Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Api Dekati Pemukiman dan Perkantoran: Limapuluh Kota Tanggap Darurat Karhutla, Pemerintah Daerah Keterbatasan Alat dan Sumber Air

Syamsu Ridwan • Senin, 21 Juli 2025 | 10:30 WIB

Ilustrasi. (Reza/Padek)
Ilustrasi. (Reza/Padek)

PADEK.JAWAPOS.COM-Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) melanda sejumlah daerah di Sumbar. Bahkan telah mengancam pemukiman warga dan fasilitas publik.

Sebab itu masyarakat diimbau untuk ikut serta melakukan upaya preventif. Serta melaporkan kepada pihak berwenang jika melihat asap atau api yang mencurigakan.

Salah satu daerah yang dilanda karhutla adalah Kabupaten Limapuluh Kota. Untuk mengatasi persoalan ini, pemerintah setempat pun telah menetapkan status Tanggap Darurat Kebakaran Hutan dan Lahan sejak 17 Juli hingga 30 Juli 2025.

Status ini dikeluarkan karena meningkatnya intensitas kebakaran yang meluas ke berbagai titik dan sulit ditangani secara normal.

Kepala Pelaksana (Kalaksa) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Limapuluh Kota Rahmadinol mengungkapkan, penetapan status tanggap darurat dilakukan setelah upaya pemadaman dengan sumber daya lokal tidak lagi memadai.

Kondisi darurat memerlukan pengerahan personel dan peralatan tambahan dari berbagai instansi di luar BPBD dan Damkar.

“Kalau dalam kondisi normal, pemadaman hanya melibatkan BPBD, Damkar, TNI, dan Polri. Tapi sekarang kita dibantu juga oleh UPT KPAL, Dinas Kehutanan Provinsi Sumbar, bahkan personel dari Kehutanan Jambi,” sebutnya kemarin (20/7).

Ia menjelaskan terdapat lima titik api yang berhasil dipadamkan melalui upaya bersama berbagai pihak, pada Sabtu (19/7). Namun, situasi semakin memburuk. Berdasarkan data dari Kementerian Lingkungan Hidup, terdapat 41 titik api yang terpantau aktif pada Minggu (20/7).

“Dengan keterbatasan alat dan sumber air, kita kini tengah menanti perkembangan situasi hari ini. Jika eskalasi terus meningkat, maka kita akan segera berkoordinasi dengan BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana) serta kementerian terkait untuk mendatangkan bantuan helikopter water bombing,” jelasnya.

Rahmadinol menambahkan, kajian teknis sedang disiapkan sebagai dasar untuk permohonan dukungan udara tersebut. Ia menekankan pentingnya data akurat, termasuk luas lahan terdampak, agar permintaan bantuan dapat segera disetujui oleh BNPB.

Sejumlah lokasi kebakaran bahkan telah mengancam pemukiman warga dan fasilitas publik. Di antaranya, Nagari Tarantang (Kecamatan Harau) yang berdekatan dengan rumah penduduk, Nagari Sarilamak yang berada di sekitar Kantor Bupati, serta Nagari Sungai Rimbang yang berdekatan dengan sekolah dasar.

“Kebakaran juga terjadi di belakang Kompi C dan kawasan dekat Kantor DPRD. Bahkan hari ini (Minggu, red)) api menyala lagi di sekitar Kantor Bupati, serta di wilayah Suliki dan Sungai Atuan, Mungka,” ungkapnya.

Untuk kawasan Kecamatan Harau saja, informasi dari Kesatuan Pengelolaan Hutan Lindung (KPHL) menyebutkan bahwa lebih dari 100 hektare lahan telah terbakar. Namun Rahmadinol menegaskan, pihaknya masih menunggu data resmi untuk luasan pasti.

“Jika nantinya medan benar-benar sulit dijangkau dan pemadaman manual tidak lagi efektif, maka kita akan mengajukan bantuan helikopter water bombing. Sekretaris Utama BNPB sudah membuka ruang koordinasi. Kami pun sudah melaporkan kepada sekda selaku komandan tanggap darurat karhutla,” jelasnya.

Ia menambahakan BPBD bersama tim gabungan juga akan melakukan rapat evaluasi pada Senin (21/7). Ini untuk menyusun langkah lanjutan penanganan serta penguatan logistik dan administrasi.

Satu Hari Capai 22 Titik Api

Kemarau yang terjadi di Kabupaten Tanahdatar juga berbuntut Panjang. Mulai dari kekeringan lahan pertanian serta kenaikan harga komoditas hasil pertanian.

Salah satu dampak lain yang kerap terjadi dalam beberapa waktu terakhir ialah kebakaran lahan. Satuan Polisi Pamongpraja dan Damkar Kabupaten Tanahdatar mencatat, sepanjang musim kemarau ini ada ratusan titik api.

“Jumlah titik api sangat tinggi. Bahkan pada Sabtu, (19/7) terdapat 22 titik api di seluruh Kabupaten Tanahdatar. Dari jumlah tersebut 18 bisa dibantu dan empat titik tidak bisa ditangani,” ujar Kasi Ops dan Penyelamatan Damkar Tanahdatar Dendi Rendoni, Minggu (20/7).

Ia menyebutkan, penanganan empat titik api tersebut tidak bisa ditangani karena keterbatasan armada dan lokasi titik api yang jauh dari akses jalan.

Tingginya jumlah titik api tentu membuat tim pemadam kebakaran kewalahan. Ditambah lagi dengan sejumlah kendala lapangan dan prasarana yang dimiliki oleh damkar sendiri. 

“Pertama soal akses jalan, kemudian sumber air yang terbatas sehingga unit terpaksa bolak balik ke pengisian hidran di seputaran Lapangan Cindua Mato. Kemudian untuk sarana, unit kita masih terbatas dan masih kurangnya selang untuk menjangkau titik api,” sebutnya. 

Sementara itu, Bupati Tanahdatar Eka Putra, memberikan imbauan kepada masyarakat untuk melakukan sejumlah upaya preventif. Ini untuk menekan potensi terjadinya kebakaran lahan dan kebakaran bangunan di daerah Luak nan Tuo itu.

“Sehubungan dengan meningkatnya, kejadian kebakaran dalam beberapa hari terakhir, khususnya kebakaran lahan dan kebakaran di lingkungan pemukiman. Kami mengimbau kepada Masyarakat tidak membuang puntung rokok dan membakar sampah sembarangan. Terutama di lahan kering, hutan atau dekat pemukiman yang rawan terbakar,” ujar Eka Putra. 

Selain itu masyarakat diminta untuk selalu waspada dan segera melaporkan kepada pihak berwenang jika melihat asap atau api yang mencurigakan kepada pihak berwenang terdekat.

”Kepada petugas Damkar dan BPBD, agar selalu dalam kondisi siaga, saling bahu membahu dan siap mendukung dalam upaya pencegahan serta penanggulangan kebakaran di seluruh wilayah Kabupaten Tanahdatar,” sebutnya. 

Ia meminta kesiagaan camat, wali nagari dan kepala jorong agar terus memantau kondisi di wilayah masing-masing. Lalu, melakukan sosialisasi kepada masyarakat terkait bahaya kebakaran dan langkah-langkah pencegahan serta penanganan awal bisa terjadi kebakaran. 

“Kita juga mengimbau, Satgas Penanggulangan Bencana Nagari (PB Nagari) agar tetap siaga, cepat tanggap dan menjalin koordinasi aktif dengan unsur nagari dan instansi terkait. Kemudian kepada seluruh masyarakat mari kita tingkatkan kepedulian dan gotong royong dalam menjaga lingkungan agar tetap aman dari bahaya kebakaran,” tutupnya. (rid/rna)

Editor : Novitri Selvia
#Rahmadinol #BPBD Limapuluh Kota #karhutla #Eka Putra