“Selain itu, angin puting beliung juga menyebabkan petani mengalami kerugian, karena ada lahan basah atau sawah pada 3 tempat yang gagal panen. Namun, semua data ini masih bersifat sementara. Masih ada perubahan, karena belum semua nagari melaporkan kerugian atau dampak akibat puting beliung yang terjadi ini,” kata Kepala Pelaksana (Kalaksa) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Limapuluh Kota, Joni Amir kepada wartawan, Selasa (6/4).
Joni Amir didampingi Manajer Pusat Pengendali Operasi Penganggulangan Bencana (Pusdalops PB) BPBD Limapuluh Kota, Rahmadinol menyebutkan, 31 nagari yang mengalami kerugian atau terdampak bencana puting beliung adalah Nagari Tungkar, Nagari Situjuahbatua, Nagari Situjuah Banda Dalam, Nagari Ladanglaweh, dan Nagari Situjuahgadang di Kecamatan Situjuah Limo Nagari. Selanjutnya, Nagari Kotoalam di Kecamatan Pangkalan Koto Baru.
“Berikutnya, Nagari Mungo, Nagari Sungaikamuyang, dan Nagari Tanjuangharo Sikabu-kabu Padangpanjang di Kecamatan Luhak, juga terdampak dan mengalami kerugian akibat puting beliung. Begitupula dengan Nagari Suayan, Nagari Batuhampar, Nagari Koto Tangah Batu Ampa, dan Nagari Sariaklaweh di Kecamatan Akabiluru,” kata Joni Amir didampingi Rahmadinol.
Selanjutnya, nagari yang terdampak puting beliung adalah Nagari Pandamgadang di Kecamatan Gunuang Omeh. Kemudian, Nagari Limbanang dan Nagari Sungairimbang di Kecamatan Suliki. Berikutnya, Nagari Halaban, Nagari Tanjuanggadang, dan Nagari Bukiksikumpa di Kecamatan Lareh Sago Halaban.
“Selain itu, Nagari Talangmaua, Nagari Simpangkapuak, dan Nagari Sungaiantuan di Kecamatan Mungka, juga terdampak dan mengalami kerugian akibat angin puting beliung. Begitu pula dengan Nagari Solok Bio-Bio di Kecamatan Harau,” kata Joni Amir.
Selanjutnya, nagari yang terdampak puting beliung di Limapuluh Kota adalah Nagari Banjaloweh, Nagari Sungainaniang, Nagari Kototangah, dan Nagari Maek di Kecamatan Bukitbarisan. Kemudian, Nagari Piobang dan Nagari Simalanggang di Kecamatan Payakumbuh. Serta Nagari Kubang dan Nagari Guguak VII Koto Talago (Ampang Gadang) di Kecamatan Guguak.
Mengingat kondisi cuaca yang masih ekstrim, BPBD Limapuluh Kota mengingatkan masyarakat untuk tetap waspada. “Kami juga berharap peran serta dari pemerintah nagari dan masyarakat, untuk dapat menebangi pohon-pohon besar yang tumbuh di sekitar permukiman penduduk. Ini untuk antisipasi terjadinya angin kencang susulan,” kata Joni Amir.
Menurut Kepala BMKG Stasiun Meteorologi Bandara Internasional Minangkabau (BIM) Padangpariaman, Sakimin, fenomena angin kencang yang melanda sejumlah daerah di Sumbar sejak Rabu lalu (31/3) dipicu oleh adanya pusat tekanan rendah di Samudera Hindia barat daya Banten. Tekanan rendah ini menyebabkan adanya pola pertemuan angin di wilayah pesisir Sumbar yang memicu pertumbuhan awan hujan cukup kuat sehingga menyebabkan cuaca ekstrem.
“Ini siklus dampak dari gerak semu matahari, posisi lagi di Equator, ada gelombang Rossby itu. Gelombang atmosfer itu yang menjalar ke arah barat, sehingga angin ketarik ke daerah bertekanan rendah, yang banyak kena itu pesisir barat karena berhadapan langsung dengan Samudra Hindia di sisi barat,” ujar Sakimin seperti dikutip dari sejumlah media daring. (frv) Editor : Novitri Selvia