“Informasi yang kita himpun dari Satgas dan masyarakat, seperti di Siberut, Sipora dan Pagai Utara-Selatan, warga merasakan gempa cukup kuat. Sebagian ada yang memilih ke luar rumah dan sebagian juga ada yang memilih lari ke tempat yang lebih tinggi. Namun, setelah gempa reda, aktifitas masyarakat kembali normal,” jelas Novriadi.
Pakar gempa dari Universitas Negeri Padang (UNP) Rusnardi, mengatakan gelombang gempa merambat ke seluruh arah. Tergantung dari struktur tanah yang dilalui oleh gelombang gempa tersebut.
“Setiap tanah memiliki struktur yang keras dan ada yang lunak. Nah, barangkali, salah satu penyebab, ada sebagian masyarakat yang tidak merasakan getaran gempa, karena kontur tanah tempat posisi mereka berada relatif keras,” ungkapnya.
Dia juga menyebutkan, bahwa, di dalam ilmu gempa, ada dua kategori gempa yang mesti dipahami. Dua kategori tersebut, yakni, gempa independen dan gempa dependen. Dimana, kata dia, gempa independen, merupakan gempa terpisah. Sedangkan, gempa dependen merupakan gempa yang mempengaruhi.
“Kalau kita lihat, secara geografis dan pusat gempa, memang berada dekat dengan segmen. Secara teori bisa memicu megathrust Mentawai. Apalagi, kalau kita lihat energi gempa tergolong besar, karena berada dalam kedangkalan 10 kilometer,” ungkapnya.
Meski begitu, kata dia, potensi dan prediksi hanyalah sebagai sebuah perkiraan. Secara keilmuan kapan itu terjadi, belum satu pun ilmu yang mengetahuinya. Kita sebagai manusia, kata dia, dituntut untuk terus belajar atau menggali ilmu pengetahuan.
“Barangkali, kita juga perlu belajar dari pengalaman gempa dan tsunami yang terjadi sebelumnya, seperti tsunami Aceh, Mentawai dan Palu. Seperti apa mekanisme sebelum terjadi gempa dan tsunami, misalnya ada gempa-gempa yang terjadi sebelumnya. Walaupun begitu, hal itu juga belum tentu menjamin atau sesuai dengan mekanisme gempa yang akan terjadi,” ungkapnya.
Yang paling penting, kata dia, yakni, bagaimana masyarakat tetap waspada. Ada atau tidak ada gempa, kata dia, masyarakat tetap harus siaga. Namun, lanjut dia, tidak boleh ada ketakutan yang berlebihan.
“Kesiapan dalam menghadapi bencana harus selalu ada. Baik itu kesiapan Pemerintah maupun masyarakat. Jalur evakuasi dan bangunan ramah gempa mesti tersedia. Masyarakat tidak perlu terpancing oleh isu-isu yang tidak bisa diuji kebenarannya. Intinya, adalah, tetap waspada dan berdoa,” pungkasnya. (rif) Editor : Novitri Selvia