PADEK.JAWAPOS.COM-Fenomena alam berupa lubang runtuhan tanah (sinkhole) muncul di area persawahan warga Jorong Tepi, Nagari Situjuahbatua, Kecamatan Situjuah Limo Nagari, Kabupaten Limapuluh Kota.
Kejadian ini menimbulkan kekhawatiran masyarakat karena berdampak langsung terhadap lahan pertanian serta berpotensi membahayakan keselamatan warga.
Kepala Jorong Tepi Salmi saat ditemui di lokasi, menjelaskan bahwa pada hari keempat sejak kemunculan sinkhole, kondisi lubang relatif stabil. Namun demikian, masih terjadi penambahan runtuhan di bagian bibir lubang.
“Perkembangan hari keempat, kondisi lubang masih sama, hanya ada penambahan runtuhan sekitar satu meter. Di dalam lubang masih terlihat adanya gerusan air yang cukup jelas, sehingga dampaknya ke dalam lubang cukup besar,” ujar Salmi, kemarin.
Menurutnya, kejadian tersebut sangat merugikan para petani. Sejumlah sawah tidak dapat lagi digarap karena dinilai berbahaya, bahkan sebagian petani terancam gagal panen.
“Bagi petani kami tentu sangat berdampak. Tidak bisa panen, tidak bisa bercocok tanam, dan aktivitas pertanian terhenti,” ungkapnya.
Salmi juga menyampaikan bahwa pada Selasa (6/1) lalu, tim dari Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi Sumatera Barat telah turun langsung ke lokasi untuk melakukan peninjauan serta analisis teknis.
“Hasil sementara masih dalam tahap analisa. Masih ada potensi runtuhan susulan, karena dari pengamatan terlihat adanya gerusan-gerusan di dalam tanah. Mudah-mudahan ini tidak terjadi, tapi potensi itu masih ada,” katanya.
Menyikapi kondisi tersebut, pihak jorong telah mengeluarkan imbauan kepada seluruh masyarakat agar tidak mendekati lokasi sinkhole demi menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.
“Kami mengimbau masyarakat untuk tidak mendekat ke lubang. Kami juga terus memantau lingkaran sekitar lokasi, termasuk arus lalu lintas warga yang cukup membludak karena kejadian ini viral,” tambah Salmi.
Hingga kemarin, aparat nagari bersama pihak terkait masih melakukan pengawasan di sekitar lokasi sinkhole, sambil menunggu hasil kajian lanjutan dari instansi teknis guna menentukan langkah penanganan selanjutnya.
Sebelumnya, praktisi GIS Sumatera Barat Timtim Deby Purnasebta menyetakan, risiko utama dari fenomena ini bukan hanya pada satu titik lubang, tetapi pada area di sekitarnya.
Rongga bawah tanah berpotensi melebar, sehingga memungkinkan terjadinya amblasan susulan di lahan sawah sekitar.
Dampak langsung yang paling terasa adalah kerusakan permanen lahan pertanian, terganggunya sistem irigasi, serta hilangnya produktivitas sawah.
Dari sisi keselamatan, tekannya, bibir sinkhole yang tampak stabil sering kali bersifat rapuh, sehingga berisiko bagi petani, ternak, dan peralatan pertanian.
Jika fenomena serupa terjadi lebih dekat ke pemukiman atau infrastruktur, maka potensi risikonya dapat meluas hingga mengancam jalan, bangunan, dan fasilitas umum.
Oleh karena itu, kejadian ini perlu dipahami sebagai indikator kerentanan wilayah, bukan sekadar insiden lokal.
Hal serupa juga dinyatakan Ketua Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) Sumatera Barat Dian Hadiyansyah. Salah satu yang dikhawatirkan IAGI ialah kondisi permukaan tanah di sekitar lubang sudah rapuh.
Apalagi, jika kawasan tersebut merupakan daerah bukit kapur atau gamping yang rawan ambruk ketika larut dengan air maka sangat membahayakan keselamatan.
“Kita khawatirnya atapnya itu sudah rawan dan tidak stabil serta bisa memunculkan runtuhan baru sehingga diimbau jangan mendekat apalagi beramai-ramai ke sana,” tukas dia. (rid)
Editor : Novitri Selvia