PADEK.JAWAPOS.COM-Jorong Subarang Parik, Kenagarian Kototangah Batu Hampa, Kecamatan Akabiluru, Kabupaten Limapuluh Kota, diguncang kebakaran hebat yang melibatkan empat rumah pada pukul 04.00, Minggu (11/2).
Salah satu rumah yang terbakar adalah rumah kontrakan yang dihuni oleh keluarga Ezif Marini, seorang ibu rumah tangga dengan dua orang anak.
KEBAKARAN yang terjadi di tengah malam itu diduga kuat disebabkan oleh ulah ‘polisi gadungan’. Meskipun api masih kecil pada awalnya, dua orang yang mengenakan pakaian polisi terlihat berada di lokasi kebakaran sebelum api menyebar.
Ezif Marini, yang tengah terbaring tidak sehat, bercerita bahwa saat itu ia sedang terjaga dan merasa kesulitan tidur. Sekitar pukul 12.00, ia mendengar suara teriakan seorang ibu (yang diduga orang dengan gangguan jiwa) dari arah simpang empat dekat rumah kontrakannya, yang memanggil kata “maling.”
Dengan rasa penasaran, ia pun melihat keluar dari lantai dua rumah kontrakannya, namun tidak menemukan siapa-siapa. Ia pun kembali ke kamar.
Tak lama setelah itu, suara tersebut terdengar lagi, namun hilang begitu saja. Keadaan semakin mencekam ketika ia mendengar suara motor melintas, yang ia kira adalah orang yang baru pulang.
Namun, suara itu kemudian disusul oleh bunyi gemercik yang ternyata bukan hujan. Rasa penasaran terus menguasainya, hingga akhirnya ia mendengar teriakan dari pengendara mobil yang berteriak, “Kebakaran! Api!”.
Ezif segera bergegas keluar dan melihat rumah pertama yang terbakar. Dengan cepat, ia bersama suami dan anak-anaknya berlari keluar rumah. Api mulai melahap rumah kedua yang berada di belakang rumah kontrakan mereka.
Dalam kondisi tubuh yang masih demam, Ezif berusaha menyelamatkan barang-barang penting yang ada di lantai dua rumah kontrakan.
Di tengah kepanikan, Ezif mencoba menyelamatkan koper yang berisi uang, namun malang, uang tersebut justru hilang terbakar di dalam lemari.
Selain itu, barang-barang berharga lainnya seperti televisi dan handphone juga ikut terbakar. “Kami hanya bisa pasrah. Barang-barang yang bisa diselamatkan sedikit sekali,” ujarnya dengan wajah lesu.
Ketika kebakaran terjadi, Ezif sempat melihat dua orang yang mengenakan pakaian polisi berdiri di depan rumahnya. Salah seorang di antaranya adalah seorang pria yang melompat masuk ke rumah sebelah, sementara seorang wanita berpakaian polisi tetap menunggu di atas motor.
Hal ini menimbulkan kecurigaan, karena kebakaran tersebut baru saja mulai, dan kehadiran polisi di lokasi sebelum api meluas terasa sangat aneh. Namun, karena kepanikan yang terjadi, Ezif pun tidak terlalu memperhatikannya pada saat itu.
“Awalnya saya merasa curiga, kenapa sudah ada polisi padahal api baru saja mulai kecil,” ungkap Ezif.
“Namun, karena keadaan yang sangat panik, saya tidak sempat menanyakan lebih jauh.”
Hingga berita ini diturunkan, Ezif dan keluarganya belum mengetahui pasti di mana mereka akan tinggal. Mereka berharap bisa membersihkan sisa-sisa rumah kontrakan yang terbakar dan tinggal di lantai satu, jika diperbolehkan oleh pemilik rumah.
“Kami hanya bisa berharap semoga Allah memberikan yang lebih baik dari ini,” ujarnya dengan mata berkaca-kaca.
Kebakaran yang melibatkan polisi gadungan ini menambah panjang daftar kasus penipuan yang mengatasnamakan aparat penegak hukum. Kejadian ini memunculkan pertanyaan besar mengenai tanggung jawab aparat dan perlu segera diusut tuntas oleh pihak berwenang. (SY RIDWAN—Limapuluh Kota)
Editor : Novitri Selvia