Penulis : Alvin Gumelar Hanevi, M.Pd. - Guru SMK N 6 Padang
Salah satu isu pendidikan yang paling mendesak saat ini adalah krisis literasi di kalangan murid. Meskipun dipahami akses terhadap pendidikan semakin luas dan teknologi semakin berkembang pesat, kemampuan dasar membaca, memahami isi bacaan, dan menganalisis informasi masih menjadi tantangan serius di berbagai jenjang pendidikan dasar.
Berdasarkan hasil assessment Programme for International Student Assessment (PISA) tahun 2022 untuk kategori literasi membaca Indonesia berada di rangking 69 dari 81 negara yang berpartisipasi. Hal ini juga diperkuat dengan data dan berbagai temuan lapangan menunjukkan bahwa banyak siswa mampu membaca teks, tetapi belum tentu memahami maknanya secara mendalam. Kondisi ini berdampak pada kemampuan mereka dalam menyelesaikan soal berbasis analisis, berpikir kritis, hingga memahami persoalan sehari-hari. Akibatnya, proses pembelajaran sering kembali pada pola hafalan, bukan pemahaman.
Di era digital saat ini, krisis literasi menjadi semakin kompleks.
Informasi tersebar dengan cepat melalui media sosial, namun tidak semua siswa memiliki kemampuan untuk membedakan informasi yang valid dan hoaks. Lemahnya literasi digital membuat mereka rentan terhadap misinformasi, yang pada akhirnya dapat memengaruhi cara berpikir dan pengambilan keputusan.
Penyebab masalah ini tidak hanya terletak pada siswa, tetapi juga pada sistem pembelajaran yang masih terlalu fokus pada penyelesaian kurikulum dan pencapaian nilai ujian. Budaya membaca yang belum terbentuk kuat, kurangnya pembiasaan diskusi kritis di kelas, serta penggunaan teknologi gadget yang tidak dibatasi turut memperburuk keadaan.
Untuk menjawab tantangan ini, pendidikan perlu lebih menekankan pembelajaran berbasis pemahaman dan literasi. Guru perlu mendorong siswa untuk lebih sering membaca, berdiskusi, dan mengolah informasi secara kritis. Sekolah juga harus menciptakan lingkungan yang mendukung budaya literasi, bukan hanya mengejar hasil ujian semata.
Selain itu peran vital orang tua dengan membentuk iklim literasi yang baik di rumah juga mendukung tercapainya perbaikan literasi murid.
Jika krisis literasi ini tidak segera diatasi, maka dampaknya akan terasa dalam jangka panjang, terutama pada kualitas sumber daya manusia. Oleh karena itu, peningkatan literasi harus menjadi prioritas utama dalam perbaikan pendidikan saat ini.
Tagline “Menuju generasi emas Indonesia di tahun 2045” akan sukar tercapai jika perbaikan literasi tidak dibenahi. Pemerintah berkerjasama dengan seluruh komponen pendidikan agar persoalan rendahnya literasi bisa diperbaiki sesegera mungkin. Dengan demikian harapan agar anak bangsa di masa depan mampu bersaing dengan negara negara maju lainnya dalam konteks literasi pendidikan yang baik akan terwujud. (*)
Editor : Adriyanto Syafril