Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Ibu Hebat, Anak Berkarakter

Adriyanto Syafril • Kamis, 9 Juli 2026 | 09:00 WIB
Kiki Krisdianti, S.Pd
Kiki Krisdianti, S.Pd

Penulis : Kiki Krisdianto, S.Pd - Guru SDN 28 Payakumbuh

DI  tengah derasnya perkembangan zaman dan kemajuan teknologi, pendidikan karakter menjadi tantangan besar bagi setiap orang tua. Banyak yang beranggapan, tugas mendidik sepenuhnya berada di tangan sekolah.

Padahal, pendidikan yang paling mendasar justru dari rumah. Sebelum mengenal guru di sekolah, dan memahami pelajaran dari buku, seorang anak terlebih dahulu belajar dari pelukan, ucapan, dan teladan dari seorang ibu yang memiliki peran penting membentuk karakter anak.

Ungkapan “Al-ummu madrasatul ula” yang berarti ibu adalah madrasah pertama bagi anak-anaknya bukanlah sekadar kata-kata indah. Ungkapan ini mengandung makna yang sangat dalam. Sejak seorang anak dilahirkan, ibulah yang pertama kali mengajarkan berbagai hal. Mulai dari berbicara, bersikap sopan, berdoa, berbagi, hingga mengenal kasih sayang dan rasa hormat kepada sesama.

Sebagai seorang guru sekolah dasar, saya melihat bahwa keberhasilan seorang anak tidak hanya ditentukan kecerdasan akade­miknya. Anak yang memiliki sikap santun, disiplin, jujur, bertanggung jawab, dan peduli terhadap teman-temannya umumnya berasal dari keluarga yang penuh perhatian dan keteladanan serta membiasakan nilai-nilai tersebut sejak dini. Semuanya tidaklah instan, tetapi hasil dari pendidikan yang diberikan setiap hari orang tua, terutama ibu.

Anak adalah peniru yang ulung. Mereka belajar bukan hanya dari nasihat, tetapi lebih dari apa yang mereka lihat dan dengar. Ketika seorang ibu berbicara dengan lembut, menghormati orang lain, rajin beribadah, dan bersikap sabar, tanpa disadari anak akan belajar menjadi pribadi yang sama.

Sebaliknya, jika anak tumbuh dalam lingkungan yang penuh kemarahan, perkataan kasar, atau kurangnya perhatian, maka sikap itu pun berpotensi ditiru. Oleh karena itu, keteladanan adalah yang utama daripada hanya memberi nasihat.

Di era digital sekarang, peran ibu semakin penting. Gawai dan media sosial memberikan banyak manfaat, tetapi juga memberi pengaruh negatif terhadap per­kembangan anak. Di sinilah ibu menjadi benteng pertama yang mengarahkan anak agar mampu memanfaatkan teknologi secara bijak. Pendampingan, pengawasan, dan komunikasi yang hangat menjadi kunci agar anak tidak kehilangan arah.

Mendidik anak bukan hanya tentang memenuhi kebutuhan makan, pakaian, dan pendidikan formal. Namun, anak membutuhkan perhatian, pelukan, doa, dan waktu berkualitas bersama keluarga. Kadang, beberapa menit mendengarkan cerita anak pulang sekolah jauh lebih berharga daripada hadiah yang mahal. Dari perhatian sederhana itulah anak merasa dicintai, dihargai, dan memiliki tempat untuk berbagi.

Dalam Islam, kedudukan ibu sangat mulia. Rasulullah SAW bersabda, ibu adalah orang yang paling berhak mendapatkan perlakuan baik dari anaknya. Kenapa, karena begitu besar pengorbanan seorang ibu, mulai dari mengandung, melahirkan, menyusui, merawat, hingga mendidik anak dengan penuh kasih sayang. Ka­sih sayangnya menjadi kekuatan bagi tumbuh kembang seorang anak.

Namun, menjadi ibu bukan berarti harus sempurna dan selalu benar. Yang terpenting adalah terus belajar, memperbaiki diri, dan berusaha memberikan teladan yang baik. Ketika ibu mau meminta maaf jika berbuat salah, mau mendengarkan pendapat anak, dan terus meningkatkan kualitas dirinya, sesungguhnya ia sedang memberikan pelajaran hidup yang sangat berharga.

Sekolah memang memiliki tanggung jawab dalam me­ngembangkan ilmu pengetahuan dan keterampilan anak. Akan tetapi, pendidikan karakter tidak akan berhasil tanpa dukungan keluarga. Gu­ru dan orang tua harus berjalan beriringan. Apa yang diajarkan di sekolah perlu diperkuat kembali di rumah melalui kebiasaan-kebiasaan baik yang dilakukan setiap hari.

Membiasakan anak salat tepat waktu, mengucapkan salam, berkata jujur, membantu pekerjaan rumah, menghormati orang yang lebih tua, serta bertanggung jawab terhadap tugas-tugas kecil merupakan pendidikan karakter yang akan terus melekat hingga dewasa. Nilai-nilai inilah yang kelak menjadi bekal mereka dalam menghadapi kehidupan.

Keberhasilan seorang anak bukan hanya diukur dari nilai rapor atau prestasi yang diraih. Yang lebih utama adalah ba­gai­mana ia tumbuh menjadi pribadi yang berakhlak mulia, bertanggung jawab, peduli terhadap sesama, dan mampu memberikan manfaat bagi masyarakat.

Oleh karena itu, hargai dan dukunglah peran seorang ibu sebagai pendidik pertama dan utama dalam keluarga. Dari rumah yang dipenuhi kasih sayang, doa, dan keteladanan, akan lahir generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga kuat iman, luhur akhlaknya, serta siap menghadapi tantangan masa depan. bangsa yang besar selalu di­bangun oleh keluarga yang kuat, dan keluarga yang kuat lahir dari tangan seorang ibu yang mendidik dengan cinta dan keteladanan. (*)

 

Editor : Adriyanto Syafril
#Laman Guru Payakumbuh