Program ini difokuskan untuk memperkuat kapasitas kader dalam edukasi gizi, deteksi dini stunting, serta pengembangan media komunikasi berbasis komunitas.
Ketua Tim, Yani Maidelwita SKM MBiomed PhD, beranggotakan Ns Mira Andika MKep, Eka Putri Prima Sari MKes dan Mitayani SST M Biomed PhD mengungkapkan bahwa sebagian besar kader sebelumnya belum memiliki modul edukasi, keterampilan membaca KMS, maupun teknik komunikasi efektif kepada ibu balita.
“Kader adalah ujung tombak. Jika mereka kuat, maka edukasi ke masyarakat jauh lebih efektif,” katanya.
Program yang berlangsung selama tiga bulan dengan pendanaan dari Yayasan Mercubaktijaya ini menyasar 12 kader aktif yang melayani 52 balita di wilayah tersebut.
Berbagai materi diajarkan, mulai dari gizi seimbang, MP-ASI berbasis pangan lokal, klasifikasi status gizi WHO, hingga penggunaan media visual seperti leaflet, booklet, dan video edukasi pendek.
Hasil evaluasi menunjukkan peningkatan signifikan. Rata-rata nilai pengetahuan kader naik dari 44,1 menjadi 90, atau meningkat lebih dari 100 persen.
Selain itu, kehadiran balita di Posyandu juga melonjak dari 61% menjadi 92%, sementara frekuensi konseling gizi meningkat dari 42% menjadi 84%.
“Ini bukti bahwa pendekatan edukasi visual dan pendampingan lapangan bekerja dengan sangat baik. Kader mulai percaya diri melakukan edukasi door-to-door,” terang Yani.
Tidak hanya itu, seluruh kader (100%) kini menggunakan booklet gizi dan poster stunting sebagai media utama dalam penyuluhan, bahkan telah mengaplikasikan sistem pelaporan digital sederhana melalui Google Form dan logbook kader.
Program Gizi Cerdas juga menghasilkan berbagai inovasi edukatif oleh tim diataranya Modul Edukasi Gizi berbasis local, Booklet stunting dengan resep MP-ASI local, Poster klasifikasi gizi, Video edukasi 5-7 menit, WhatsApp Group dan Sistem monitoring digital untuk kader.
Media ini dirancang agar mudah dipahami masyarakat desa yang memiliki keterbatasan literasi. Pendekatan ini sejalan dengan hasil penelitian tim pengabdi yang kuat di bidang gizi masyarakat.
Ketua kader Posyandu, Ibsi Dwi Gustia, mengakui manfaat besar pelatihan ini. “Dulu kami bingung menjelaskan soal stunting. Sekarang lebih mudah karena ada gambar, booklet, dan video. Ibu-ibu cepat paham,” ujarnya.
“Harapan kami, model ini terus dipakai dan menjadi gerakan komunitas sadar gizi. Ini langkah kecil, tetapi berdampak besar bagi percepatan penurunan stunting,” tutup Yani. (rdo)
Editor : Adetio Purtama