Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Cuaca Panas Melanda Padang, Waspada Dehidrasi hingga Heat Stroke

Suyudi Adri Pratama • Senin, 8 Juni 2026 | 08:07 WIB
Ilustrasi. (REZA/PADEK)
Ilustrasi. (REZA/PADEK)

PADEK.JAWAPOS.COM - Cuaca panas yang melanda Kota Padang dalam beberapa hari terakhir berpotensi meningkatkan berbagai gangguan kesehatan pada masyarakat.

Risiko yang dapat muncul mulai dari dehidrasi, kelelahan akibat panas (heat exhaustion), hingga heat stroke yang merupakan kondisi darurat medis.

Masyarakat diimbau untuk memenuhi kebutuhan cairan tubuh serta membatasi aktivitas di luar ruangan ketika suhu udara berada pada tingkat tertinggi.

Dokter sekaligus Pakar Kesehatan Lingkungan, Dr. Elsa Yuniarti, mengatakan, cuaca panas menyebabkan tubuh mengeluarkan lebih banyak keringat sebagai mekanisme alami untuk menjaga suhu tubuh tetap normal. Kondisi tersebut mengakibatkan cairan dan elektrolit tubuh lebih cepat hilang.

Menurutnya, salah satu kesalahan yang sering dilakukan masyarakat adalah menunggu hingga merasa haus untuk mulai minum.

“Jangan menunggu haus untuk minum. Pastikan kebutuhan cairan tubuh terpenuhi secara teratur agar terhindar dari dehidrasi,” ujar Elsa, Sabtu (6/6).

Ia menjelaskan, kebutuhan cairan orang dewasa umumnya berkisar antara 2 hingga 2,5 liter atau sekitar delapan hingga sepuluh gelas per hari. Namun, saat cuaca panas atau ketika melakukan aktivitas fisik berat di luar ruangan, kebutuhan cairan dapat meningkat menjadi 3 hingga 4 liter per hari.

Selain memperhatikan jumlah air yang dikonsumsi, masyarakat juga dapat memantau kondisi hidrasi melalui warna urine. Menurut Elsa, urine berwarna kuning muda menandakan tubuh terhidrasi dengan baik. Sebaliknya, warna urine yang lebih pekat menjadi indikasi bahwa tubuh memerlukan tambahan cairan.

Elsa menambahkan, terdapat beberapa kelompok masyarakat yang perlu mendapatkan perhatian khusus selama cuaca panas berlangsung. Mereka adalah anak-anak, lanjut usia (lansia), ibu hamil, pekerja lapangan, serta penderita penyakit kronis.

“Kelompok tersebut lebih rentan mengalami gangguan kesehatan akibat suhu lingkungan yang tinggi sehingga perlu lebih waspada terhadap tanda-tanda dehidrasi maupun gangguan akibat panas,” katanya.

Terkait aktivitas luar ruangan, Elsa menyarankan masyarakat untuk menghindari aktivitas fisik berat pada pukul 10.00 hingga 16.00 WIB. Pada rentang waktu tersebut, paparan sinar matahari dan suhu udara umumnya berada pada titik tertinggi.

Selain suhu udara, masyarakat juga diminta memperhatikan Indeks Ultraviolet (UV) harian. Elsa menyebutkan bahwa di sejumlah wilayah Indonesia, indeks UV pada siang hari dapat mencapai kategori tinggi hingga sangat tinggi.

Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan risiko kerusakan kulit dan mata akibat paparan sinar ultraviolet secara berlebihan.

Apabila aktivitas di luar ruangan tidak dapat dihindari, masyarakat dianjurkan menggunakan pakaian yang nyaman dan mudah menyerap keringat, memakai topi atau payung, menggunakan kacamata pelindung UV, mengoleskan tabir surya, serta beristirahat secara berkala di tempat yang teduh.

Di sisi lain, Elsa menjelaskan bahwa konsumsi minuman dingin atau es saat cuaca panas pada dasarnya tidak menjadi masalah, selama air dan es yang digunakan berasal dari sumber yang bersih dan higienis.

“Yang perlu diwaspadai bukan suhu dinginnya, tetapi keamanan dan higienitas air yang digunakan untuk membuat es. Es yang berasal dari air tercemar dapat meningkatkan risiko penyakit saluran pencernaan seperti diare, tifoid, disentri hingga gastroenteritis,” jelasnya.

Ia mengungkapkan sejumlah gangguan kesehatan yang berpotensi meningkat selama cuaca panas, antara lain dehidrasi, heat exhaustion, heat stroke, kram otot, sakit kepala, gangguan saluran pencernaan, hingga memburuknya penyakit kronis seperti hipertensi, penyakit jantung, dan gangguan pernapasan.

Selain itu, Elsa mengingatkan bahwa dehidrasi yang terjadi secara berulang dan berkepanjangan dapat berdampak terhadap fungsi ginjal.

“Risiko pembentukan batu ginjal, infeksi saluran kemih, hingga gangguan fungsi ginjal dapat meningkat apabila tubuh sering mengalami kekurangan cairan,” ujarnya.

Masyarakat juga diminta segera mencari pertolongan medis apabila mengalami gejala seperti lemas berat, pusing hebat, suhu tubuh tinggi, kebingungan, tidak mampu berkeringat meskipun berada di lingkungan panas, atau mengalami penurunan kesadaran.

Menurut Elsa, kondisi tersebut dapat mengarah pada heat stroke, yaitu keadaan darurat medis yang membutuhkan penanganan segera.

Ia mengimbau masyarakat untuk menerapkan pola hidup sehat selama cuaca panas berlangsung dengan memenuhi kebutuhan cairan tubuh, membatasi paparan panas berlebihan, menggunakan pelindung diri saat berada di luar ruangan, serta memastikan makanan dan minuman yang dikonsumsi berasal dari sumber yang aman dan higienis.

“Dengan menjaga hidrasi dan mengurangi paparan panas berlebih, berbagai risiko kesehatan akibat cuaca panas dapat dicegah. Pastikan sumber air dan es yang dikonsumsi aman serta segera beristirahat atau mencari pertolongan medis jika muncul gejala akibat paparan panas,” tutup Elsa. (yud)

Editor : Adriyanto Syafril
#dehidrasi saat cuaca panas #tips kesehatan cuaca panas #dampak cuaca panas bagi kesehatan #heat stroke #cuaca panas Padang