Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Mendidik di Era Scroll

Novitri Selvia • Kamis, 2 Juli 2026 | 11:20 WIB
Novi Handra, S.Pd.I., M.Pd., GURU SMPN 8 PAYAKUMBUH
Novi Handra, S.Pd.I., M.Pd., GURU SMPN 8 PAYAKUMBUH

PADEK.JAWAPOS.COM-Saat ini, tantangan utama para guru bukan lagi sekadar menarik siswa untuk datang ke sekolah, tetapi memastikan mereka benar-benar terlibat dalam proses pembelajaran di kelas.

Meskipun secara fisik mereka berada di bangku sekolah, pikiran mereka sering berpindah dari satu video ke video lainnya, dari satu notifikasi ke notifikasi berikutnya.
 
Dunia digital telah mengubah cara pandang, pola pikir, dan cara belajar generasi muda. Di tengah arus perubahan ini, Pendidikan Agama Islam (PAI) dihadapkan pada pertanyaan penting: apakah agama masih dapat berfungsi sebagai pedoman hidup di tengah derasnya arus informasi?

Kita hidup di era ketika setiap orang memiliki suara, tetapi tidak semua bersedia mendengarkan. Setiap orang dapat mengunggah konten, tetapi belum tentu mampu menyaring informasi dengan baik.

Anak-anak dihadapkan pada ribuan informasi setiap hari, namun tidak semuanya mengandung hikmah. Mereka memiliki akses terhadap pengetahuan yang luas, tetapi sering kali kesulitan membedakan mana yang benar dan mana yang sekadar viral.

Karena itu, PAI tidak dapat dipandang hanya sebagai mata pelajaran yang selesai ketika bel berbunyi. PAI harus bertransformasi menjadi kompetensi hidup yang membimbing siswa menghadapi dunia digital dengan iman, akhlak, dan nalar yang sehat.

Guru PAI masa kini harus lebih dari sekadar menguasai nash-nash keagamaan. Ia perlu memahami dunia yang dijelajahi peserta didiknya.

Guru juga perlu memahami mengapa media sosial begitu menarik, mengapa kecerdasan buatan (artificial intelligence atau AI) berkembang pesat, serta mengapa banyak anak lebih mempercayai informasi dari internet daripada bertanya kepada guru. 

Hal ini bukan untuk menyaingi teknologi, melainkan agar guru mampu membimbing siswa dalam memanfaatkannya secara bijaksana.
Pendidikan agama tidak seharusnya bersikap antipati terhadap teknologi. 

Sebaliknya, teknologi harus dimanfaatkan sebagai sarana untuk berdakwah, belajar, berkarya, dan berbagi manfaat. AI dapat membantu mencari referensi, tetapi tidak dapat menggantikan keikhlasan hati.

Mesin mungkin mampu menjawab pertanyaan, tetapi tidak dapat menanamkan nilai kejujuran. Internet dapat menyimpan jutaan kitab, tetapi tidak dapat menggantikan keteladanan seorang guru.

Salah satu tantangan utama generasi saat ini adalah budaya instan. Anak-anak sering menginginkan hasil yang cepat, jawaban yang cepat, bahkan kesuksesan yang instan.

Padahal, Islam mengajarkan bahwa setiap kebaikan membutuhkan proses. Nabi Muhammad saw. membangun peradaban bukan dalam semalam, melainkan melalui kesabaran, keteladanan, dan perjuangan yang panjang.

Oleh sebab itu, PAI harus mengajarkan bahwa proses bukanlah hambatan, melainkan bagian penting dari pembentukan karakter. Kelas PAI juga perlu bertransformasi menjadi ruang dialog, bukan sekadar tempat ceramah.

Siswa perlu diberi kesempatan untuk bertanya, berdiskusi, bahkan mengungkapkan kegelisahan mereka. Mengapa perundungan masih terjadi? Mengapa hoaks mudah dipercaya?

Bagaimana Islam memandang penggunaan AI? Apa yang diperlukan untuk menjadi Muslim yang baik di media sosial? Pertanyaan-pertanyaan seperti ini akan membuat pembelajaran PAI lebih hidup dan relevan.

Di era digital, akhlak tidak hanya tercermin dalam kehidupan nyata, tetapi juga dalam jejak digital. Komentar yang santun, tidak menyebarkan fitnah, menghargai karya orang lain, serta memanfaatkan teknologi untuk hal-hal yang bermanfaat merupakan bentuk implementasi nilai-nilai Islam yang dekat dengan kehidupan siswa.

Mereka perlu menyadari bahwa setiap unggahan merupakan bagian dari tanggung jawab moral. Guru Pendidikan Agama Islam memiliki peluang besar untuk memanfaatkan teknologi dalam menciptakan pembelajaran yang lebih menarik.

Melalui video refleksi, podcast keislaman, kuis interaktif, proyek sosial berbasis digital, hingga penggunaan AI sebagai alat bantu belajar, pembelajaran dapat menjadi lebih dekat dengan dunia siswa. Ketika teknologi dipadukan dengan nilai-nilai Islam, proses belajar tidak hanya menjadi lebih modern, tetapi juga lebih bermakna.

Lebih jauh, PAI perlu menumbuhkan kemampuan literasi digital yang berlandaskan nilai-nilai keislaman. Siswa perlu diarahkan agar mampu memverifikasi informasi sebelum membagikannya, menghormati hak cipta, menjaga privasi, serta memanfaatkan media sosial sebagai sarana menyebarkan inspirasi, bukan kebencian. Inilah bentuk dakwah yang relevan dengan tantangan zaman.

Pada akhirnya, keberhasilan Pendidikan Agama Islam tidak diukur dari banyaknya materi yang diajarkan, melainkan dari sejauh mana nilai-nilai tersebut terinternalisasi dalam kehidupan sehari-hari siswa.

Ketika seorang siswa memilih jujur saat ujian meskipun teknologi memudahkan untuk menyontek, ketika ia memanfaatkan AI untuk belajar dan bukan untuk menipu, serta ketika ia lebih memilih menyebarkan harapan daripada kebencian, saat itulah PAI benar-benar hadir dalam kehidupannya.

Di zaman ketika jempol bergerak lebih cepat daripada pikiran, Pendidikan Agama Islam memiliki tugas mulia: mengajarkan bahwa sebelum membagikan sesuatu, gunakanlah akal; sebelum menulis sesuatu, dahulukan adab; dan sebelum melakukan sesuatu, hadirkan Allah dalam hati.

Sebab, teknologi akan terus berkembang, tetapi akhlaklah yang akan menentukan arah peradaban manusia. Jika dahulu guru mengajar di depan papan tulis, kini guru juga mengajar di tengah derasnya arus digital.

Jika teknologi mampu menghubungkan manusia dengan dunia, maka Pendidikan Agama Islam harus tetap mampu menghubungkan manusia dengan Tuhannya. (*)

Editor : Novitri Selvia
#Mendidik di Era Scroll #Laman Guru #Novi Handra