PADEK.JAWAPOS.COM--Dinas Pertanian Kota Padang memastikan fenomena yang ramai disebut sebagai “Godzilla El Nino” belum memberikan dampak signifikan terhadap sektor pertanian di wilayah Sumatera Barat, khususnya di Kota Padang. Hal ini ditandai dengan kondisi curah hujan yang masih relatif tinggi serta belum munculnya gejala kekeringan ekstrem di lapangan.
Kepala Dinas Pertanian Kota Padang, Yoice Yulianti, menjelaskan bahwa berdasarkan informasi dari BMKG, wilayah Sumatera Barat tidak termasuk daerah yang terdampak kuat oleh fenomena El Nino ekstrem.
“Untuk wilayah Sumbar, termasuk Kota Padang, sampai saat ini belum merasakan musim kering. Kondisi sekarang masih hujan, dan sesuai informasi BMKG, Sumbar tidak terlalu terdampak,” ujarnya, Senin (20/4).
Meski demikian, ia mengungkapkan bahwa sektor pertanian masih menghadapi tantangan lain, yakni dampak pascabencana banjir dan longsor yang sebelumnya terjadi. Bencana tersebut mengakibatkan kerusakan pada sejumlah infrastruktur irigasi, baik yang berada di bawah kewenangan pemerintah kota maupun provinsi.
Beberapa bendungan penting yang terdampak di antaranya Bendungan Gunung Nago yang mengairi sekitar 2.100 hektare sawah serta Bendungan Kototuo dengan cakupan sekitar 1.200 hektare lahan pertanian. Selain itu, jaringan irigasi milik Pemerintah Kota Padang juga mengalami kerusakan.
Namun, berkat bantuan dari Balai Wilayah Sungai V dan PSDA Provinsi Sumbar, sejumlah intake bendungan kini sudah kembali berfungsi meskipun masih dalam tahap penanganan sementara.
Baca Juga: Pasaman Pacu 1000 Lapangan Pekerjaan
“Sebagian besar lahan sudah mulai kembali berproduksi, meskipun perbaikan permanen masih membutuhkan waktu melalui tahapan rehabilitasi dan rekonstruksi,” jelasnya.
Yoice menambahkan, masih terdapat beberapa wilayah yang belum mendapatkan pasokan air secara optimal, terutama pada jaringan Irigasi Gunung Nago bagian kanan. Kondisi ini berdampak pada lahan pertanian di Kelurahan Koronggadang, sebagian wilayah Sungaisapih, Gunungsarik, hingga Kecamatan Nanggalo.
Sebagai solusi sementara, petani di sejumlah wilayah difasilitasi untuk beralih ke komoditas lain yang lebih adaptif terhadap keterbatasan air, seperti sayuran dan jagung pakan ternak. Sementara itu, curah hujan yang masih terjadi turut membantu petani dalam mengolah lahan dan kembali menanam padi di beberapa kawasan.
Baca Juga: Ramp Check Pesawat dan Koordinasi Internasional Telah Siap
Selain itu, Dinas Pertanian juga mengimbau petani untuk lebih efisien dalam penggunaan air irigasi. Pola pengairan disarankan tidak berlebihan agar dapat didistribusikan secara merata ke lahan lainnya.
“Pemakaian air cukup macak-macak saja, tidak perlu tergenang, agar air bisa dibagi dengan lahan sawah di sekitarnya,” ujarnya.
Di sisi lain, petani juga didorong untuk mulai menggunakan pupuk organik guna memperbaiki struktur tanah serta pestisida nabati sebagai alternatif yang lebih ramah lingkungan.
Sementara itu, Ofana Tri Wibowo dari Stasiun Klimatologi Sumatera Barat memberikan klarifikasi terkait istilah “Godzilla El Nino” yang beredar di masyarakat. Ia menegaskan bahwa istilah tersebut tidak digunakan dalam kajian ilmiah.
Baca Juga: BMKG Peringatkan Hujan Lebat di Sumbar 21 April 2026, Suhu Bukittinggi Capai 18 Derajat
“BMKG menggunakan klasifikasi El Nino berdasarkan tingkat kekuatannya, yaitu lemah, sedang, kuat, dan sangat kuat,” jelasnya.
Berdasarkan prediksi BMKG, pada periode Mei hingga Juli 2026 diperkirakan akan terjadi El Nino dengan kategori lemah hingga sedang di Indonesia, termasuk Sumatera Barat. Meski demikian, terdapat peluang sekitar 20 persen fenomena tersebut berkembang menjadi sangat kuat.
Ia menjelaskan bahwa dampak El Nino, terutama pada kategori kuat, berpotensi menurunkan curah hujan yang dapat memicu kekeringan, kebakaran hutan, serta berkurangnya ketersediaan air, khususnya saat memasuki musim kemarau.
Baca Juga: Iran Siap Serang Balik setelah Kapal Kargo Disita AS
“Perlu disiapkan penyesuaian pola tanam dan pemilihan komoditas yang tidak membutuhkan banyak air,” ujarnya.
Selain sektor pertanian, kewaspadaan juga perlu ditingkatkan pada sektor kehutanan karena risiko kebakaran hutan berpotensi meningkat saat kondisi cuaca menjadi lebih kering.
Dengan kondisi saat ini, pemerintah dan petani diharapkan terus bersinergi dalam mengantisipasi perubahan iklim ke depan, sehingga sektor pertanian tetap produktif dan mampu menghadapi berbagai tantangan yang ada. (yud)
Editor : Adetio Purtama