Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Gaya Hidup Gen Z Berubah, Tekanan Ekonomi Bikin Lebih Hemat

Riyadhatul Khalbi • Selasa, 14 April 2026 | 10:05 WIB
Sejumlah anak muda terlihat mengerjakan tugas di salah satu kafe di Kota Padang. (RIYADH/PADEK)
Sejumlah anak muda terlihat mengerjakan tugas di salah satu kafe di Kota Padang. (RIYADH/PADEK)

PADEK.JAWAPOS.COMKetidakstabilan ekonomi global yang dipicu dinamika geopolitik dunia mulai dirasakan hingga ke tingkat lokal, termasuk oleh generasi muda di Padang. Salah satu pemicunya adalah terganggunya pasokan energi dunia akibat penutupan Selat Hormuz, yang berdampak pada kenaikan harga berbagai kebutuhan.

Di tengah situasi ini, gaya hidup Generasi Z yang dikenal dengan konsep “soft life”—fleksibel, dekat dengan teknologi, serta peduli kesehatan mental—ikut mengalami penyesuaian. Kebiasaan seperti nongkrong di kafe, healing, hingga impulsive buying kini mulai dikurangi.

Irfan Roesli (24), seorang fresh graduate yang tengah menjalani program magang di Kota Padang, mengaku mulai merasakan dampak langsung dari kondisi ekonomi saat ini. Ia menyebut harga kebutuhan yang terus naik membuat pengeluarannya membengkak.

Baca Juga: Atlet Renang Kota Solok Borong 36 Medali di Kejurda Sumbar 2026

“Sekarang sudah mulai mengurangi nongkrong, pilih tempat yang lebih terjangkau atau bahkan ke tempat gratis seperti fasilitas publik,” ujarnya.

Irfan juga mengaku kondisi ekonomi yang tidak stabil menimbulkan kecemasan tersendiri, terutama karena ia belum memiliki pendapatan tetap. Hal ini mendorongnya untuk lebih hemat dan mulai menabung sebagai persiapan masa depan.

Hal serupa diungkapkan Ismatul Sabillah (22), yang juga tengah menjalani masa magang. Ia kini lebih selektif dalam mengatur pengeluaran dan mengurangi frekuensi nongkrong.

Baca Juga: Penguatan Literasi Sumbar Memerlukan Semua Pihak

“Dulu bisa tiga kali seminggu nongkrong, sekarang cukup sekali saja, itu pun pilih yang lebih murah atau di rumah teman,” katanya.

Sementara itu, Sisri Khusaini (22), mahasiswi Sastra Inggris Universitas Andalas, menilai bahwa nongkrong dan healing masih menjadi bagian dari gaya hidup Gen Z, namun harus disesuaikan dengan kondisi keuangan.

Ia mengaku kini lebih menahan diri dari kebiasaan belanja impulsif dan mulai memprioritaskan kebutuhan dibanding keinginan. “Sekarang apa-apa mahal, jadi harus pintar mengatur uang. Nongkrong juga sudah jarang, lebih sering di rumah,” ungkapnya.

Baca Juga: Ular Piton Mangsa Ternak Warga

Senada dengan itu, Rima Fauza (20), mahasiswi Ekonomi Unand, menilai kebiasaan konsumtif tanpa penghasilan tetap justru berisiko. Ia memilih untuk lebih selektif dalam membelanjakan uang dan menunda pembelian yang tidak mendesak.

Menurutnya, kondisi ekonomi yang tidak stabil juga berpotensi meningkatkan kecemasan sosial, termasuk kekhawatiran terhadap meningkatnya angka kriminalitas akibat tekanan ekonomi.

Fenomena ini menunjukkan bahwa Generasi Z mulai beradaptasi dengan situasi global yang tidak menentu. Meski gaya hidup “soft life” masih dijalani, kini mulai diimbangi dengan kesadaran finansial yang lebih matang.

Baca Juga: Dua Pemuda Ditangkap Polres Solok, Diduga Edarkan Sabu di Gunung Talang

Perubahan perilaku ini menjadi sinyal bahwa generasi muda tidak hanya responsif terhadap tren, tetapi juga adaptif terhadap tekanan ekonomi global yang berdampak hingga ke kehidupan sehari-hari. (*)

Editor : Adetio Purtama
#hemat #gaya hidup #Gen Z #tekanan ekonomi