Puskesmas Situjuah memastikan hasil uji laboratorium menunjukkan adanya kandungan bakteri Escherichia coli (E.coli) dan coliform yang melebihi ambang batas aman.
Kepala Puskesmas Situjuah, dr. Silvia Rosja, mengatakan hingga saat ini belum ditemukan laporan masyarakat yang mengalami gangguan kesehatan maupun diare akibat penggunaan air dari sinkhole tersebut.
“Belum ada laporan masyarakat yang diare akibat air dari sinkhole. Sejauh yang saya ketahui, yang mengambil air itu juga bukan warga sekitar sini,” ujarnya.
Puskesmas sebelumnya telah mengambil sampel air sinkhole dan mengujinya di Laboratorium Kesehatan Daerah (Labkesda). Dari hasil pemeriksaan, ditemukan kandungan E.coli sebanyak 11 dan total coliform 234, sedangkan standar air layak minum semestinya berada pada angka nol.
“Ini menandakan air tersebut tidak memenuhi syarat air minum. Karena itu, air sinkhole tidak boleh diminum langsung dan harus dimasak terlebih dahulu,” tegas dr. Silvia.
Ia menjelaskan, tingkat keasaman (pH) air sinkhole berada pada angka 6,6, yang masih dalam batas normal. Kandungan mangan dan zat besi juga terdeteksi, namun masih berada di bawah ambang batas aman.
Kendati demikian, dr. Silvia tetap mengingatkan bahwa keberadaan bakteri E.coli dan coliform dalam air berpotensi menimbulkan gangguan pencernaan bagi masyarakat.
“Pada orang yang sensitif bisa menyebabkan diare atau gangguan usus, meskipun ada juga yang tidak merasakan keluhan,” jelasnya.
Melalui imbauan resmi, Puskesmas Situjuah meminta masyarakat untuk tidak mengonsumsi langsung air dari sumber yang belum terjamin kualitasnya serta selalu mengolah air dengan benar, termasuk dengan memasak hingga mendidih sebelum diminum, guna mencegah risiko penyakit yang ditularkan melalui air. (*)
Editor : Adetio Purtama