Dia mengatakan, hasil evaluasi terhadap simulasi gempa dan evakuasi yang dilaksanakan di SDN 13 Tuapejat, Selasa (23/5), akan menjadi perhatian bagi desa Tuapejat.
“Kami sadar, masih banyak PR yang akan kita kerjakan dalam melaksanakan mitigasi bencana. Apalagi, saat ini, sebagian besar masyarakat desa Tuapejat hidup dan menetap di kawasan zona merah atau bibir pantai. Tentunya, kewaspadaan harus terus ditingkatkan,” ungkapnya.
Diakuinya, memang tidak ada yang mengetahui kapan bencana itu akan datang. Namun, sebagai manusia yang diberikan akal dan pikiran, kata dia, kewaspadan dan kesiapan menghadapi itu harus terus dijaga dan dibudayakan. Apalagi, kata dia, Mentawai merupakan daerah rawan bencana gempa.
Ke depan, kata dia, Pemerintah desa akan memikirkan bagaimana jalur evakuasi bisa lebih mudah dilalui masyarakat. Di samping itu juga, kawasan evakuasi juga harus didukung dengan sarana dan prasarana yang memadai. Dimana, saat ini, belum ada satu pun sarana seperti toilet dan air bersih di kawasan tersebut.
“Kegiatan simulasi ini, menjadi catatan penting kita. Meski saya tidak bisa hadir dalam kegiatan tersebut, karena ada kegiatan lain. Namun, informasi yang disampaikan oleh Padang Ekspres hari Rabu tanggal 24 Mei 2023 kemarin, menjadi catatan penting kita. Kita akan dukung kelompok atau komunitas peduli bencana untuk mengedukasi masyarakat,” ujarnya.
Kemudian, bagaimana ke depan, ancaman bencana tidak lagi menjadi kabar per takut bagi masyarakat, karena minimnya edukasi. Namun, bagaimana, kita yang hidup di daerah rawan bencana itu, kata dia, bisa bersahabat dengan bencana. Ketakutan itu, kata dia, didasari karena kita belum mengenal siapa musuh atau lawan yang kita hadapi. (rif) Editor : Novitri Selvia