Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Diabetes Mengintai Generasi Muda, Pola Makan Tak Sehat Picu Lonjakan Kasus pada Remaja dan Dewasa Muda

Jufri Jao • Sabtu, 18 Juli 2026 | 10:35 WIB
Ilustrasi. (REZA/PADEK)
Ilustrasi. (REZA/PADEK)

DIABETES melitus tidak lagi identik dengan penyakit yang menyerang kelompok lanjut usia. Dalam beberapa tahun terakhir, kasus diabetes tipe 2 justru semakin banyak ditemukan pada remaja dan dewasa muda. Perubahan pola makan, tingginya konsumsi makanan dan minuman tinggi gula, serta gaya hidup yang minim aktivitas fisik menjadi pemicu utama meningkatnya kasus penyakit ini.

Fenomena yang dikenal sebagai early-onset type 2 diabetes atau diabetes tipe 2 yang muncul pada usia muda kini menjadi perhatian dunia kesehatan. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa perubahan pola hidup masyarakat modern berperan besar terhadap meningkatnya risiko diabetes sejak usia produktif.

Pola konsumsi masyarakat saat ini didominasi makanan padat energi yang tinggi gula tambahan, lemak jenuh, dan natrium, tetapi rendah serat. Kondisi tersebut menyebabkan keseimbangan energi positif, yaitu ketika asupan energi melebihi energi yang dikeluarkan tubuh. Akibatnya, berat badan meningkat dan risiko obesitas menjadi lebih tinggi.

Ahli Gizi Universitas Negeri Padang (UNP), Dr. dr. Zuhrah Taufiqa, M.Biomed, mengatakan diabetes tipe 2 kini tidak lagi didominasi kelompok usia lanjut. Menurutnya, perubahan pola makan dan gaya hidup dalam beberapa tahun terakhir menjadi faktor utama yang mendorong meningkatnya kasus diabetes pada remaja dan dewasa muda.

“Banyak anak muda menganggap diabetes hanya dialami orang tua. Padahal, pola makan tinggi gula, sering mengonsumsi makanan dan minuman ultra-proses, kurang beraktivitas fisik, serta kebiasaan begadang dapat meningkatkan risiko terjadinya diabetes tipe 2 sejak usia muda,” ujarnya.

Penumpukan lemak, terutama di area perut atau lemak viseral, memicu pelepasan berbagai zat penyebab peradangan, seperti Tumor Necrosis Factor-alpha (TNF-á) dan Interleukin-6 (IL-6). Peradangan kronis ini berkontribusi terhadap terjadinya resistensi insulin, yaitu kondisi ketika sel-sel tubuh tidak lagi merespons insulin secara optimal.

Pada tahap awal, pankreas masih mampu mengimbangi kondisi tersebut dengan memproduksi insulin dalam jumlah lebih banyak. Namun, apabila berlangsung terus-menerus, fungsi sel beta pankreas akan menurun sehingga kadar gula darah meningkat. Proses ini berlangsung secara bertahap, mulai dari kadar gula darah normal, berkembang menjadi prediabetes, hingga akhirnya menjadi diabetes melitus tipe 2 apabila tidak dilakukan perubahan gaya hidup.

Minuman Manis Tingkatkan Risiko

Salah satu faktor yang paling berpengaruh terhadap meningkatnya kasus diabetes pada usia muda adalah tingginya konsumsi minuman berpemanis (Sugar-Sweetened Beverages/SSBs). Teh manis kemasan, minuman bersoda, kopi dengan tambahan sirup, minuman boba, minuman energi, hingga berbagai minuman kekinian umumnya mengandung gula tambahan da­lam jumlah tinggi.

Berbeda dengan makanan padat, kalori dari minuman tidak memberikan rasa kenyang yang bertahan lama. Akibatnya, seseorang cenderung mengonsumsi lebih banyak kalori tanpa disadari. Kelebihan gula tersebut kemudian diubah menjadi lemak di hati yang dapat memicu perlemakan hati nonalkohol (Non-Alcoholic Fatty Liver Disease/NAFLD), dislipidemia, resistensi insulin, hingga diabetes melitus tipe 2.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merekomendasikan agar konsumsi gula tambahan dibatasi kurang dari 10 persen dari total kebutuhan energi harian. Bahkan, untuk memperoleh manfaat kesehatan yang lebih optimal, konsumsi gula dianjurkan kurang dari 5 persen dari total kebutuhan energi setiap hari.

Terapkan Pola Makan Bergizi Seimbang

Pencegahan diabetes tidak berarti menghindari karbohidrat sepenuhnya. Yang terpenting adalah memilih sumber karbohidrat yang lebih sehat, mengatur porsinya, serta mengombinasikannya dengan protein, lemak sehat, buah, dan sayuran.

Karbohidrat kompleks, se­perti beras merah, gandum utuh, oat, jagung, ubi, dan kentang, lebih dianjurkan karena memiliki indeks glikemik yang lebih rendah dibandingkan karbohidrat olahan.

Konsumsi serat juga perlu ditingkatkan karena mampu memperlambat penyerapan glukosa, memberikan rasa kenyang lebih lama, serta membantu menjaga kadar gula da­rah tetap stabil. Selain itu, konsumsi protein berkualitas, lemak tidak jenuh, buah, dan sayuran kaya antioksidan dapat meningkatkan sensitivitas insulin sekaligus mengurangi stres oksidatif.

Zuhrah menjelaskan, konsumsi gula berlebih yang berlangsung dalam jangka panjang dapat memicu obesitas dan resistensi insulin. Jika kondisi tersebut tidak dikendalikan, fungsi pankreas akan me­nurun sehingga kadar gula darah meningkat dan ber­kem­bang menjadi diabetes melitus tipe 2.

“Pencegahan harus dimulai sejak dini. Masyarakat tidak perlu menghindari karbohidrat, tetapi memilih sumber karbo­hidrat yang lebih sehat, mem­perbanyak konsumsi sa­yur, buah, dan serat, membatasi gula tambahan, serta rutin melakukan aktivitas fisik,” katanya.

Remaja yang hidup dengan diabetes tetap memerlukan seluruh zat gizi makro maupun mikronutrien karena masih berada pada masa pertumbuhan dan perkembangan. Pengaturan makan bertujuan menjaga kadar gula darah tetap terkendali sekaligus memenuhi kebutuhan gizi.

Karbohidrat tetap menjadi sumber energi utama, tetapi sebaiknya dipilih yang memiliki indeks glikemik rendah. Protein diperlukan untuk pembentukan jaringan tubuh, sedangkan lemak tidak jenuh mendukung kesehatan jantung dan pembuluh darah.

Asupan serat, vitamin D, magnesium, kromium, seng, dan kalsium juga berperan penting dalam metabolisme glukosa, fungsi insulin, serta pertumbuhan remaja.

Pendekatan Medical Nutrition Therapy (MNT) yang disesuaikan dengan kebutuhan energi, status gizi, aktivitas fisik, dan terapi medis menjadi bagian penting dalam pengelolaan diabetes pada remaja.

Gejala awal diabetes sering berkembang secara perlahan sehingga kerap tidak disadari. Tanda-tanda klasik meliputi sering buang air kecil, sering merasa haus, dan sering merasa lapar.

Selain itu, penurunan berat badan tanpa sebab yang jelas, mudah lelah, penglihatan kabur, luka yang sulit sembuh, infeksi kulit berulang, hingga kesemutan juga perlu diwaspadai sebagai gejala awal diabetes. Deteksi dini melalui pemeriksaan gula darah puasa, HbA1c, atau Tes Toleransi Glukosa Oral (TTGO) sangat dianjurkan, terutama bagi mereka yang memiliki faktor risiko.

Risiko diabetes lebih tinggi pada remaja dan dewasa muda yang mengalami obesitas, terutama obesitas sentral, memiliki riwayat keluarga dengan diabetes, hipertensi, dislipidemia, maupun sindrom metabolik.

Kurangnya aktivitas fisik, gaya hidup sedentari, ke­­biasaan begadang, stres kronis, serta konsumsi makanan ultra-proses dan minuman berpemanis secara berlebihan juga meningkatkan risiko. Pada perempuan, Polycystic Ovary Syndrome (PCOS) turut menjadi faktor risiko karena berkaitan erat dengan resistensi insulin.

Cegah Diabetes Sejak Usia Muda

Diabetes tipe 2 merupakan penyakit yang sebagian besar dapat dicegah melalui perubahan gaya hidup. Menerapkan pola ma­kan bergizi seim­bang, membatasi konsumsi gula tambahan, berolahraga sedikitnya 150 menit per minggu, menjaga berat ba­dan ideal, tidur yang cukup, mengelola stres, serta melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala merupakan langkah efektif untuk mencegah diabetes.

Diabetes tidak muncul secara tiba-tiba. Penyakit ini berkembang melalui proses metabolik yang berlangsung selama bertahun-tahun. Oleh karena itu, setiap pilihan makanan, setiap aktivitas fisik, dan setiap kebiasaan hidup sehat yang dilakukan sejak usia mu­da merupakan investasi penting untuk menjaga kesehatan, mempertahankan fungsi insulin, dan meningkatkan kualitas hidup di masa depan. (juf)

 

Editor : Adriyanto Syafril
diabetes melitus