Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Seompreng Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kota Padang: Kenyangnya Ada, Gizinya Masih Perlu Diajak Duduk Bersama

Mhd Nazir Fahmi • Sabtu, 9 Mei 2026 | 11:21 WIB
Ilustrasi. (REZA FEBRINO/PADEK
Ilustrasi. (REZA FEBRINO/PADEK)

Izin Pak Presiden. Sedikit mengulik menu Makan Bergizi Gratis (MBG) di kampung kami, Kota Padang, Sumatera Barat. Sueerr...di tulisan ini tak bermaksud mendiskreditkan. Tapi, menampilkan fakta sebenarnya berdasarkan berbagai referensi. Janji, Pak Presiden, nanti ada solusi konkret bagaimana menu MBG-nya benar-benar bergizi.

Catatan : Mhd Nazir Fahmi

Pagi itu, sebuah ompreng mendarat di meja murid Sekolah Dasar (SD) di Kota Padang. Isinya sederhana. Nasi putih, telur goreng, sayur kol dan wortel, beberapa butir kelengkeng, serta sebungkus kecil kacang goreng. Karena libur, murid-murid disuruh bawa pulang makanan tersebut dengan disalin ke wadah plastik ungu. Saat difoto, makanan tersebut belum dicicipi oleh sang murid. Kalua dihitung-hitung, modalnya Rp6.000 sampai Rp8.000 per ompreng. Inilah wajah Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang sedang ramai dibicarakan.

Sepintas, menu ini tampak ”aman”.  Anak-anak kemungkinan besar suka. Tidak pedas, tidak aneh, dan mudah dimakan. Tapi pertanyaannya bukan sekadar: anak mau makan atau tidak? Pertanyaan pentingnya: apakah tubuh mereka benar-benar mendapat cukup gizi untuk tumbuh? Mari kita bedah satu per satu, tanpa marah-marah, tanpa tepuk tangan berlebihan.

Nasi Putih: Energi Cepat, tapi Jangan Kesepian

Porsi nasi dalam kotak ini terlihat dominan. Bisa jadi sekitar 250–300 gram nasi matang. Artinya, energi yang diberikan cukup besar. Secara gizi: Karbohidrat tinggi, memberi tenaga untuk belajar dan bermain dan mudah diterima lidah anak-anak.

Namun nasi yang terlalu mendominasi punya efek klasik Indonesia: kenyang cepat, lapar gizi belakangan. Tubuh anak bukan cuma butuh “isi”, tapi juga: protein untuk tumbuh, zat besi untuk otak, vitamin untuk daya tahan tubuh. Kalau nasi terlalu banyak sementara lauk minim, hasilnya seperti membangun rumah besar dengan sedikit semen.

Telur Goreng: Pahlawan Kecil yang Kerjanya Berat

Telur adalah bagian paling “menyelamatkan” dalam menu ini. Satu butir telur mengandung: protein berkualitas tinggi, lemak baik, vitamin B12, kolin untuk perkembangan otak anak. Masalahnya, hanya satu telur harus menanggung beban gizi satu kotak makan. Itu seperti menunjuk satu pemain bertahan menjaga seluruh lini depan lawan.

Kalau target MBG benar-benar ingin memperbaiki kualitas tumbuh kembang anak, protein perlu diperkuat. Bisa dengan: telur tambahan, ikan kecil, tempe, tahu, atau ayam dalam porsi realistis. Di Sumatera Barat yang kaya hasil ikan, absennya protein ikan justru terasa ironis.

 

Kol dan Wortel: Hadir,tapi Masih Seperti Figuran

Sayur dalam menu ini sebenarnya memberi warna baik: wortel mengandung vitamin A, kol mengandung serat dan vitamin C. Namun porsinya tampak kecil.

Lebih mirip “hiasan pendamping” daripada sumber serat utama. Padahal anak SD sangat butuh serat agar: pencernaan baik, kenyang lebih stabil, kebiasaan makan sehat terbentuk sejak dini. Banyak anak Indonesia tumbuh dengan hubungan yang renggang terhadap sayur. Kalau program sebesar MBG tidak serius mengenalkan sayur, kapan lagi?

Kelengkeng: Manis Segar, tapi Bukan Solusi Utama

Buah adalah kabar baik dalam menu ini. Kelengkeng mengandung: vitamin C, antioksidan, gula alami untuk energi cepat. Tetapi jumlahnya sedikit dan jenis buahnya cenderung “cemilan”. Buah lokal yang lebih kuat secara gizi sebenarnya banyak: pisang, pepaya, jambu, semangka. Selain lebih murah, buah-buah itu lebih mengenyangkan dan kaya serat. Kelengkeng terasa seperti tamu undangan, bukan penghuni tetap.

Kacang Goreng: Protein Ada, Garam dan Minyak Juga Ikut Datang

Kacang memberi: protein nabati, lemak baik, mineral. Namun model gorengan asin seperti ini punya catatan: tinggi minyak, cukup asin, mudah membuat anak haus. Kalau diberikan sesekali, tidak masalah. Tapi jika terlalu sering, kualitas gizinya turun karena lebih dekat ke makanan ringan dibanding lauk sehat. Kacang rebus atau kacang sangrai sebenarnya bisa menjadi alternatif yang lebih sehat dan murah.

Jadi, Apakah menu ini buruk? Tidak. Ini bukan menu buruk. Anak-anak tetap mendapat: energi, sedikit protein, sedikit vitamin, sedikit serat. Tetapi untuk program bernama Makan Bergizi Gratis, standar publik tentu lebih tinggi dari sekadar “asal kenyang”. Menu ini masih terasa: terlalu berat di karbohidrat, minim protein utama, sayur dan buah belum optimal, belum mencerminkan kekayaan pangan lokal Sumatera Barat.

Apa solusi yang lebih masuk akal? Alih-alih mengejar menu “mewah”, yang lebih penting adalah keseimbangan. Contoh sederhana yang mungkin lebih kuat gizinya: nasi secukupnya, telur + tempe, sayur lebih banyak, ikan kecil balado ringan, pisang atau pepaya.

 

Murah? Masih mungkin. Lebih bergizi? Jelas. MBG seharusnya bukan proyek “mengenyangkan massal”, melainkan investasi otak dan tubuh generasi masa depan. Karena anak SD bukan sedang diberi makan untuk hari ini saja. Mereka sedang dipersiapkan untuk Indonesia 20 tahun mendatang. Dan masa depan, seperti kita tahu, tidak bisa dibangun hanya dengan nasi yang banyak. (*)

Editor : Adriyanto Syafril
#Makan Bergizi Gratis (MBG)