PADEK.JAWAPOS.COM-Pergerakan tanah terus terjadi pada lokasi sinkhole di Jorong Tepi, Nagari Situjuahbatua, Kecamatan Situjuah Limo Nagari, Kabupaten Limapuluh Kota hingga kemarin.
Namun hal ini diantisipasi dengan dipasangnya garis polisi di sekitar area tersebut. Kondisi tersebut diungkapkan Komandan Regu Tim Reaksi Cepat BPBD Limapuluh Kota Alexandra.
Dia mengatakan, petugas telah melakukan pendataan awal mengenai sinkhole atau tanah yang tiba-tiba berlubang di nagari tersebut.
Diketahui lubang itu memiliki panjang 10 meter, lebar tujuh meter dengan kedalaman 5,7 meter.
Pemasangan garis polisi di sekitar sinkhole ditujukan untuk mengantisipasi kemungkinan terburuk. Polisi bersama pemerintah setempat mengkhawatirkan lubang semakin membesar dan dapat mengancam keselamatan warga.
“Kami terus mengimbau masyarakat untuk menjaga dan mematuhi peraturan, terutama tidak melewati garis polisi di sekitar tanah yang berlubang,” imbaunya.
Namun, Kepala Jorong Tepi Ramli menyampaikan, hingga hari ketiga kemarin sinkhole tersebut relatif belum mengalami perubahan signifikan.
Tidak ada penambahan runtuhan maupun perubahan ukuran lubang. Namun, terdapat perubahan pada kondisi air di dalam lubang yang kini terlihat semakin bening.
Ramli mengungkapkan, pihak Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Sumbar telah turun langsung ke lokasi untuk melakukan pengecekan lebih lanjut, kemarin.
“Mereka melakukan pengecekan lubang dan mata air yang ada di bawah lokasi lubang,” katanya.
Dalam pemeriksaan tersebut, tim ESDM melakukan pengukuran tingkat keasaman (pH) air baik di dalam lubang maupun di mata air sekitar lokasi. Hasilnya menunjukkan adanya indikasi keterhubungan jalur air antara keduanya.
“Itu berarti ada indikasi jalurnya ke situ. Namun, air di dalam lubang masih terlihat keruh dan diduga masih ada potensi runtuhan,” tambah Ramli.
Sejak sinkhole pertama kali ditemukan, pemerintah nagari bersama unsur terkait terus melakukan penjagaan di lokasi. Langkah pengamanan dilakukan dengan mengaktifkan petugas Perlindungan Masyarakat (Linmas) yang berjaga siang dan malam.
“Tadi kemarin juga ada jajaran dari Kodim serta Kapolsek yang ikut membatasi masyarakat untuk tidak mendekat. Warga hanya boleh melihat dari jarak aman,” tegasnya.
Dua Kemungkinan Penyebab Sinkhole
Terpisah, Ketua Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) Sumatera Barat Dian Hadiyansyah menjelaskan, ada dua kemungkinan penyebab dugaan sinkhole atau kondisi tanah tiba-tiba berlubang di Nagari Situjuahbatua.
Pertama, fenomena alam tersebut dapat terjadi karena berada di kawasan batuan kapur atau batu gamping.
Dari sisi keilmuan geologi, kejadian tanah yang tiba-tiba ambles dan membentuk lubang besar merupakan hal yang biasa terjadi sekaligus ditandai adanya aliran sungai bawah tanah.
Ia menjelaskan, sifat kimiawi dari batuan kapur, yakni kalsium karbonat ketika tergerus atau larut dengan air akan membentuk rongga-rongga. Kondisi ini berpotensi menyebabkan tanah amblas seperti yang terjadi di banyak daerah kawasan bukit kapur.
Kedua, tanah yang berlubang dengan lebar 10 meter dan panjang tujuh meter serta memiliki kedalaman lima meter itu lebih bisa terjadi karena faktor alam yang disebut erosi pipa.
“Fenomena ini biasanya terjadi karena batuan sedimen vulkanik atau gunung api,” jelasnya.
Sayangnya, hingga kini IAGI Sumbar belum melakukan penelitian lebih jauh, sehingga belum dapat menyimpulkan penyebab utama fenomena alam yang terjadi.
IAGI Sumbar telah melaporkan temuan dugaan sinkhole itu ke Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) terkait langkah yang harus dilakukan dalam menyikapinya.
Ia menambahkan IAGI memiliki data geologi khususnya batuan di sekitar Nagari Situjuahbatua. Data ini bisa menjadi salah satu rujukan lembaga tersebut apabila nantinya dilakukan penelitian di lapangan.
Butuh Tim Geolistrik
Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) Sumatera Barat membutuhkan tim geolistrik untuk mengukur serta mengkaji lebih jauh fenomena sinkhole itu.
Tim geolistrik, ujar Dian, sangat dibutuhkan untuk memastikan penyebab serta apa saja potensi yang berkemungkinan terjadi di dalam lubang tersebut.
Apalagi, hingga saat ini belum diketahui pasti penyebab munculnya lubang berdiameter 10 meter dengan kedalaman lima meter lebih tersebut.
Sembari menunggu adanya tim geolistrik yang bisa saja diutus oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) atau Badan Geologi, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) atau instansi terkait, Dian mengimbau masyarakat untuk menjauhi lubang tersebut.
Salah satu yang dikhawatirkan IAGI ialah kondisi permukaan tanah di sekitar lubang sudah rapuh. Apalagi, jika kawasan tersebut merupakan daerah bukit kapur atau gamping yang rawan ambruk ketika larut dengan air maka sangat membahayakan keselamatan.
“Kita khawatirnya atapnya itu sudah rawan dan tidak stabil serta bisa memunculkan runtuhan baru sehingga diimbau jangan mendekat apalagi beramai-ramai ke sana,” ucap dia. (ant/rid)
Editor : Novitri Selvia