Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Jeruk Sarugo: Kejayaan Jeruk Siam dari Limapuluh Kota, Bangkit Berkat BSI Maslahat

Hendra Efison • Minggu, 23 Februari 2025 | 15:48 WIB

Petani jeruk di Nagari Koto Tinggi, salah satu daerah penghasil jeruk terbaik di Sumatera Barat; Jeruk Sarugo (Jeruk Siam) di Kecamatan Gunung Omeh, Limapuluh Kota.
Petani jeruk di Nagari Koto Tinggi, salah satu daerah penghasil jeruk terbaik di Sumatera Barat; Jeruk Sarugo (Jeruk Siam) di Kecamatan Gunung Omeh, Limapuluh Kota.
PADEK.JAWAPOS.COM–Jeruk Sarugo, atau Jeruk Siam dari Kecamatan Gunung Omeh, Nagari Koto Tinggi, Kabupaten Limapuluh Kota, kembali bersinar sebagai salah satu komoditas unggulan Sumatera Barat. Dikenal dengan rasa manis seperti madu dan bulir jeruk yang besar serta berkulit tebal, jeruk ini semakin diminati pasar lokal maupun nasional.

Nama Sarugo merupakan singkatan dari Saribu Gonjong, merujuk pada banyaknya rumah adat khas Minangkabau di daerah tersebut. Selain sebagai sentra pertanian, Kampuang Saribu Gonjong juga telah meraih penghargaan Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) untuk kategori pelayanan homestay. Akses menuju sentra jeruk ini dapat ditempuh dalam 4-5 jam perjalanan darat dari Bandara Internasional Minangkabau.

Saat ini, lahan pertanian Jeruk Sarugo mencapai 10 hektar dengan sekitar 4.000 batang tanaman aktif. Hasil panen mencapai 6-7 ton per minggu dengan omzet mencapai Rp350 juta pada tahun 2024 lalu. Sebanyak 152 petani tergabung dalam Koperasi Sarugo, yang didirikan sejak 2021 sebagai respons terhadap tantangan ekonomi akibat pandemi COVID-19.

Koperasi ini mendapatkan pendampingan dari BSI Maslahat melalui program Sentra UMKM BSI yang berlangsung selama tiga tahun (2023-2025) dengan dukungan dana sebesar Rp1,5 miliar. Bantuan tersebut bertujuan untuk memperkuat modal petani dan mengembalikan produktivitas perkebunan jeruk yang sempat menurun akibat pandemi.

Dampak dari program ini mulai terlihat dengan peningkatan hasil panen dan omzet yang kini mencapai belasan juta rupiah per bulan. Selain mendukung produksi jeruk segar, pendampingan ini juga membantu pengembangan produk turunan Jeruk Sarugo, serta memperkuat permodalan koperasi agar semakin mandiri.

Pak Musri, salah satu petani Jeruk Sarugo, mengungkapkan rasa terima kasihnya terhadap program ini. “Kami berharap para petani bisa kembali seperti dulu, menopang kehidupan kami, dan menyekolahkan anak-anak kami,” ujarnya.

Petani lainnya juga optimistis bahwa dalam waktu dekat, wisata agro Jeruk Sarugo dapat kembali beroperasi. “Terima kasih BSI Maslahat atas pendampingan dan bantuan permodalannya,” ujar salah satu petani.

Roesli Silalahi, pendamping program, menyampaikan harapannya agar Koperasi Sarugo bisa semakin mandiri dan menembus pasar ekspor. “Kami ingin koperasi ini menjadi solusi bagi masyarakat Kampuang Sarugo,” katanya.

Program pemberdayaan UMKM BSI ini merupakan bagian dari inisiatif BSI Maslahat dan PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI) dalam memperkuat sektor UMKM berbasis zakat, infak, dan sedekah (ZIS). Sebagai Lembaga Amil Zakat Nasional dan Nadzir Wakaf, BSI Maslahat berkomitmen untuk mengelola zakat dan membangun ekosistem ekonomi syariah yang berkelanjutan di Indonesia.

Dengan adanya program ini, Jeruk Sarugo tak hanya menjadi kebanggaan petani lokal tetapi juga memiliki potensi besar sebagai komoditas unggulan yang bisa bersaing di pasar nasional maupun internasional.(*)

Editor : Hendra Efison
#BSI Maslahat #Jeruk Sarugo #ADWI #Kejayaan Jeruk Siam dari Limapuluh Kota #Saribu Gonjong