PADEK.JAWAPOS.COM-Ikon perjuangan kemerdekaan Indonesia di Sumatera Barat, Chatib Sulaiman, belum ditetapkan sebagai pahlawan nasional.
Namanya tercantum dalam daftar 40 calon pahlawan nasional yang diajukan Kementerian Sosial kepada Dewan Gelar dan Tanda Jasa Kehormatan.
Namun, Chatib Sulaiman tidak termasuk dalam sepuluh nama pahlawan nasional yang diumumkan Presiden Prabowo Subianto pada peringatan Hari Pahlawan, Senin (10/11).
Anggota DPRD Kabupaten Limapuluh Kota, M. Fajar Rillah Vesky, yang berasal dari Situjuah Batua, tempat Chatib Sulaiman gugur ditembak tentara Belanda pada 15 Januari 1949, menyatakan keyakinannya bahwa Chatib Sulaiman masih berpeluang ditetapkan sebagai pahlawan nasional.
Alasannya, Ketua Dewan Gelar dan Tanda Jasa Kehormatan Fadli Zon telah menyatakan bahwa Chatib Sulaiman memenuhi syarat untuk ditetapkan menjadi pahlawan.
“Walau tahun ini Chatib Sulaiman baru masuk daftar 40 calon pahlawan yang diajukan Kementerian Sosial kepada Dewan Gelar, kami masih yakin putra Sumpu, Singkarak, Tanah Datar, yang bertumbuh di Pasa Gadang, Kota Padang, dan memulai debut perjuangan kemerdekaan Indonesia dari Bukittinggi serta Padang Panjang, pada waktunya nanti akan ditetapkan jadi pahlawan nasional. Apalagi, Pak Fadli Zon selaku Ketua Dewan Gelar sudah menyatakan bahwa 40 nama yang diserahkan Kementerian Sosial semuanya telah memenuhi syarat,” kata Fajar Rillah Vesky.
Ia menyebutkan bahwa sebelum menjabat Ketua Dewan Gelar dan Tanda Jasa Kehormatan, Menteri Kebudayaan Fadli Zon telah menunjukkan perhatiannya terhadap perjuangan Chatib Sulaiman.
“Ketika bertemu Desember 2024 lalu di Situjuah Limo Nagari, Pak Fadli Zon sempat bertanya kepada kami perihal Chatib Sulaiman yang belum ditetapkan sebagai pahlawan nasional. Ini juga beliau singgung saat menyapa keluarga Chatib Sulaiman yang hadir dalam peresmian Museum Bela Negara pada bulan yang sama di Kototinggi,” ujar Fajar Vesky.
Sebelumnya, Fajar Vesky dalam wawancara dengan RRI Pro 1 Bukittinggi dalam rangkaian peringatan Hari Pahlawan, Senin pagi (10/11), menyatakan bahwa pengusulan Chatib Sulaiman sebagai pahlawan nasional bukanlah pergerakan individu atau kelompok tertentu.
Usulan ini bukan hanya aspirasi dari masyarakat Situjuah Limo Nagari, Kabupaten Limapuluh Kota, melainkan perjuangan kolektif dan harapan bersama dari pemerintah daerah dan berbagai komponen masyarakat Sumatera Barat.
Menurut Fajar, pengajuan Chatib Sulaiman sebagai pahlawan nasional sudah berlangsung sejak 2016. Chatib Sulaiman diusulkan sebagai pahlawan oleh Pemerintah Kota Padang Panjang, semasa kota itu dipimpin Wali Kota Padang saat ini, Fadly Amran.
Usulan Pemerintah Kota Padang Panjang itu didukung Pemerintah Provinsi Sumatera Barat semasa dipimpin Profesor Irwan Prayitno dan didukung pula oleh kalangan akademisi seperti Profesor Gusti Asnan, Profesor Siti Fatimah, Dr. Wannofry Samri, dan Fikruf Hanif Sofyan.
Ketika Buya Mahyeldi Ansharullah menggantikan Profesor Irwan Prayitno, Buya Mahyeldi juga mendukung pengajuan Chatib Sulaiman sebagai pahlawan nasional.
Usulan dari Pemerintah Kota Padang Panjang dan Pemerintah Provinsi Sumatera Barat ini juga didukung secara resmi oleh Pemerintah Kabupaten Limapuluh Kota semasa dipimpin Bupati Irfendi Arbi, Pemerintah Kota Payakumbuh semasa dipimpin Wali Kota Riza Falepi, dan Pemerintah Kabupaten Tanah Datar yang saat itu sudah dipimpin Bupati Eka Putra.
“Beberapa hari lalu, kami juga berdiskusi dengan anggota TP2GD Sumatera Barat, Pak Hasril Chaniago, yang ikut merekomendasikan nama Chatib Sulaiman, Rahmah El Yunusiyyah, dan Syekh Sulaiman Ar-Rasuli sebagai pahlawan nasional kepada TP2GN. Menurut wartawan dan penulis buku ini, ketiga tokoh yang diusulkan dari Sumbar pada momennya nanti akan ditetapkan sebagai pahlawan karena sudah memenuhi syarat,” kata Fajar Vesky.
Persoalannya, menurut Fajar Vesky yang mengutip Hasril Chaniago, *waiting list* atau daftar tunggu pahlawan nasional yang memenuhi syarat terlalu banyak. Tahun ini, jumlah awalnya adalah 40 orang.
Belakangan, bertambah lagi menjadi 49 orang. Hal ini terjadi karena pada tahun 2024 tidak satupun pahlawan nasional yang diumumkan.
“Kalau tahun ini ditetapkan sepuluh pahlawan, tahun depan masih ada 39 nama yang menunggu antrian. Belum lagi ada usulan baru dari masing-masing provinsi. Ini semua nantinya bergantung kepada Dewan Gelar dan Tanda Jasa Kehormatan serta bergantung kepada Presiden Prabowo Subianto. Dalam konteks ini, sesuai tema Hari Pahlawan 2025, kami ajak seluruh komponen terus bergerak, melanjutkan perjuangan,” pungkas Fajar Rillah Vesky. (rid)
Editor : Novitri Selvia