Kegiatan yang berlangsung 11-14 November ini merupakan bentuk pelaksanaan program Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP) yang diinisiasi BI.
Program tahap keempat Sekolah Lapang Daun sebelumnya juga sudah dilaksanakan di Kabupaten Solok Selatan, Pesisir Selatan dan Agam. Kegiatan ini bertujuan meningkatkan produksi pangan dan ketahanan pangan melalui sinergi di semua lini lewat metode perluasan implementasi Metode Mulsa Tanpa Olah Tanah (MTOT).
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Sumbar, Mohamad Abdul Majid Ikram menyampaikan, Sekolah Lapang Daun yang diadakan di Kabupaten Limapuluh Kota juga akan diikuti oleh kelompok tani dari beberapa kabupaten terdekat.
“Tujuannya yang pertama sebagai upaya meningkatkan pengetahuan petani di seluruh Sumbar dengan perluasan impelementasi MTOT dengan tujuan untuk meningkatkan produktivitas pangan,” ucapnya saat pembukaan Sekolah Lapang Daun tersebut.
Majid menambahkan, kegiatan ini akan melatih petani dalam penerapan teknologi pengurangan polusi terhadap tanaman padi dengan pengolahan limbah-limbah hijau yang ada di sekitar petani untuk pupuk dan pestisida.
“Ini juga menjadi concern kami, tak hanya di Sumbar tetapi di seluruh Indonesia. Para petani usianya makin tua oleh karena itu kami mengadakan program ini untuk menantang anak-anak muda ymenjadi petani untuk bisa belajar,” tambahnya.
Dalam pelaksanaan program, BI menggaet pelaku MTOT yang sudah menerapkan metode tersebut dan akan berbagi pengetahuan mengajarkan bagaimana cara proses implementasi metode ke para petani yang mengikuti program ini.
Tak hanya itu BI juga berkolaborasi dengan Badan Meterologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) untuk berbagi pengetahuan kepada para petani mengungat kondisi cuaca dinilai dapat mempengaruhi produktivitas para petani.
“Tantangan besar di Sumatera Barat memang bagaimana meningkatkan produksi lebih besar karena produk-produk kita juga dikonsumsi oleh daerah lain. Jika produksinya naik, biaya untuk petani turun, pendapatan petani kita harapkan bisa naik,” ujarnya.
Kepala Dinas Perkebunan Tanaman Pangan dan Holtikultura Sumbar, Afniwirman mengapresiasi kegiatan yang dilaksanakan oleh Bank Indonesia Sumbar. Bank Indonesia merupakan institusi di luar pertanian yang memiliki perhatian terhadap para petani Sumbar. Afniwirman berharap ke depannya perusahaan-perusaahan nasional maupun swasta juga dapat mengikuti langkah BI.
“Tentu kegiatan melatih para petani kita adalah hal yang sangat baik sekali. Apalagi dilaksanakan oleh institusi di luar pertanian. Artinya ada pihak lain yang juga perhatian kepada petani kita. Kita sangat mengapresiasi kegiatan BI ini dan kita berharap ke depannya tak hanya BI saja, kalau bisa perusahaan-perusahaan benefit juga bisa memberikan kontribusi kepada pertanian,” harapnya.
Penggagas Sawah Pokok Murah/MTOT Ir Djoni yang juga merupakan pakar pertanian Sumbar menyampaikan, kegiatan yang dilaksanakan Bank Indonesia ini memiliki nilai antisipasi pada potensi krisis pangan karena selama ini bertumpu pada pupuk buatan.
Tak hanya itu, kegiatan ini juga memberikan dampak positif secara jangka panjang karena metode ini juga dapat memperbaiki tanah dengan tidak mengurangi hasil.
“Kegiatan ini positif untuk antisipasi krisis pangan ke depan karena semua energi pangan itu bertumpu pada pupuk buatan. Maka dari itu, kita siapkan tanah kita dulu dan Sawah Pokok Murah ini kan memperbaiki tanah dengan tidak mengurangi hasil. Kegiatan BI ini dalam sepintas mungkin tidak terlalu terlihat namun menurut saya ini langkah yang benar memikirkan secara jangka panjang,” ucapnya. (cr4)
Editor : Adetio Purtama