PADEK.JAWAPOS.COM— Program Kompos Sekolah yang diterapkan di SDN 03 Batu Balang, Kabupaten Limapuluh Kota, tidak hanya mengurangi volume sampah organik, tetapi juga meningkatkan keterlibatan siswa dalam pengelolaan lingkungan.
Program pengabdian kepada masyarakat Universitas Mercubaktijaya tersebut berhasil menurunkan volume sampah organik dari 200 kilogram menjadi 70 kilogram per minggu.
Pada saat yang sama, keterlibatan siswa dalam kegiatan pengelolaan sampah meningkat dari 20 persen menjadi 80 persen.
Program yang diketuai Ety Apriyanti, SKM., M.Kes., bersama tim dosen dan mahasiswa itu dilaksanakan melalui sosialisasi, pelatihan pengelolaan sampah, praktik pembuatan kompos, pembangunan instalasi kompos sekolah, serta pendampingan kepada guru dan siswa.
Pengetahuan dan Keterampilan Siswa Meningkat
Pelaksanaan program juga berdampak pada peningkatan pengetahuan dan keterampilan warga sekolah dalam mengelola sampah.
Pemahaman tentang pengelolaan sampah meningkat dari 45 persen menjadi 85 persen. Kemampuan memilah sampah naik dari 40 persen menjadi 88 persen, sedangkan pemahaman tentang komposting sederhana meningkat dari 35 persen menjadi 82 persen.
Pemahaman mengenai manfaat lingkungan juga meningkat dari 50 persen menjadi 90 persen.
Sementara itu, keterampilan praktik pengelolaan sampah naik dari 42 persen menjadi 86 persen.
Penurunan volume sampah organik dari 200 kilogram menjadi 70 kilogram per minggu menunjukkan pengurangan sebesar 65 persen berdasarkan perhitungan dari data tersebut.
Sampah Diolah Menjadi Kompos
Kepala SDN 03 Batu Balang Hendry menyambut baik pelaksanaan program tersebut karena memberikan solusi langsung terhadap persoalan sampah di lingkungan sekolah.
Melalui instalasi kompos yang dibangun dalam program tersebut, sampah organik dapat diolah menjadi kompos.
Hasilnya dimanfaatkan untuk penghijauan dan pemeliharaan taman sekolah.
Ketua Tim Pengabdian Ety Apriyanti bersama anggota tim Feri Musharyadi, M.Kom., mengatakan Program Kompos Sekolah tidak hanya diarahkan untuk mengurangi sampah, tetapi juga menjadi sarana pendidikan karakter bagi siswa.
Melalui kegiatan tersebut, siswa belajar menerapkan disiplin, tanggung jawab, gotong royong, dan kepedulian terhadap lingkungan sejak usia dini.
Dibentuk Tim Kompos Sekolah
Untuk menjaga keberlanjutan program setelah kegiatan pengabdian selesai, sekolah juga membentuk Tim Kompos Sekolah yang terdiri dari guru dan siswa.
Model tersebut diharapkan dapat diterapkan di sekolah lain sebagai bagian dari penguatan pendidikan lingkungan hidup dan implementasi Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5).
Program pengabdian kepada masyarakat tersebut didanai Universitas Mercubaktijaya Tahun Anggaran 2026. Kegiatan ini menjadi salah satu bentuk kontribusi perguruan tinggi dalam mendukung terciptanya lingkungan sekolah yang bersih, sehat, dan berkelanjutan.(*)
Editor : Hendra Efison