Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Wabah PMK di Limapuluh Kota, Peternak Enggan Beli Sapi

Arfidel Ilham • Senin, 24 Februari 2025 | 15:30 WIB

PASTIKAN SEHAT: Petugas kesehatan hewan sedang melakukan pemeriksaan di kandang sapi milik peternak di Kecamatan Luak, Kabupaten Limapuluh Kota.(FIDEL/PADEK)
PASTIKAN SEHAT: Petugas kesehatan hewan sedang melakukan pemeriksaan di kandang sapi milik peternak di Kecamatan Luak, Kabupaten Limapuluh Kota.(FIDEL/PADEK)

PADEK.JAWAPOS.COM-Wabah Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) yang masih melanda wilayah Kabupaten Limapuluh Kota dan Kota Payakumbuh membuat banyak peternak sapi memilih untuk tidak membeli ternak baru.

Ketakutan akan penularan PMK yang dinilai sulit diobati mendorong mereka untuk menjual sapi yang sudah ada, dan menunda membeli sapi baru. Imbasnya, harga sapi di pasaran pun mengalami penurunan yang tajam.

Ercun, seorang peternak sapi di Kabupaten Limapuluh Kota, mengungkapkan pengalamannya yang terpaksa menjual sapinya dengan harga jauh lebih murah dari sebelumnya.

“Saya membeli sapi seharga Rp 26 juta, namun karena sapi saya sakit, saya terpaksa menjualnya hanya seharga Rp 17 juta,” katanya pada Minggu (23/2).

Ercun menilai, daripada terus memelihara sapi dalam kondisi tak pasti, lebih baik ia menjualnya dan menunggu situasi wabah PMK terkendali.

Hal serupa disampaikan oleh Ladun, peternak lainnya di Limapuluh Kota. Meskipun masih memelihara sapi secara tradisional, Ladun mengaku sangat selektif dalam menerima kunjungan ke kandang.

Ia bahkan membatasi petugas kesehatan hewan yang datang, terutama yang akan melakukan inseminasi buatan atau tindakan medis lainnya.

“Kami sangat membatasi kunjungan, termasuk dari petugas kesehatan. Penularan PMK sangat mudah, jadi kami menjaga kebersihan dan kehati-hatian dengan ketat,” jelasnya.

Ladun juga menyatakan keraguannya terhadap efektivitas vaksinasi sebagai langkah pencegahan PMK. “Kami tidak yakin jika petugas kesehatan hewan atau peralatannya datang dari kandang sapi lain. Bisa saja membawa virus, jadi kami sangat berhati-hati,” ujarnya.

Di sisi lain, Toto Setiawan, peternak sekaligus pedagang sapi di Kota Payakumbuh, mengonfirmasi penurunan drastis dalam transaksi jual beli sapi. “Saat ini pasar sapi sangat sepi. Masyarakat enggan membeli sapi karena khawatir tertular PMK. Akibatnya, harga sapi jatuh,” ujarnya.

Sementara itu, Junaidi, petugas kesehatan hewan di Kecamatan Luak, menyatakan bahwa wabah PMK di Kabupaten Limapuluh Kota masih belum terkendali. Meski upaya vaksinasi terus dilakukan, banyak peternak yang menolak atau ragu terhadap vaksinasi tersebut.

“Banyak peternak yang belum mendapatkan edukasi yang cukup tentang vaksinasi, sehingga mereka memilih untuk tidak mengikutinya. Ini menghambat upaya pencegahan yang optimal,” ungkap Junaidi.

Wabah PMK yang terus meluas ini jelas memberikan dampak besar bagi peternak, baik dari segi ekonomi maupun kesehatan ternak. Peternak kini berharap agar pemerintah dapat segera mengatasi masalah ini dengan lebih efektif, agar mereka bisa kembali menjalankan usaha ternak sapi dengan lebih aman dan stabil. (fdl)

Editor : Novitri Selvia
#pmk #Penyakit Mulut dan Kuku #peternak sapi