Kondisi pelik ini, hampir tidak jauh berbeda dengan relokasi masyarakat yang dihadapi Mentawai pascatsunami tahun 2010.
Hal itu diungkapkan Kepala Pelaksana BPBD Kepulauan Mentawai, Novriadi, kepada Padang Ekspres Jumat (12/11) usai menyerahkan bantuan kepada korban bencana banjir di dua dusun di Desa Sigapokna, Kecamatan Siberut Barat.
Penyerahan bantuan yang sempat terkendala cuaca tersebut, diserahkan kepada 167 kepala keluarga berupa beras, mi instan, ikan kaleng, gula, kopi dan teh.
Novriadi menilai, salah satu persoalan mendasar terkait relokasi tersebut, yakni, ketersediaan lahan itu sendiri.
“Tidak mudah untuk merelokasi masyarakat yang tinggal sepanjang aliran sungai di Pulau Siberut. Problemnya sangat banyak. Salah satunya, yakni, ketersediaan lahan. Kondisi ini, hampir tidak jauh berbeda dengan relokasi masyarakat korban tsunami tahun 2010 silam,” ungkapnya.
Selain itu, masyarakat yang di sepanjang aliran sungai sudah tinggal dan berladang sejak lama di sana. Tentunya, relokasi juga mesti didukung dengan sumber-sumber ekonomi masyarakat. Sementara, kata dia, anggaran pemerintah sangat terbatas.
“Itu belum termasuk biaya pembangunan hunian dan sarana pendukung lainnya, seperti sarana pendidikan dan kesehatan. Sementara, anggaran pemerintah sangat terbatas,” ujarnya.
Meski begitu, kata dia, solusi jangka pendek, yakni, masyarakat di sepanjang aliran sungai mesti membangun ketahanan pangan. Untuk wacana relokasi sendiri, kata dia, pihaknya menyerahkan sepenuhnya kepada masyarakat setempat melalui pemerintahan desa.
Kepala Desa Sigapokna, Elias Piau, kemarin, (14/11), mengaku, optimis relokasi pemukiman warga bisa terwujud di wilayah yang dipimpinnya tersebut. Namun, ketika dikonfirmasi soal solusi ketersediaan lahan relokasi, dia belum mau menjelaskan.
“Saya pastikan semuanya akan pindah (relokasi, red). Tergantung kesiapan kita, terutama Pemkab,” katanya.
Menurut dia, ada dusun yang sering langganan banjir di desa Sigapokna, yakni, Dusun Toktuk dan Dusun Sigep. Dia mengatakan, sebanyak 167 Kepala Keluarga bermukim di sepanjang aliran sungai di dusun tersebut.
Sekadar diketahui, hampir setiap tahun pada musim-musim penghujan kawasan masyarakat yang bermukim dibataran sungai di Pulau Siberut terendam banjir. Pada tahun ini, sedikitnya, 465 Kepala Keluarga terdampak banjir di empat desa di Pulau Siberut.(rif) Editor : Novitri Selvia