PADEK.JAWAPOS.COM-Curah hujan di sejumlah wilayah Kabupaten Limapuluh Kota masih tinggi sepanjang Selasa (9/12) hingga Rabu (10/12).
Debit air di beberapa sungai dilaporkan warga mengalami peningkatan, seperti di aliran Sungai Kapalo Banda, Taram, Kecamatan Harau, dan Batang Manggilang, Kecamatan Pangkalan Koto Baru.
“Ya, air di Kapalo Banda terlihat meninggi. Sebab curah hujan cukup tinggi sejak kemarin malam. Mudah-mudahan segera surut,” ujar Ilham, salah seorang warga, Rabu sore.
Masyarakat masih khawatir kondisi cuaca dengan curah hujan tinggi ini berpotensi besar menimbulkan banjir dan longsor.
Selain mengancam keselamatan jiwa, kerusakan lahan pertanian dan perkebunan juga sangat mencemaskan. Setelah empat bulan sebelumnya dilanda musim kemarau, kini masyarakat kembali dihadapkan pada ancaman banjir.
Warga Limapuluh Kota juga mengkhawatirkan kelangkaan kebutuhan pokok seperti beras dan komoditas pertanian lainnya. Produktivitas pertanian terganggu akibat kemarau beberapa bulan lalu, ditambah ancaman banjir dan longsor sekarang.
“Beberapa bulan lalu kami kesulitan menanam dan mengolah lahan karena kemarau. Sekarang curah hujan tinggi menyebabkan banjir yang menenggelamkan sebagian lahan. Alhamdulillah, kami yang berada di daerah perbukitan tidak terkena banjir, tetapi saudara-saudara kita yang tinggal dekat aliran sungai dan daerah rawan longsor cukup memprihatinkan,” kata seorang petani, Yoyon.
Salah seorang warga lainnya, Sofiati, mengatakan satu periode tanam hampir tidak bisa dilakukan. “Kami di sini memang kesulitan bercocok tanam akibat kemarau beberapa bulan lalu. Kami khawatir beras akan mahal dan langka,” ujarnya, Rabu (10/12).
Berdasarkan data Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan (Distanpanghorbun) Kabupaten Limapuluh Kota, pendataan gagal panen akibat kemarau masih berlangsung.
Namun, untuk lahan pertanian yang terdampak banjir dan longsor diperkirakan mencapai 102,8 hektare. Artinya, lahan tersebut mengalami gagal panen dan membutuhkan biaya pemulihan.
“Meski ada ancaman gagal panen serta kebutuhan biaya pemulihan lahan pertanian cukup besar, APBD Kabupaten Limapuluh Kota yang terbatas menjadi kendala. Namun, kami sudah menyurati Pemerintah Provinsi Sumatera Barat untuk meminta bantuan anggaran pemulihan,” terang Kepala Distanpanghorbun Limapuluh Kota, Witra Porsepwandi, Rabu sore.
Data Distanpanghorbun mencatat lahan yang terdampak bencana mencakup sawah, kebun jagung, dan perkebunan cabai.
“Kami mengusulkan bantuan pascabencana untuk pemulihan lahan pertanian padi seluas 70,2 hektare dengan kebutuhan sekitar Rp842 juta lebih, serta lahan perkebunan jagung sekitar Rp382 juta lebih. Artinya, total kebutuhan mencapai sekitar Rp1,224 miliar,” jelas Witra. (fdl)
Editor : Novitri Selvia