PADEK.JAWAPOS.COM-Mentawai bukanlah daerah yang menakutkan. Inilah pesan utama yang ditegaskan Senator DPD RI asal Sumbar, Irman Gusman, saat menembus gelombang samudera menuju Kepulauan Mentawai dalam agenda resesnya, Rabu (15/10).
Selama tiga hari penuh, ia menjelajahi Tuapejat, Sipora Selatan, hingga pelosok desa, menyerap langsung denyut kehidupan masyarakat kepulauan dan membongkar stigma lama yang sering melekat secara keliru pada Mentawai.
“Mentawai itu ramah. Bukan daerah yang menakutkan. Saya merasakan sendiri keramahan masyarakatnya, semangat toleransinya, dan potensi besar yang dimilikinya. Kita harus berhenti menyudutkan Mentawai dari kejauhan, padahal yang terjadi di sini justru sebaliknya,” tegas Irman.
Perjalanan senator asal Sumbar ini diawali dari Pelabuhan Muaro Padang. Menumpang Mentawai Fast, Irman bergabung bersama warga dan wisatawan dari berbagai negara dalam pelayaran menuju Tuapejat.
Dalam perjalanan selama 3,5 jam itu, suasana terasa cair. Irman tidak berjarak—berbincang santai, mendengar cerita, dan bahkan memberi kesan sebagai sosok yang bisa diajak duduk ngobrol tanpa protokol.
Setibanya di Tuapejat, dia disambut Bupati Mentawai Rinto Wardana Samaloisa, Forkopimda, serta masyarakat adat melalui tarian penyambutan tradisional.
Di Kantor Bupati, Irman memimpin dialog bertema “Transformasi Pariwisata Mentawai, dari Surga Tersembunyi Menuju Ikon Wisata Dunia.”
Irman menekankan, DPD RI hadir untuk berkomitmen memperjuangkan keadilan pembangunan, terutama bagi daerah-daerah kepulauan yang selama ini tertinggal secara infrastruktur dan layanan dasar.
“Mentawai bukan hanya milik Sumbar, tapi milik Indonesia, bahkan dunia. Kita harus hadir bukan hanya lewat ucapan, tapi lewat anggaran, program, dan komitmen pembangunan yang nyata,” ujar Irman yang juga mantan Ketua DPD RI.
Dalam dialog tersebut, Bupati Rinto menyampaikan bahwa problem utama Mentawai adalah keterisolasian akibat minimnya akses jalan yang layak.
“Kami hanya minta satu: bukakan jalan kami. Karena dari jalan, ekonomi bergerak, pendidikan lancar, kesehatan tercapai, dan masyarakat punya semangat,” ujar Rinto lugas.
Irman menyambut pernyataan itu dengan serius. Menurutnya, pembangunan jalan di Mentawai bukan sekadar proyek fisik, tapi simbol kehadiran negara.
“Negara tidak boleh hadir setengah hati di Mentawai. Kalau kita mau adil dan berkeadaban, maka wilayah seperti ini justru harus diprioritaskan,” katanya.
Potret Toleransi dari Ujung Barat Nusantara
Salah satu momen paling berkesan terjadi saat kunjungan Irman ke kompleks Muhammadiyah Mentawai. Di sana, dia dan Bupati Rinto bersama-sama melepas 10 ribu bibit ikan lele di kolam warga.
Irman menilai, semangat gotong royong dan pemberdayaan yang ditunjukkan masyarakat menjadi kekuatan khas Mentawai yang tak banyak diketahui orang luar.
Bupati Rinto menambahkan kisah unik yang menyentuh hati. “Saya Kristen. Tapi setiap Lebaran, saya ikut takbiran bersama umat muslim di pelabuhan. Tahun depan, saya ke Sikakap. Kita ini satu keluarga, hanya beda cara menyapa Tuhan,” ucapnya, disambut tawa dan tepuk tangan warga.
Bagi Irman, ini menjadi bukti konkret bahwa Mentawai bukan hanya ramah terhadap wisatawan, tetapi juga telah menjadi model toleransi antarumat beragama. Narasi lama yang menyebut Mentawai eksklusif atau “asing” bagi orang luar, sudah tidak relevan lagi.
Wisata Global Harus Berdampak Lokal
Hari kedua, Irman bertemu Kapolres Mentawai AKBP Rory Ratno. Dalam dialognya, dia mendukung gagasan pembentukan Polisi Pariwisata demi menjamin keamanan dan kenyamanan wisatawan.
Mentawai, sebagai salah satu destinasi surfing kelas dunia, menurut Irman, harus punya perlindungan maksimal agar potensi ekonominya benar-benar bisa dioptimalkan.
Sorenya, dia mengunjungi resort lokal di Sipora Selatan, dan berdiskusi langsung dengan warga yang mengelola pariwisata berbasis komunitas. Ia menegaskan, wisata global harus berdampak lokal.
“Nilai ekonomi dari pariwisata harus kembali ke masyarakat. Kita tidak ingin Mentawai hanya jadi tempat investor besar meraup untung, tapi rakyatnya tetap jadi penonton,” ujar Irman tegas.
Baca Juga: Pelajar Korban Terseret Ombak di Pantai Padang Ditemukan Meninggal Dunia 100 Meter dari LKP
Di Desa Bosua, ia menyampaikan komitmennya untuk mendatangkan “tsunami investor” dalam mendukung Iven Surfing Internasional Mentawai 2026. “Kalau Hawaii bisa hidup dari surfing, kenapa Mentawai tidak? Dunia harus tahu, Mentawai itu lebih dari siap,” katanya bersemangat.
Kesemptan itu, Irman Gusman juga berharap resort yang dikelola masyarakat lokal dapat terus dikembangkan dengan dukungan pemerintah dan pihak terkait agar memberikan nilai tambah ekonomi optimal bagi warga.
“Kita ingin agar nilai ekonomi sektor pariwisata ini semaksimal mungkin dinikmati pengusaha dan masyarakat lokal. Sekarang sudah mulai muncul beberapa pengusaha di kampung yang membangun resort dengan kualitas cukup baik,” ujarnya.
Sementara itu, Rinto menyampaikan, pemerintah daerah terus mendorong agar sektor pariwisata mampu mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat Mentawai.
“Kami mendorong setiap resort juga menjual souvenir khas Mentawai, memperkuat ikon daerah dengan membeli produk UMKM kreatif Mentawai seperti merchandise dan kerajinan lokal,” katanya.
Salah seorang pelaku usaha lokal, Bofraydi, pemilik Lances Left Surf Camp menyampaikan, pihaknya berkomitmen menghadirkan pelayanan terbaik agar wisatawan betah dan terus datang kembali. Resort miliknya baru beroperasi setelah proses pembangunan selama tiga tahun.
Bandara dan Sekolah, Dua Simbol Harapan
Hari ketiga, Irman meninjau kondisi Bandara Rokot Sipora, satu-satunya pintu udara ke Mentawai. Dia berkomitmen siap mengawal upaya peningkatan fasilitas bandara, agar bisa menampung penerbangan reguler dan wisatawan asing.
Kunjungannya ditutup dengan sesi inspiratif bersama ratusan siswa SMAN 2 Sipora. Di hadapan generasi muda Mentawai, Irman berbagi lima kunci sukses: otak, mimpi, semangat, percaya diri, dan doa.
“Jangan anggap kami di Mentawai tidak bisa bersaing. Dua puluh tahun ke depan, kalianlah pemimpin negeri ini. Semua berawal dari mimpi dan keyakinan,” ujar Irman, yang juga menyerahkan bantuan Rp 15 juta untuk kegiatan pendidikan dan keagamaan sekolah.
Irman Membawa Energi Baru
Kehadiran Irman memberi energi baru bagi dunia pendidikan di Mentawai. “Kami merasa tidak sendiri. Kami punya sahabat yang melihat Mentawai sebagai masa depan, bukan hanya sebagai pinggiran,” katanya.
Reses kali ini bukan hanya agenda kedinasan seorang senator. Dari Muaro Padang hingga Bandara Rokot, dari kolam lele hingga kelas sekolah, Irman Gusman menjelajahi Mentawai bukan sebagai pejabat yang meninjau, tapi sebagai tokoh nasional yang bersedia mendengar, hadir, dan memperjuangkan.
“Mentawai bukan hanya indah, tapi punya masa depan besar. Tapi masa depan itu butuh kita bangun bersama. Kita harus percaya, dan terus bekerja,” tutup Irman Gusman. (r)
Editor : Novitri Selvia