PADEK.JAWAPOS.COM-Ada kenangan yang tidak pernah benar-benar hilang, meski waktu telah berjalan puluhan tahun. Ia mungkin tidak lagi tersimpan dalam bentuk benda, tetapi tetap hidup dalam ingatan.
Bagi saya, kenangan itu berawal dari sebuah buku tipis bersampul putih bertuliskan “Buku Kegiatan Ramadan”.
Buku sederhana yang dahulu tampak seperti tugas sekolah biasa itu, kini justru menjadi pintu yang membawa saya kembali pada masa kecil—masa ketika Ramadan dipenuhi kantuk, semangkuk bakso hangat, dan kasih sayang seorang ibu.
Bagi anak-anak yang tumbuh pada era 1990-an, buku kegiatan Ramadan bukan sekadar lembar tugas. Buku itu menjadi semacam “paspor” yang harus diisi dengan penuh tanggung jawab.
Setiap memasuki bulan suci, guru Pendidikan Agama Islam membagikannya sambil berpesan, “Isi semua kolomnya. Jangan ada yang kosong.”Di dalamnya terdapat catatan puasa, salat lima waktu, salat Tarawih, hingga rangkuman ceramah yang harus ditulis setiap malam.
Saat itu, tugas tersebut terasa begitu berat bagi seorang anak sekolah dasar. Namun, tanpa saya sadari, justru dari buku itulah saya belajar tentang disiplin, kejujuran, kesabaran, dan cinta yang diwujudkan melalui tindakan sederhana.
Ramadan selalu menghadirkan suasana berbeda di kampung kami. Menjelang malam, masjid dipenuhi jamaah. Aroma minyak wangi bercampur dengan semilir angin malam menciptakan suasana yang begitu khas.
Bagi anak-anak, Tarawih bukan hanya ibadah, tetapi juga kesempatan berkumpul bersama teman-teman. Saf paling belakang selalu menjadi tempat favorit mereka. Di sana terdengar bisik-bisik, tawa kecil yang ditahan, bahkan sesekali perang mukena atau saling menyenggol saat imam sedang membaca ayat-ayat Al-Qur’an.
Saya sering memandangi mereka dengan rasa iri.
Saya ingin ikut bermain.
Namun, keinginan itu selalu pupus oleh satu kalimat yang diucapkan Ibu dengan lembut tetapi tegas.
“Kamu salat di samping Ibu.”
Tidak ada tawar-menawar.
Dengan wajah sedikit cemberut, saya menggelar sajadah tepat di samping beliau. Saat teman-teman bebas bercanda di belakang, saya harus berdiri tenang mengikuti setiap gerakan salat. Waktu itu saya menganggap aturan tersebut sebagai hukuman.
Kini saya mengerti, ternyata itu adalah bentuk kasih sayang yang belum mampu saya pahami sebagai seorang anak.
Usai salat Isya, perjuangan berikutnya dimulai.
Ketika teman-teman berhamburan menuju gerobak jajanan, saya tetap duduk bersila di dalam masjid. Di pangkuan sudah terbuka buku kegiatan Ramadan, sementara sebuah pulpen siap mencatat isi ceramah ustaz.
Merangkum ceramah bukan pekerjaan mudah. Bahasa yang digunakan sering kali terlalu tinggi untuk dipahami anak sekolah dasar. Belum lagi penyampaiannya yang cepat membuat saya kerap kehilangan inti pembahasan.
Di sinilah Ibu mengambil peran yang tak pernah bisa digantikan.
Beliau sedikit mendekat, lalu berbisik pelan setiap kali saya terlihat kebingungan.
“Tulis, Nak... puasa mengajarkan kita bersabar.”
“Tulis lagi... orang yang ikhlas akan mendapatkan pahala dari Allah.”
Kalimat-kalimat sederhana itulah yang memenuhi halaman demi halaman buku Ramadan saya.
Tulisan tangan saya yang masih berantakan berpadu dengan bahasa Ibu yang begitu mudah saya mengerti. Hari ini saya sadar, malam-malam itu bukan sekadar belajar membuat rangkuman. Saya sedang belajar memahami agama melalui bahasa kasih seorang ibu.
Setelah ceramah selesai, perjuangan belum benar-benar usai.
Puluhan anak mengantre di depan meja panitia untuk mendapatkan tanda tangan ustaz dan stempel sebagai bukti kehadiran. Buku-buku bertumpuk tinggi. Antrean berjalan lambat. Sementara itu, musuh terbesar mulai datang menghampiri.
Kantuk.
Kelopak mata terasa semakin berat. Kepala beberapa kali terangguk hingga nyaris tertidur sambil memeluk lutut di sudut masjid. Rasanya ingin segera pulang dan merebahkan tubuh di atas kasur.
Namun, Ibu tidak pernah meninggalkan saya.
Beliau duduk di samping saya dengan penuh kesabaran. Sesekali tangannya mengusap punggung saya sambil berkata,
“Sebentar lagi selesai, Nak. Bertahan sedikit lagi.”
Kalimat sederhana itu selalu menjadi penyemangat.
Lalu tibalah saat yang paling saya tunggu.
Begitu buku kegiatan kembali ke tangan saya lengkap dengan stempel berwarna ungu, wajah Ibu berubah menjadi begitu hangat.
“Mau makan apa malam ini?” tanyanya.
Seketika rasa kantuk lenyap.
Kami berjalan keluar dari halaman masjid menuju gerobak bakso atau sate ayam di pinggir jalan. Duduk berdua menikmati semangkuk bakso hangat di bawah cahaya lampu yang temaram menjadi hadiah terindah setelah menjalani malam Ramadan.
Saat itu saya mengira bakso adalah hadiah. Kini saya memahami, hadiah sesungguhnya adalah waktu yang diberikan Ibu. Waktu untuk menemani saya beribadah, belajar, menunggu antrean, bahkan mengusir kantuk hingga larut malam.
Hari demi hari, seluruh halaman buku kegiatan Ramadan saya akhirnya terisi penuh. Tidak ada kolom yang kosong. Tidak ada ceramah yang terlewat. Semua tanda tangan dan stempel berhasil terkumpul.
Selepas libur Idulfitri, guru memanggil nama saya di depan kelas. “Juara kedua penulisan notulen Ramadan terbaik.” Saya melangkah dengan jantung berdegup kencang menerima hadiah sederhana itu. Namun, dalam hati saya tahu, kemenangan tersebut bukan semata-mata hasil kerja saya. Di balik setiap tulisan yang rapi, ada bisikan Ibu.
Di balik setiap halaman yang penuh, ada kesabaran Ibu.
Di balik setiap keberhasilan, ada doa yang tak pernah putus dipanjatkan oleh seorang ibu untuk anaknya.
Kini buku kegiatan Ramadan itu entah berada di mana. Mungkin telah hilang dimakan usia, mungkin pula telah rusak bersama tumpukan buku-buku lama. Namun, jejak yang ditinggalkannya tetap hidup dalam ingatan saya.
Setiap Ramadan datang, saya selalu teringat saf di samping Ibu, suara lembutnya yang membantu saya menulis, usapan tangannya ketika kantuk menyerang, dan aroma bakso hangat yang menutup setiap malam penuh perjuangan.
Saya akhirnya memahami bahwa kasih sayang seorang ibu tidak selalu hadir dalam pelukan atau kata-kata manis. Kadang ia menjelma menjadi aturan yang terasa berat, kesabaran yang tak pernah habis, dan doa-doa yang diam-diam menguatkan langkah anaknya.
Buku Ramadan itu memang telah lama hilang. Tintanya mungkin telah memudar. Namun, nilai-nilai yang dituliskannya tetap abadi. Sebab di antara jejak tinta dan aroma bakso itu, saya menemukan pelajaran paling berharga: bahwa cinta seorang ibu selalu meninggalkan bekas yang tak pernah lekang oleh waktu. (*)
Editor : Novitri Selvia