jadwal pada sore hari setelah jam kerja atau pada hari Sabtu.

Selain itu, pemberitahuan mengenai jadwal pembagian rapor sebaiknya disampaikan minimal dua hingga tiga minggu sebelumnya agar para ayah memiliki waktu yang cukup untuk mengajukan izin atau mengatur ulang jadwal pekerjaan.

3. Menciptakan Atmosfer Sekolah yang Ramah Ayah

Banyak ayah merasa canggung datang ke sekolah karena lingkungan sekolah sering kali didominasi oleh para ibu. Oleh sebab itu, sekolah perlu menciptakan suasana yang lebih inklusif dan nyaman agar para ayah merasa diterima dan terdorong untuk terlibat.

Pada akhirnya, ketika seko­l­ah berhasil mengetuk hati para ayah dan memberikan pemahaman bahwa kehadiran mereka adalah “hadiah terbaik” bagi psikologis anak, maka hari pem­bagian rapor tidak lagi dipandang sebagai beban administratif semata, melainkan menjadi momen berharga yang dinanti-nantikan oleh seluruh anggota keluarga. (*)

Editor : Adriyanto Syafril
#Laman Guru Payakumbuh