Upacara dipimpin Bupati Limapuluh Kota Safni sebagai inspektur upacara.
Dalam amanatnya, Safni menegaskan Peristiwa Situjuah pada 15 Januari 1949 merupakan peristiwa nasional yang menjadi bagian penting sejarah perjuangan Indonesia.
“Nilai-nilai perjuangan para pahlawan harus terus dihidupkan, terutama di tengah tantangan globalisasi yang berpotensi mengikis rasa nasionalisme,” kata Safni.
Ia menjelaskan Peristiwa Situjuah merupakan mata rantai sejarah Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI) di Sumatera Tengah pasca Agresi Militer Belanda II pada 19 Desember 1948.
Pada peristiwa itu, pasukan Belanda menyerang Koto Tinggi, lokasi rapat para pejuang kemerdekaan, yang menyebabkan gugurnya sejumlah pimpinan perjuangan dan mendorong pembentukan PDRI pada 22 Desember 1948 yang dipimpin Syafruddin Prawiranegara.
Safni berharap peringatan tahun ini menjadi sumber motivasi bagi masyarakat, khususnya generasi muda, dalam membangun daerah serta menjaga persatuan dan kesatuan bangsa.
Ia juga mengajak seluruh pihak menghargai jasa 69 syuhada yang gugur di Lurah Kincie dalam membela negara.
Selain itu, Safni menyampaikan apresiasi kepada pemerintah pusat atas komitmen dalam percepatan penanganan dan pemulihan pascabencana hidrometeorologi di Sumatera Barat.
Upacara diikuti unsur Forkopimda, TNI-Polri, ASN, pelajar, tokoh masyarakat, dan warga setempat.(rid)
Editor : Hendra Efison