Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Surau Tobiang Syech Munir Salim, Tempat Menggembleng Anak Muda Saisuak

Novitri Selvia • Rabu, 20 April 2022 | 10:00 WIB
PERTAHANKAN TRADISI: Surau Tobiang Nur Hidayatullah Syech Munir Salim, Jorong Sikabu-kabu, Nagari Sikabu-kabu Tanjuang Haro Padang Panjang, Kecamatan Luak, Limapuluh Kota.(ARFIDEL ILHAM/PADEK)
PERTAHANKAN TRADISI: Surau Tobiang Nur Hidayatullah Syech Munir Salim, Jorong Sikabu-kabu, Nagari Sikabu-kabu Tanjuang Haro Padang Panjang, Kecamatan Luak, Limapuluh Kota.(ARFIDEL ILHAM/PADEK)
Surau Tobiang wadah tempat pembentukkan karakter generasi muda tempo dulu di Nagari Sikabu-kabu Tanjuang Haro Padang Panjang, Kecamatan Luak, Kabupaten Limapukuh Kota.

Di surau inilah tempat belajar agama, beladiri dan melatih kecakapan bersosialisasi. Surau yang didirikan Munir Salim (alm) ini, kini bernama Nur Hidayatullah yang lebih banyak digunakan untuk ”suluak”.

Masih bangunan terbuat dari kayu, surau yang diketahui direnovasi tahun 1974 ini merupakan surau yang mengajarkan ilmu ”Tarekat Naksabandiyah”. Surau ini sampai sekarang masih menjadi tempat aktivitas ”suluak”, terutama bulan Ramadhan.

”Surau Tobiang dulu menjadi sarana pendidikan Islam bagi anak-anak muda di Nagari Sikabu-kabu Tanjuang Haro Padang Panjang, Kecamatan Luak, Limapuluh Kota.

Bahkan, tidak jarang juga santri dari Kabupaten Agam dan Pekanbaru datang mempelajari ilmu Tarekat Naksabandiyah ke surau ini,” ucap Buya Darmis yang kini menjadi mengelola surau.

Tertutup rapat, di dalam surau terdapat sekat-sekat terbuat dari kain sebagai pembatas.
Peserta atau orang yang sedang melakukan suluak berada dalam sekat-sekat yang tak boleh diganggu, hal itu terlihat sakral ketika Padang Ekspres berkunjung, Sabtu (16/4) sore.

”Saat ini ada sebanyak 30 orang suluak di Surau Tobiang. Sebanyak 7 orang di antarannya laki-laki dan rata-rata berusia 60 tahun ke atas. Peserta suluak melatih diri untuk mati sebelum mati menghadap sang Ilahi,” ucap Buya Darmis.

Tidak hanya dari Limapuluh Kota, peserta suluak ini juga berasal dari Kabupaten Agam dan Pasaman. Menurut Buya Darmis, Surau Suluak yang berada di Jorong Sikabu-kabu ini, sudah dikenal sejak lama dengan ajaran ilmu Tarekat Naqsabandiyah. Sejak zaman Munir Salim dan dilanjutkan anaknya hingga saat ini.

Tidak hanya soal tarekat, Surau Tobiang sejak dulu lebih dikenal sebagai tempat mengajarkan ilmu agama bagi generasi muda. Anak-anak muda di Minangkabau secara umum, setelah berusia balig tempo dulu menjadikan surau sebagai rumah kedua alias tidak lagi tidur di rumah ayah ibu.

Begitulah generasi muda di Minangkabau secara umum dalam kehidupannya. Di sana, anak-anak muda belajar ilmu agama belajar mu bela diri sebelum merantau untuk mencari pengalaman hidup di perantauan.

Hanya saja seiring berjalannya waktu, kebiasaan tersebut mulai hilang, hanya sebagian kecil, bahkan sudah nyaris tak ditemui lagi di zaman sekarang.

”Ya, dulu kami bersama-sama tidur di surau, belajar mengaji, belajar silat dan tidur di surau bersama anak-anak muda lainnya. Pulang ke rumah hanya usai subuh untuk membantu orangtua diladang atau sawah, sorenya kembali ke surau,”ucap Herman Gawai, kakek berusia 67 tahun yang masih merasakan kehidupan di surau.

Kendati sudah berubah, namun Surau Tobiang masih setia menerima jamaah yang ingin Suluak. Kegiatan ini dilakukan selama 40 hari di saat bulan Ramadhan setiap tahunnya.

”Sekarang Surau Tobiang hanya menggelar pengajian agama setiap minggu, sekali setiap malam Jumat dan suluak setahun sekali. Namun sudah tidak ada lagi anak muda yang mau tidur dan belajar agama di surau,” tutup Buya Darmis. (***) Editor : Novitri Selvia
#Surau Tobiang Syech Munir Salim #Nagari Sikabu-kabu Tanjuang Haro Padang Panjang #Limapukuh Kota