Upacara ini digelar sebagai bentuk kejengkelan dan kampanye untuk menyelamatkan lingkungan. Krisis lingkungan yang terjadi di Nagari dengan singkatan “Sitapa” belakangan memang sedang hangat-hangatnya serta menjadi perhatian berbagai pihak.
Hutan pinus seluas kurang lebih 50 Hektar yang dulunya asri ditumbuhi pohon pinus berumur puluhan tahun, kini berubah menjadi lahan tandus pengundang bencana. Betapa tidak, pohon pinus yang sebelumnya berfungsi sebagai penahan longsor di tebing bukit dengan kemiringan hampir mencapai 70 derajat itu kini sudah kritis.
Berbagai potensi bencana seperti kekeringan, longsor, bahkan galodo menjadi sebuah ketakutan di tengah masyarakat, terutama para petani yang mempunyai sawah dan lahan di sekitar tebing hutan pinus.
Upacara yang di inisiatori oleh sekumpulan anak muda Komunitas Ladang paloma ini, dihadiri Korwil Gerakan Pemuda Tani (Gempita) Sumatera Barat, Nurkholis. Para pemuda dengan berbagai latar belakang seperti penggiat kopi, penggiat pertanian modern, aktivis sosial media, hingga pemerhati lingkungan hidup, unjuk bentuk protesnya dengan cara tersebut.
Tidak hanya upacara bendera di tengah hutan gundul, Komunitas Ladang Paloma bersama Gempita juga berupaya melakukan reboisasi di tengah krisis lingkungan dengan menanam tanaman tua seperti pokat, durian, dan berbagai tumbuhan lain.
"Kami berharap masyarakat sadar akan pentingnya reboisasi untuk menghindari berbagai bencana alam ke depannya", kata Eki, seorang aktivis lingkungan yang kini aktif sebagai Dirut Badan Usaha Milik Nagari (Bumnag) Sitapa, kemarin.
"Kemerdekaan yang sepenuhnya belum sampai kepada para petani dan lingkungan, kemerdekaan baru akan sampai ketika para petani sejahtera, dan lingkungan kita terbebas dari bencana yang disebabkan sekelompok oknum tidak bertanggungjawab", sambung Dendy Selmaeza, salah satu penggerak komunitas Ladang Paloma.
Nurkholis juga menuturkan di waktu bersamaan, "Masyarakat yang peduli harus segera bergerak untuk menyelamatkan lahan yang sudah kritis, bergeraklah meskipun dengan jumlah sedikit, lebih baik memulai dari hal kecil dari pada tidak sama sekali."
Acara peringatan kemerdekaan di tengah hutan gundul ini juga diikuti dengan penanaman kembali bibit tanaman tua seperti alpukat, durian, dan manggis. Proses reboisasi ini akan berlanjut menjadi program 10.000 tanaman baru untuk menyelamatkan lahan kritis.(fdl/rell) Editor : Novitri Selvia