Pariaman masih menyimpan beragam kuliner tradisional yang tetap bertahan di tengah gempuran makanan modern. Salah satunya adalah sambareh, makanan khas Pariaman yang memiliki cita rasa unik dan sarat nilai budaya.
Sambareh terbuat dari campuran tepung beras, santan, dan tapai singkong. Adonan tersebut dimasak di atas kuali kecil yang telah dipanaskan.
Sekilas tampilannya mirip serabi, tetapi sambareh memiliki tekstur lebih padat karena menggunakan tepung beras sebagai bahan utama.
Perpaduan tekstur lembut dan padat dari sambareh dengan kuah santan manis gurih membuat kuliner ini begitu menggugah selera. Sambareh pun kerap dijadikan menu sarapan pagi masyarakat Pariaman.
Tak hanya sekadar makanan, sambareh juga memiliki nilai budaya bagi masyarakat setempat.
Di Pariaman dikenal istilah “bulan sambareh”, yaitu tradisi ketika menantu mengantarkan sambareh kepada mertua sebagai bentuk penghormatan dan mempererat tali silaturahmi keluarga.
Di kawasan Pasir Pariaman, tidak jauh dari stasiun kereta api, Buk Ina telah puluhan tahun berjualan sambareh. Ia masih mempertahankan resep asli warisan ibunya.
Satu potong sambareh dijual dengan harga Rp2.500. “Satu potong sambareh dijual Rp2.500. Kadang sebelum pukul 09.00 WIB sudah habis,” kata Buk Ina.
Buk Ina mulai berjualan sejak pukul 06.00 WIB hingga 10.00 WIB. Namun, tidak jarang sebelum pukul 09.00 WIB dagangannya sudah habis terjual.
Menurut Buk Ina, menjaga kualitas bahan baku menjadi kunci agar sambareh tetap diminati masyarakat, meski kini banyak makanan kekinian bermunculan di Pariaman. (nia)
Editor : Adriyanto Syafril