Informasi mengenai insiden kapal mati mesin ini pertama kali diterima oleh Kantor SAR Mentawai sekitar pukul 16.20 WIB. Pelapor, Sammy Firth, yang merupakan rekan dari korban dan berada dalam rombongan yang sama, memberikan keterangan awal.
Kapal tersebut terdeteksi mengalami gangguan teknis pada mesin di titik koordinat geografis 00°49'7.80" LS – 98°45'48.00" BT. Lokasi tersebut diperkirakan berada sejauh 95,41 nautical mile dengan arah 325 derajat dari Dermaga Tuapejat.
Sebelum informasi resmi masuk, sinyal distress dari kapal sudah terdeteksi lebih dulu, tepatnya pada pukul 15.37 WIB, yang kemudian berhasil dikonfirmasi sebagai kondisi mati mesin.
Merujuk pada tingkat urgensi situasi, Basarnas Mentawai segera mengambil tindakan. Dua tim SAR segera dikerahkan untuk menuju lokasi kejadian. Tim tersebut terdiri dari Unit Siaga SAR Siberut menggunakan Kapal Cepat RIB 03 dan satu unit Kapal Negara KN SAR Ramawijaya 240 milik Kansar Mentawai yang diberangkatkan dari Dermaga Tuapejat.
Dalam operasi ini, berbagai unsur dan alat utama (alut) yang dikerahkan meliputi KN SAR Ramawijaya 240 Mentawai, RIB 03 Mentawai, mobil penyelamat Rescue D-Max, serta dilengkapi dengan alat komunikasi, perlengkapan evakuasi, dan perlengkapan medis.
Cuaca di sekitar perairan Selat Siberut saat operasi berlangsung dilaporkan cerah berawan, dengan kecepatan angin terukur antara 3 hingga 5 knots dan tinggi gelombang diperkirakan mencapai 1,5 hingga 2,5 meter.
Berdasarkan laporan awal, enam orang berada di kapal yang mengalami kendala mesin, mencakup dua Warga Negara Indonesia (WNI) dan empat Warga Negara Asing (WNA). Keenam identitas yang dilaporkan adalah: Firman (Laki-laki/WNI), Siefu (Laki-laki/WNI), Sofia Martine (Perempuan/WNA), Grace Marie (Perempuan/WNA), Prow Josep Edward (Laki-laki/WNA), dan Emil Tobias (Laki-laki/WNA).
Terdapat perkembangan signifikan setelah tim SAR bergerak. Pada pukul 18.48 WIB, Komandan Kansar Mentawai berhasil menjalin komunikasi dengan nakhoda kapal yang mati mesin tersebut. Nakhoda mengonfirmasi bahwa mereka telah mendapatkan pertolongan. Sebuah kapal nelayan yang kebetulan melintas di sekitar perairan Siberut Utara telah menarik kapal mereka menuju Dermaga Hibala.
Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Mentawai menyatakan bahwa meskipun kapal telah ditarik, operasi ini masih terus berlangsung untuk memastikan seluruh penumpang berada dalam kondisi aman dan dievakuasi sesuai prosedur.
“Kami telah menurunkan unsur gabungan dari Unit Siaga SAR Siberut dan Kansar Mentawai untuk memastikan seluruh korban dalam keadaan aman dan segera dievakuasi,” tegas Kepala Kantor SAR Mentawai, Minggu (26/10/2025) merujuk pada pentingnya keselamatan seluruh penumpang.
Terkait kejadian ini, Basarnas Mentawai turut mengimbau kepada seluruh masyarakat dan pengguna jasa pelayaran agar selalu memprioritaskan keselamatan. Hal-hal seperti kondisi teknis kapal, ketersediaan peralatan keselamatan, dan pemantauan akurat terhadap prakiraan cuaca, wajib menjadi perhatian utama sebelum memutuskan untuk berlayar di perairan Mentawai. (cc1)
Editor : Adetio Purtama